Oleh: Hayat Abdul Latief
Tulisan ini sebenarnya merupakan jawaban dari sebuah pertanyaan: Mengapa lafdzul jalalah (Allah) menggunakan kata ganti tunggal laki-laki (Mufrad Mudzakar)? Apakah dengan demikian Allah berjenis laki-laki?
Kita menjawab pertanyaan ini dengan 2 pembahasan yang menghantarkan kepada keyakinan bahwa Allah itu tunggal bukan 2 atau banyak dan Allah Meskipun menggunakan kata ganti Mudzakar bukan berarti Allah sama dengan makhluk, berjenis laki-laki.
*Pertama,* Lafadz Allah adalah bentuk Mufrad (tunggal), karena:
1. Lafadz Allah adalah tunggal dan tidak punya bentuk tatsniyah dan jama’nya. Tidak dibenarkan dirubah ke dalam bentuk tatsniyah dan jama’. Berbeda dengan kata lain, ada tatsniyah dan jama’nya. Seperti:
محمد – محمدان – محمدون
2. Lafadz Allah bukanlah lafadz tatsniyah atau jamak (plural).
Jadi jelas bahwasanya lafadz (Jalaalah) Allah adalah bentuk tunggal.
*Kedua,* Lafadz Jalaalah (Allah) adalah bentuk Mudzakar bukan Muannats. Dilihat dari jenisnya, kata dalam bahasa Arab ada yang muannats (perempuan) ada juga yang mudzakkar (laki-laki)
Kata dalam bahasa Arab dikategorikan sebagai muannats dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Al-Qur’an mengkategorikannya sebagai muannats. Seperti kata:
شمس = matahari
أرض = bumi
دار = Negeri
2. Berjenis kelamin perempuan:
حامل = (Perempuan) hamil
مرضع = (Perempuan) menyusui)
حائض = perempuan haidh
Meskipun tanpa diakhiri ta marbhuthah, kata-kata diatas menunjukkan perempuan, karena yang hamil menyusui dan haid pasti perempuan.
3. Berakhiran dengan huruf ta marbutoh seperti:
مدرسة = Sekolah
قرية = Desa/Negeri
ملة = Jalan hidup
4. Kata yang berakhiran dengan Alif Maqshuruh dan Alif mamdudah seperti:
سلمى , زهراء
5. Anggota tubuh yang berpasangan seperti:
عين = Mata
يد = Tangan
رجل = Kaki
6. Jama’ (plural). Ada kaidah bahasa Arab bahwa setiap yang banyak maka dianggap perempuan.
كل جمع مؤنث
“Setiap yang plural adalah perempuan.”
Sedangkan kata ditegorikan sebagai Muzakkar (Male) apabila:
1. Al-Qur’an mengelompokkannya dalam jenis Muzakkar.
2. Tidak berakhiran dengan ta marbutoh.
4. Bukan anggota badan yang berpasangan.
5. Tidak diakhiri dengan alif maqshurah dan Alif mamdudah.
6. Bukan jama’
Jadi, Lafdzul Jalaalah (Allah) adalah bentuk Mudzakar, karena bukan lafadz yang dikategorikan perempuan dalam Al-Qur’an, bukan muannats, bukan diakhiri oleh ta marbhuthah, bukan lafadz yang berakhiran dengan Alif Maqshuruh dan Alif mamdudah, bukan seperti anggota tubuh yang berpasangan dan bukan bentuk jama’.
*Pertanyaan:* “Mengapa Lafadz Jalaalah (Allah) bentuk Mudzakar? Apakah Allah subhanahu wata’ala dikategorikan sebagai jenis Mudzakar (laki-laki)?”
*Jawaban:* “Di dalam tradisi Islam apabila disebutkan Allah selalu diakhiri dengan subhanahu wata’ala, artinya Allah suci dari apa yang digambarkan oleh orang-orang musyrik atau penganut politeisme.”
Al-Qur’an menyebutkan bahwa makhluk itu berpasang-pasangan, baik manusia, binatang, Jin, tumbuhan atau bahkan benda mati ada jenis jantan dan betinanya, ada positif dan negatifnya (seperti arus listrik). Sungguh benar Firman Allah subhanahu wata’ala:
سُبۡحٰنَ الَّذِىۡ خَلَقَ الۡاَزۡوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنۡۢبِتُ الۡاَرۡضُ وَمِنۡ اَنۡفُسِهِمۡ وَمِمَّا لَا يَعۡلَمُوۡنَ
“Maha suci (Allah) yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri, maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.” (QS. Yasin: 36)
Menurut ayat ini, makhluk yang diciptakan Allah secara berpasangan (jantan dan betina – positif dan negatif) ternyata tidak hanya manusia, tetapi juga seluruh jenis makhluk. Hewan ada yang jantan dan betina, tumbuhan juga ada jantan dan betina, sampai kepada benda mati sekalipun.
Dalam dunia ilmu pengetahuan, setiap makhluk yang diciptakan berpasangan ini baru terbongkar pada abad ke-19. Seorang ilmuwan asal Inggris, Paul Dirac, dalam penelitiannya berhasil menemukan materi yang diciptakan secara berpasangan. Penemuannya yang dinamakan “Parite” ini menyebutkan bahwa seluruh benda yang ada di alam semesta sampai partikel terkecil yang tak terlihat oleh kasat mata, ternyata mempunyai pasangannya. Dengan hasil dari studinya ini, ia memperoleh nobel di bidang fisika pada 1933. Padahal, ketika diturunkannya Al-Qur’an 14 abad yang lalu sudah menyebutkan hal tersebut.
Semua makhluk berpasang-pasangan, kecuali Allah (Sang Khaliq) itu sendiri. Manusia ada yang berjenis kelamin laki-laki perempuan bahkan ada yang khuntsa (banci), Namun Allah tidak akan sama dengan makhluk-Nya. Al-Qur’an menyebutkan:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (سورة الشورى: 11)
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. Asy-Syuro: 11)
Meskipun Al-Qur’an menyebut lafadz Allah adalah Mudzakar (laki-laki), tetapi pada hakekatnya bukan laki-laki dalam arti gender, karena Allah tidak sama dengan makhlukNya, tetapi sebagai penegasan bahwa Dia adalah pemilik kesempurnaan, ketangguhan, kewibawaan, keagungan, kehebatan dan kemuliaan. Karena sifat-sifat di atas biasanya dimiliki oleh laki-laki, meskipun ada pula laki-laki yang lemah, culas dan pengecut, sebaliknya ada pula wanita yang tangguh, fighter dan memegang teguh prinsip kejujuran.
Sedangkan kata wanita/perempuan biasanya digunakan sebagai bentuk kelemahan, pengecutan dan tidak gentleman, meskipun pada kenyataannya tidak semua wanita lemah, pengecut dan culas. Laki-laki yang lemah, pengecut, tidak gentleman dan beraninya keroyokan disebut perempuan, banci atau bencong.
*Kesimpulan:*
*Satu,* Allah Maha Esa, bukan dua, bukan pula berjumlah tak terhingga.
*Dua,* makhluk yang diciptakan Allah subhanahu wata’ala secara berpasangan (jantan dan betina – positif dan negatif), ternyata tidak hanya manusia, tetapi juga seluruh jenis makhluk. Hewan ada yang jantan dan betina, tumbuhan juga ada jantan dan betina, sampai kepada benda mati sekalipun.
*Tiga,* Al-Qur’an menyebut lafadz Allah adalah tunggal laki-laki tetapi pada hakekatnya bukan laki-laki dalam arti gender, karena Allah tidak sama dengan makhlukNya, tetapi sebagai penegasan bahwa Dia adalah pemilik kesempurnaan, ketangguhan, kewibawaan, keagungan, kehebatan dan kemuliaan. Wallahu a’lam.
Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat.
*(Penulis adalah Direktur Korp Da’i An-Nashihah dan Mahasiswa S2 Zawiyah Jakarta)*

