Guru dan Murid, Kiyai dan Umat, Harusnya Bersahabat, Sebagaimana Rasulullah SAW Memperlakukan Para Sahabat
Oleh: Hayat Abdul Latief
Allah SWT berfirman,
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
“Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At-Taubah: 128)
Rasulullah SAW bersabda,
إِنَّمَا بُعِثْتُ مُعَلِّمًا
“Sesungguhnya aku diutus sebagai seorang pendidik.” (HR. Ibnu Majah)
…….
Dari ayat dan hadits di atas kita mengetahui, bahwa Rasulullah SAW bukan hanya seorang guru bagi para sahabatnya, tetapi juga seorang sahabat yang penuh kepedulian dan kasih sayang. Beliau memahami kesulitan mereka, mendidik dengan kelembutan, serta selalu berusaha agar mereka memperoleh kebaikan – dan tugas utama Rasulullah SAW adalah mengajarkan ilmu dengan penuh kebijaksanaan dan cinta.
Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA berkata,
مَن عَلَّمَنِي حَرْفًا صِرْتُ لَهُ عَبْدًا
“Barang siapa yang mengajarkan aku satu huruf, maka aku menjadi hambanya.”
Ini menunjukkan betapa mulianya kedudukan seorang guru, sehingga murid harus menghormatinya dengan penuh adab dan ketulusan. Sebaliknya, guru pun harus memperlakukan muridnya dengan kasih sayang, sebagaimana Rasulullah SAW memperlakukan para sahabatnya.
Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin berkata,
المعلم ينبغي أن يكون رحيما بتلميذه، مشفقا عليه، كالأب الشفيق على ولده
“Seorang guru seharusnya memiliki kasih sayang kepada muridnya, memperhatikannya sebagaimana seorang ayah yang penyayang terhadap anaknya.”
Dari perkataan ini, jelas bahwa hubungan guru dan murid haruslah diwarnai dengan cinta dan perhatian layaknya hubungan ayah dan anak. Guru bukan hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga membimbing dengan penuh kelembutan.
…….
Hubungan Rasulullah SAW dengan para sahabatnya adalah hubungan yang penuh kasih sayang, kepercayaan, dan bimbingan. Beliau tidak hanya berperan sebagai nabi dan pemimpin, tetapi juga sebagai sahabat, pendidik, dan pelindung bagi mereka. Berikut adalah beberapa aspek utama dari hubungan tersebut:
Satu, kasih sayang dan perhatian. Rasulullah SAW selalu menunjukkan kasih sayang kepada para sahabatnya. Beliau memahami kondisi mereka, membantu dalam kesulitan, dan mendoakan mereka.
Dua, bersikap rendah hati. Rasulullah SAW tidak pernah merasa lebih tinggi dari para sahabatnya, meskipun beliau adalah utusan Allah. Beliau duduk, makan, dan tidur bersama mereka tanpa membeda-bedakan status sosial. Dalam sebuah hadis disebutkan,
إِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ، آكُلُ كَمَا يَأْكُلُ الْعَبْدُ، وَأَجْلِسُ كَمَا يَجْلِسُ الْعَبْدُ
“Aku hanyalah seorang hamba. Aku makan sebagaimana seorang hamba makan, dan aku duduk sebagaimana seorang hamba duduk.” (HR. Abu Ya’la)
Tiga, mendidik dengan hikmah. Sebagai seorang guru, Rasulullah SAW membimbing para sahabat dengan kebijaksanaan dan kesabaran. Beliau mengajarkan agama dengan contoh nyata, bukan sekadar teori.
Empat, menjalin persaudaraan. Rasulullah SAW mempersaudarakan para sahabat, seperti dalam peristiwa Muhajirin dan Anshar, agar mereka saling membantu dan menguatkan satu sama lain.
Lima, menghargai pendapat sahabat. Dalam berbagai urusan, Rasulullah SAW sering bermusyawarah dengan para sahabatnya. Misalnya, dalam Perang Badar dan Perang Khandaq, beliau menerima saran sahabat seperti Salman Al-Farisi dan Hubab bin Mundzir.
……..
Seorang guru harus meneladani sikap Rasulullah SAW dalam mengajar, bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kelembutan dan kasih sayang. Dalam Islam, hubungan antara guru dan murid, serta antara kiyai dan umat, bukan sekadar hubungan transfer ilmu semata, melainkan juga ikatan hati yang penuh dengan kasih sayang dan penghormatan. Rasulullah SAW memberikan teladan terbaik dalam membangun hubungan dengan para sahabatnya, yang bukan hanya sebagai murid tetapi juga sahabat sejati dalam perjuangan Islam.
Dari semua ini, dapat disimpulkan bahwa hubungan Rasulullah SAW dengan para sahabat adalah contoh ideal bagi guru dan murid, serta pemimpin dan umatnya. Wallahu a’lam.
Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat!
(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Alumni Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)
