*Jangan Hiraukan Orang Jahil!*

Oleh Hayat Abdul Latief

Allah SWT berfirman:

وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلٰمًا

“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, ‘Salam’ (selamat tinggal dengan cara yang baik).” (QS. Al-Furqan: 63)

Rasulullah SAW bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الغَضَبِ

“Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

……..

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering bertemu dengan orang-orang yang mudah tersulut emosinya, mudah marah, dan cepat tersinggung. Mereka sering bereaksi berlebihan terhadap hal-hal kecil dan sulit untuk diajak berdiskusi dengan kepala dingin. Menghadapi orang seperti ini bisa menguras energi dan emosi jika kita tidak menyikapinya dengan bijak. Oleh karena itu, Islam mengajarkan kita untuk bersikap sabar, menghindari perdebatan yang tidak bermanfaat, dan tidak meladeni orang-orang yang hanya mencari pertengkaran.

Allah SWT telah memberikan petunjuk dalam Al-Qur’an tentang bagaimana sikap seorang Muslim dalam menghadapi orang-orang yang bertindak kasar atau emosional. Jelasnya, orang beriman seharusnya tidak terpancing oleh ucapan orang-orang bodoh yang hanya ingin menimbulkan permusuhan. Sebaliknya, mereka dianjurkan untuk bersikap tenang dan menjauh dari perdebatan yang tidak ada manfaatnya.

Rasulullah SAW juga memberikan teladan dalam menghadapi orang-orang yang emosional. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda:

لَا تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ

“Jangan marah, maka bagimu surga.” (HR. Thabrani)

Pesan ini menunjukkan bahwa mengendalikan amarah adalah bagian dari akhlak mulia yang dapat mengantarkan seseorang ke dalam surga. Marah adalah sifat yang dapat merusak hubungan sosial dan sering kali menimbulkan penyesalan. Oleh karena itu, Islam menganjurkan kita untuk bersikap sabar dan menahan diri. Orang yang mudah terpancing amarahnya sebenarnya adalah orang yang lemah, karena ia tidak mampu mengontrol dirinya sendiri.

Para ulama juga menekankan pentingnya menghindari perdebatan yang sia-sia. Imam Asy-Syafi’i pernah berkata:

مَا نَاظَرْتُ أَحَدًا إِلَّا وَدِدْتُ أَنْ يُظْهِرَ اللَّهُ الْحَقَّ عَلَى لِسَانِهِ

“Aku tidak pernah berdebat dengan seseorang kecuali aku berharap agar Allah menampakkan kebenaran melalui lisannya.”

Perkataan ini menunjukkan bahwa tujuan utama dalam berdiskusi adalah mencari kebenaran, bukan sekadar menang dalam perdebatan. Jika lawan bicara kita hanya ingin melampiaskan emosinya dan tidak mencari kebenaran, maka lebih baik kita menghindari perdebatan tersebut.

Dalam kehidupan modern, terutama di media sosial, kita sering menemui orang-orang yang bersumbu pendek. Mereka mudah tersinggung, cepat marah, dan sering kali menyebarkan ujaran kebencian. Sebagai Muslim, kita harus bijak dalam menggunakan media sosial dan tidak terlibat dalam perdebatan yang tidak produktif. Jika kita menemui orang yang suka mencari masalah, lebih baik kita bersikap tenang dan tidak membuang energi untuk meladeninya.

Allah SWT juga berfirman:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

“Jadilah pemaaf, perintahkanlah yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 199)

Berpaling dari orang-orang yang tidak mau menerima kebenaran, menurut ayat ini, adalah sikap yang lebih baik daripada terus meladeni mereka. Dengan bersikap demikian, kita dapat menjaga hati tetap tenang dan menghindari konflik yang tidak perlu.

Alhasil, meladeni orang yang bersumbu pendek hanya akan membuang waktu dan energi kita. Islam mengajarkan kita untuk bersikap tenang, menghindari perdebatan yang tidak bermanfaat, serta menjaga hati dari sifat amarah. Dengan bersikap sabar dan bijaksana, kita akan lebih mudah menjalani kehidupan dengan damai dan mendapatkan ridha Allah SWT. Wallahu a’lam.

Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat!

*(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Alumni Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)*

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *