Oleh: Hayat Abdul Latief

 

Saya memilih kata jannah ketimbang kata surga yang berasal swarga dari bahasa Sansekerta.

 

Dalam jannah, kalian hidup tidak akan mati, kalian sehat tidak akan sakit, kalian bahagia tidak akan sengsara dan kalian senang tidak akan susah. maka tema “Kantorku Surgaku”, menjadikan kantor atau tempat bekerja sebagai tempat yang kondusif, memperhatikan sisi humanitas, memperioritaskan kesejahteraan karyawan, tempat saling asah, asih dan asuh, juga sebagai tempat ibadah menuju jannah-Nya.

 

Berkenaan dengan tema ini, setidaknya ada 5 poin sebagai titik tolak bekerja:

 

Pertama, bekerja sebagai wasilah menuju jannahnya. Banyak ayat Al Quran juga hadits Nabi menyebutkan hal tersebut. Secara khusus Al Quran dan Hadits menyebutkan bahwa Daud AS adalah seorang pekerja keras, cerdas dan ikhlas yang tidak mau makan kecuali dari hasil jerih payahnya yakni berprofesi sebagai pembuat baju perang dari besi.

 

Kenapa Allah dan Rasulullah secara khusus menyebut Daud AS? Jawabnya: di samping sebagai nabi yang membimbing umat, beliau juga seorang kepala pemerintahan yang sibuk dengan urusan kesejahteraan rakyatnya. Tidak disalahkan seandainya beliau mengambil gaji untuk ma’isyahnya, tetapi beliau memilih mencukupi kebutuhan hidupnya dengan kerja kerasnya sendiri.

 

Kedua, bekerja sebagai bentuk ibadah. Al Quran menyebutkan, “Katakanlah! Sesungguhnya shalatku, haji/kurbanku, hidup dan matiku untuk Allah Robb semesta alam.” So, semua aktifitas kita pasto bernilai ibadah apabila sesuai dengan tuntunan dan ajaran Islam.

 

Ketiga, bekerja sebagai bentuk syukur kepada Allah dengan menggunakan energi dan potensi agar menjadi manusia yang memberikan manfaat. Bukankah menurut Muhammad SAW kekasih kita, “Manusia terbaik adalah yang paling banyak memberikan manfaat kepada yamg lain.”

 

Keempat, aktifitas kesibukan kerja jangan sampai membuat kita lalai sebagai hamba Allah yakni meninggalkan ibadah dan lalai sebagai umat Rasulullah yakni meninggalkan dakwah, mengajak kepada kebaikan, menyuruh yang ma’ruf dan melarang yang munkar.

 

Kelima, harus kita sadari bahwa perjalanan kehidupan kita, menurut sastrawan muslim Taufik Ismail dalam puisinya, laksana sajadah panjang terbentang dari semenjak lahir sampai kubur kematian . Sajadah adalah tempat berdiri, ruku, sujud dan bersimpuh di hadapan-Nya. Kesibukan dan aktifitas kita hanya sekedar selingan. Apabila terdengar panggilan adzan, kembali menghadap kepada Allah Pencipta kehidupan dan kematian. Wallahu a’lam.

 

Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat!

 

(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Alumni Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *