
Keistimewaan Bulan Sya’ban
Oleh: Hayat Abdul Latief
Nama “Sya’ban” (شَعْبَان) berasal dari bahasa Arab yang berarti “bercabang” atau “terpisah”. Dalam konteks sosiologi, para ulama menjelaskan bahwa bulan ini dinamakan demikian karena pada masa Arab Jahiliyah, suku-suku Arab berpencar (تَشَعَّبُوا) untuk mencari air atau melakukan peperangan setelah berakhirnya bulan Rajab, yang merupakan bulan haram (bulan yang diharamkan berperang).
Sedangkan dalam perspektif Islam, Sya’ban adalah bulan di mana amal diangkat kepada Allah. Rasulullah SAW memperbanyak puasa di bulan ini sebagai bentuk persiapan menuju Ramadan. Demikian juga dianjurkan umatnya untuk memperbanyak puasa selain di hari-hari syak, yakni di akhir bulan Sya’ban.
Bulan Sya’ban memiliki banyak keistimewaan:
Satu, larangan melupakan bulan Sya’ban. Bulan Sya’ban disebut sebagai bulan yang sering dilupakan oleh manusia karena berada di antara dua bulan besar, yaitu Rajab (salah satu bulan haram) dan Ramadan (bulan puasa). Rasulullah SAW bersabda,
ذاكَ شهرٌ يغفلُ النَّاسُ عنهُ بينَ رجبَ ورمضانَ،
“..Itulah bulan yang dilupakan oleh orang di antara bulan Rajab dan bulan Ramadhan..” (HR. An-Nasai)
Bulan yang dilupakan, maksudnya, tidak sedikit orang yang tidak memberi perhatian khusus pada Sya’ban karena posisinya di antara dua bulan istimewa.
Dua, perpindahan kiblat terjadi pada bulan Sya’ban. Peristiwa perpindahan kiblat dari Baitul Maqdis (Masjid Al-Aqsa) ke Ka’bah di Masjidil Haram terjadi pada bulan Sya’ban tahun ke-2 Hijriyah. Kejadian ini diabadikan dalam Al-Qur’an dan ditegaskan dalam hadis Rasulullah SAW.
Allah SWT berfirman,
قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَآءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَىٰهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ ۚ
“Sungguh, Kami (sering) melihat wajahmu menengadah ke langit, maka pasti Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram…” (QS. Al-Baqarah: 144)
Dalam hadits disebutkan, dari Al-Bara’ bin Azib, ia berkata,
صلينا مع النبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم نحو بيتِ المقدسِ ستَّةَ عشَرَ شهرًا أو سبعةَ عشَرَ شهرًا، ثم صُرِفْنا نحو الكعبةِ
“Kami shalat bersama Nabi SAW menghadap Baitul Maqdis selama enam belas atau tujuh belas bulan, kemudian kami dialihkan ke arah Ka’bah.” (HR. Bukhari no. 4486, Muslim no. 525)
Alhasil, perpindahan kiblat terjadi pada bulan Sya’ban tahun ke-2 Hijriyah. Awalnya, kaum Muslimin shalat menghadap Baitul Maqdis selama kurang lebih 16–17 bulan. Allah menurunkan perintah perubahan kiblat dalam QS. Al-Baqarah: 144, yang menginstruksikan untuk menghadap Ka’bah di Masjidil Haram. Hadits dari Al-Bara’ bin Azib menegaskan bahwa peristiwa ini benar-benar terjadi.
Tiga, Sya’ban merupakan bulan Diangkatnya catatan amal. Bulan Sya’ban memiliki keutamaan istimewa, salah satunya adalah sebagai waktu diangkatnya catatan amal tahunan kepada Allah SWT.
وَهوَ شهرٌ تُرفَعُ فيهِ الأعمالُ إلى ربِّ العالمينَ، فأحبُّ أن يُرفَعَ عملي وَأنا صائمٌ»
“..bulan tersebut adalah bulan diangkatnya amal perbuatan kepada Rabb semesta alam, dan aku suka jika amalku diangkat dalam keadaan aku sedang berpuasa.” (HR. An-Nasa’i, no. 2357; Ahmad, no. 21753)
Empat, Sya’ban merupakan bulan diturunkan ayat shalawat. Salah satu keutamaan bulan Sya’ban adalah turunnya perintah untuk bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Allah SWT berfirman,
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًۭا
“Sungguh, Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)
Hubungan ayat dengan bulan Sya’ban. Beberapa ulama, seperti Imam As-Suyuthi, menyebutkan bahwa ayat ini turun pada bulan Sya’ban. Oleh karena itu, banyak ulama yang menganjurkan untuk memperbanyak shalawat di bulan ini sebagai bentuk pengamalan ayat tersebut.
Rasulullah SAW bersabda,
قال رسول الله ﷺ: «من صلّى عليّ صلاةً واحدةً صلّى اللهُ عليه بها عشراً»
“Barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim, no. 408)
Khulashatul qaul, bulan Sya’ban memiliki banyak keistimewaan. Maka, sangat dianjurkan bagi umat Islam untuk memperbanyak ibadah, khususnya puasa sunnah – kecuali di hari-hari yang meragukan – dan shalawat di bulan Sya’ban sebagai bentuk penghormatan dan persiapan menyambut Ramadhan. Wallahu a’lam.
Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat!
(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Alumni Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)
