Oleh: Hayat Abdul Latief
Mengenai wacana melihat Allah SWT, ada beberapa pendapat.
*Satu,* Allah SWT tidak bisa dilihat baik di dunia atau di akhirat. Dalilnya:
لَّا تُدْرِكُهُ ٱلْأَبْصَٰرُ وَهُوَ يُدْرِكُ ٱلْأَبْصَٰرَ ۖ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلْخَبِيرُ
“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (Al-An’am: 103)
Kita tidak punya kompetensi untuk menjawab hal ini, mari kita lihat komentar mufassirin.
Tafsir Jalalain: لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ (Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata) artinya engkau tidak akan dapat melihat-Nya sebab hal ini hanya khusus untuk kaum mukminin kelak di akhirat sebagaimana yang diungkapkan dalam Q.S. Al-Qiyamah:22-23
Tafsir As-Sa’di: Tidak ada seorang pun yang dapat melihat Allah di dunia. Adapun di akhirat, maka kaum mukmin akan melihat Allah Subhaanahu wa Ta’aala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
« إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ لاَ تُضَامُّونَ فِى رُؤْيَتِهِ ،
“Sesungguhnya kamu akan melihat Tuhan kamu sebagaimana kamu melihat bulan (purnama) ini, kamu tidak terhalang untuk melihat-Nya.” (HR. Bukhari-Muslim)
Ilmu-Nya meliputi segala yang nampak maupun yang tersembunyi, pendengaran-Nya mendengar semua suara yang keras maupun yang rahasia, dan penglihatan-Nya melihat semua yang terlihat, besar maupun kecil. Oleh karenanya Dia Maha halus lagi Maha teliti sehingga segala yang tersembunyi atau samar bagi manusia, tidak samar dan tidak tersembunyi bagi-Nya.
*Dua,* Bisa dilihat penduduk jannah di akhirat tanpa gambaran dan penyerupaan, sebagaimana mereka mengenal Allah SWT di dunia tanpa penyerupaan. Dalilnya:
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ. إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ}
“Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabbnyalah mereka melihat” (QS Al-Qiyaamah:22-23).
لِّلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ ٱلْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ ۖ وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ أَصْحَٰبُ ٱلْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَٰلِدُونَ
Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.
Pengertian زِيَادَةٌ (tambahan nikmat di surga) pada ayat tersebut, yaitu berupa keistimewaan untuk dapat melihat wajah Allah yang mulia.
Dalam hadist yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dan Imam Muslim, dari Shuhaib bahwa Rasulullah suatu hari membaca ayat ini kemudian bersabda:
“Apabila penghuni surga telah memasuki surga dan penghuni neraka memasuki neraka, berserulah seorang penyeru: “wahai penghuni surga, sesungguhnya Allah memiliki janji kepada kalian, dan kini Dia akan menepatinya”. Maka mereka bertanya: “janji apakah itu? Bukankah Dia telah memberatkan timbangan kebaikan kami, menjadikan wajah kami bersinar, dan memasukkan kami ke dalam surga, serta menjauhkan kami dari neraka?”.
Kemudian Rasulullah melanjutkan sabdanya: “Maka tersingkaplah bagi mereka penghalang sehingga mereka dapat melihat Allah, dan demi Allah, tidak ada pemberian dari Allah yang lebih mereka sukai dan lebih menjadikan mereka ridha daripada kesempatan melihat kepada-Nya.
Alhasil, Ahlussunah waljama’ah sepakat Allah SWT tidak bisa dilihat oleh makhluk-Nya di dunia dan bisa dilihat ahli jannah di akhirat, sesuai dengan dalil Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Wallahu A’lam.
Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat.
- *(Penulis adalah Direktur Korp Da’i An-Nashihah dan Mahasiswa S2 Zawiyah Jakarta)*

