Oleh: Hayat Abdul Latief
Suatu ketika, saat hari menjelang sore, Imam Abu Hanifah berjalan-jalan di penjuru Kota Baghdad. Saat melewati sebuah rumah sederhana, beliau mendengar rintihan seorang laki-laki yang diiringi tangisan tersedu.
“Oh… alangkah malang nasibku ini. sejak pagi aku belum makan sesuap nasipun, sehingga tubuhku menjadi lemas. Adakah orang yang mau memberiku walau hanya sesuap nasi?”
Mendengar rintihan itu, Imam Abu Hanifah melemparkan sekantong uang disertai selembar kertas berisihi nasihat beliau kepadanya. Beliau melemparkannya melalui jendela rumahnya yang terbuka.
Laki-laki itu terkejut, ada sebuah kantong berada dihadapnnya yang entah dari mana datangnya. Ia segera membuka kantong itu. Ternyata isinya uang. Laki-laki itu sangat senang. Di dalamnya, ada juga selembar kertas bertuliskan, “Hai kawan, sungguh tidak wajar kamu mengeluh seperti itu. Kamu tidak perlu mengeluh dengan nasibmu. Ingatlah kemurahan Allah SW, dan jangan berhenti memohon kepadaNya dengan sungguh-sungguh. Jangan berputus asa hai kawan! Berusahalah terus.”
Pelajaran dari kisah ini adalah seorang tidak boleh mengatakan takdir atau tawakal, kalau belum melalui proses maksimal dalam ikhtiar. Bukankah kita mendapatkan pelajaran dari seekor burung yang pergi di pagi hari dalam keadaan lapar, pulang di waktu sore dalam keadaan kenyang?
Beriman Kepada Takdir
Beriman kepada takdir adalah salah satu landasan akidah Islam, tidak sah keimanan seseorang jika tidak beriman kepada takdir. Dari Umar Bin Khattab, Rasulullah bersabda ketika ditanya oleh malaikat Jibril yang menyerupai seorang laki-laki yang berbusana serba putih tentang rukun iman,
أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ
“Engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” (HR. Muslim)
Kita wajib mengimani bahwa segala sesuatu yang terjadi telah Allah takdirkan dan tidak ada yang luput dari takdir Allah. Allah ta’ala berfirman,
مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّـهِ يَسِيرٌ
“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah” (QS. Al Hadid: 22)
Allah SWT telah menetapkan takdir para hamba-Nya sebelum menciptakan mereka selama ribuan tahun. Hal ini juga sebagaimana hadits Muslim dari jalur Abdullah bin Umar:
إن الله كتب مقادير الخلائق قبل أن يخلق السموات والأرض بخمسين ألف سنة
“Sesungguhnya Allah telah menuliskan ketetapan ciptaan-Nya 50 ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi.”
Faedah Iman kepada takdir akan membuat hati tenang, karena seseorang menjadi yakin bahwa apapun yang menimpanya – kebaikan ataupun keburukan – memang sudah ditakdirkan dan ia tidak akan pernah bisa luput darinya apapun yang ia lakukan. Dari Abud Darda’ r.a, Rasulullah SAW bersabda:
لا يَبلُغُ عَبدٌ حَقيقةَ الإيمانِ حتى يَعْلَمَ أنَّ ما أصابَهُ لم يَكُنْ لِيُخْطِئهُ، وما أَخْطَأَهُ لم يَكُنْ لِيُصيبَهُ
“Seseorang tidak akan mendapati iman yang sejati hingga ia mengetahui bahwa takdir yang menimpa dirinya tidak akan meleset, dan apa yang luput darinya karena memang tidak ditakdirkan untuknya” (HR. Al Bazzar)
Takdir Baik dan Takdir Buruk
Takdir baik datangnya dari Allah, demikian juga takdir buruk. Pemahaman ini harus dijelaskan sejelas-jelasnya; kita harus menisbatkan segera kebaikan kepada Allah SWT. Oleh karena demikian, kita tidak boleh menisbatkan keburukan kepada Allah. Berkaitan dengan takdir buruk, pemicu dan penyebabnya adalah perbuatan manusia, lalu Allah subhanahu wa ta’ala turunkan takdir buruk untuk mereka – Maha Suci Allah dari segala macam keburukan. Firman-Nya,
مَّآ أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ ٱللَّهِ ۖ وَمَآ أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٍ فَمِن نَّفْسِكَ ۚ وَأَرْسَلْنَٰكَ لِلنَّاسِ رَسُولًا ۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيدًا
“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.” (QS. An-Nisa: 79)
Larangan Beralasan Takdir untuk Membenarkan Maksiat
Tidak diperbolehkan beralasan dengan takdir untuk membenarkan maksiat. Misalnya, ketika pezina ditanya “kenapa kamu berzina?” lalu ia menjawab “yaah.. sudah takdir Allah, Pak. Kalau Allah tidak takdirkan juga saya tidak berzina”. Ini tidak diperbolehkan dan alasan tersebut batal, ia tetap wajib di hukum, dan perbuatan seperti ini persis dengan perbuatan kaum Musyrikin. Allah SWT berfirman:
سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا وَلَا آبَاؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِن شَيْءٍ ۚ كَذَٰلِكَ كَذَّبَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ حَتَّىٰ ذَاقُوا بَأْسَنَا ۗ قُلْ هَلْ عِندَكُم مِّنْ عِلْمٍ فَتُخْرِجُوهُ لَنَا ۖ إِن تَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ أَنتُمْ إِلَّا تَخْرُصُونَ
“Orang-orang musyrikin akan mengatakan: “Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak berbuat syirik dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apapun”. Demikian pulalah orang-orang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah: “Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada Kami?” Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta” (QS. Al An’am: 148)
Allah SWT sudah Tentukan segala sesuatunya, manusia diberi kebebasan untuk memilihnya. Firman-Nya;
وَقُلِ ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ ۖ فَمَن شَآءَ فَلْيُؤْمِن وَمَن شَآءَ فَلْيَكْفُرْ ۚ إِنَّآ أَعْتَدْنَا لِلظَّٰلِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا ۚ وَإِن يَسْتَغِيثُوا۟ يُغَاثُوا۟ بِمَآءٍ كَٱلْمُهْلِ يَشْوِى ٱلْوُجُوهَ ۚ بِئْسَ ٱلشَّرَابُ وَسَآءَتْ مُرْتَفَقًا
“Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (QS. Al-Kahfi: 29)
Allah SWT juga berfirman;
إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا
“Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (QS. Al-Insan: 3)
Allah SWT juga berfirman;
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9-10)
Rasulullah SAW bersabda;
…. كل الناس يغدو، فبائع نفسه فمعتقها، أو موبقها” (رواه مسلم)
“…Setiap orang itu bepergian, lalu yang menjual dirinya (menjadi hamba sahaya), lalu ada yang memerdekakan dirinya (dengan taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala) dan ada yang merusakkan dirinya (dengan taat kepada setan dan nafsunya)” (Riwayat Muslim dari Abu Malik al-Harits bin Ashim al-Asy’ari r.a)
Kita tidak bisa memilih berasal dari keluarga mana kita dilahirkan, menjadi orang suku Sunda, Jawa, Batak dan seterusnya, menjadi orang yang berkulit putih hitam atau sawo matang. Dengan demikian, judul tulisan ini: Memilih Takdir Sendiri, berkaitan dengan kebebasan kita memilih; beriman atau kufur, membersihkan jiwa atau mengotorinya dan taat kepada Allah atau taat kepada setan dan nafsunya. Dalam hal ini kita diberi kebebasan untuk memilihnya dengan konsekuensi dan resiko ditanggung sendiri. Wallahu a’lam.
Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat!
(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)

