Mudik: Larangan Menjadikannya sebagai Pamer Kesuksesan?!
Oleh: Hayat Abdul Latief
Allah SWT berfirman:
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
“Dan janganlah kamu memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا، حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ، وَلَا يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ
“Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap rendah hati sehingga tidak ada seorang pun yang menyombongkan diri terhadap yang lain dan tidak ada seorang pun yang berbuat zalim kepada yang lain.” (HR. Muslim no. 2865)
……..
Mudik berasal dari bahasa Jawa, yaitu mulih dilik, yang berarti “pulang sebentar.” Seiring waktu, maknanya berkembang menjadi tradisi pulang ke kampung halaman, terutama menjelang hari raya seperti Idulfitri.
Dalam konteks sejarah, tradisi mudik mulai berkembang pesat sejak era kolonial Belanda, ketika banyak orang desa merantau ke kota-kota besar seperti Batavia (Jakarta) untuk bekerja. Ketika hari raya tiba, mereka kembali ke kampung halaman untuk berkumpul dengan keluarga.
Secara sosial, mudik memiliki makna yang lebih dari sekadar perjalanan pulang. Ini adalah momen mempererat silaturahmi, mengenang asal-usul, serta berbagi kebahagiaan dengan keluarga dan masyarakat di kampung. Islam sendiri sangat menganjurkan menjaga hubungan kekeluargaan (silaturahim), sehingga tradisi ini juga sejalan dengan nilai-nilai keislaman.
Dalam perkembangan modern, mudik semakin didukung oleh infrastruktur transportasi yang terus berkembang, seperti jalan tol, kereta api, dan transportasi udara, yang mempermudah mobilitas masyarakat.
………….
Mudik merupakan tradisi yang telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Muslim, terutama di Indonesia. Tujuan utama dari mudik adalah untuk bersilaturahmi dengan keluarga dan mempererat hubungan dengan sanak saudara. Namun, dalam beberapa kasus, mudik dijadikan sebagai ajang untuk memamerkan kesuksesan dan kemewahan yang telah diraih selama merantau. Sikap seperti ini bertentangan dengan ajaran Islam yang mengutamakan kesederhanaan dan ketulusan dalam berinteraksi dengan sesama.
Allah SWT telah memperingatkan manusia agar tidak bersikap sombong dan berlebihan dalam menunjukkan nikmat yang diberikan kepadanya.
Fenomena pamer saat mudik biasanya terlihat dari cara seseorang menunjukkan kendaraan mewah, pakaian mahal, atau membandingkan keberhasilan dirinya dengan sanak saudara di kampung halaman. Hal ini dapat menimbulkan iri hati dan perasaan rendah diri bagi orang-orang yang kurang beruntung.
Pamer kesuksesan saat mudik juga bisa menimbulkan riya’, yaitu melakukan suatu amal dengan tujuan ingin dipuji oleh manusia. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin berkata:
الرِّيَاءُ هُوَ طَلَبُ الْمَنْزِلَةِ فِي قُلُوبِ النَّاسِ بِإِظْهَارِ الْخَيْرِ
“Riya’ adalah mencari kedudukan di hati manusia dengan menampakkan kebaikan.”
Sikap ini sangat dikecam dalam Islam karena dapat merusak keikhlasan dalam beramal. Allah SWT berfirman:
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ
“Maka celakalah orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya, orang-orang yang berbuat riya’.” (QS. Al-Ma’un: 4-6)
Sebagai Muslim yang baik, kita harus memahami bahwa tujuan utama mudik adalah untuk mempererat silaturahmi dan berbagi kebahagiaan dengan keluarga, bukan untuk menunjukkan keunggulan materi. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada banyaknya harta, tetapi pada ketenangan hati. Beliau bersabda:
لَيْسَ الغِنَى عَنْ كَثْرَةِ العَرَضِ، وَلَكِنَّ الغِنَى غِنَى النَّفْسِ
“Kekayaan bukanlah dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan adalah kaya hati.” (HR. Bukhari no. 6446, Muslim no. 1051)
Oleh karena itu, marilah kita menjadikan mudik sebagai momen yang penuh keberkahan dengan niat yang lurus. Hindarilah sikap pamer dan lebih utamakan berbagi dengan keluarga serta orang-orang yang kurang mampu. Dengan demikian, kita dapat mengambil berkah dari perjalanan mudik dan mendapatkan ridha Allah SWT. Wallahu a’lam.
Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat!
(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Alumni Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)
