Oleh: Hayat Abdul Latief
Sebagai seorang muslim tidak boleh menyalahkan non-muslim yang merayakan Natal dan Tahun Baru Masehi, karena itu hari raya mereka. Yang kita sesalkan adalah apabila seorang muslim ikut-ikutan merayakannya. Tentang ibadurrahman, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا
”Dan orang-orang yang tidak menyaksikan kepalsuan, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS al-Furqan : 72)
Maksud Az-Zuur dalam ayat ini adalah perayaan kaum musyrikin. Ibnu Katsir berkata, “Abul ‘Aliyah, Thawus, Muhammad bin Sirin, adh-Dhahhak, Rabi’ bin Anas dan lain-lainnya, mengatakan bahwa maksudnya adalah tidak menghadiri perayaan kaum musyrikin.” (Tafsîir Ibnu Katsir VI/130)
Muhasabah
Perilaku yang tepat bagi seorang muslim ketika menyongsong tahun baru, Masehi maupun Hijriyah, adalah muhasabah atau introspeksi diri – meskipun muhasabah kapan saja bisa dilakukan. Hal ini sesuai dengan perintah Allah subhanahu wa ta’ala kepada orang beriman. Firman-Nya,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)
Ayat ini – menurut Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di dalam tafsirnya – adalah pangkal dalam hal muhasabah diri. Setiap orang harus selalu mengintrospeksi diri. Jika melihat adanya kekeliruan segera menyelesaikannya dengan cara melepaskan diri darinya, bertaubat secara sungguh-sungguh dan berpaling dari berbagai hal yang menghantarkan pada kekeliruan tersebut. Jika menilai dirinya bersikap sekenanya dalam menunaikan perintah-perintah Allah, ia akan mengerahkan segala kemampuannya dengan meminta pertolongan pada RabbNya untuk mengembangkan, dan menyempurnakannya, serta membandingkan antara karunia dan kebaikan Allah yang diberikan padanya dengan kemalasannya. Karena hal itu mengharuskannya merasa malu.
Seperti dikutip dari NU Online, Sayyid Bilal Ahmad Al-Bistani Ar-Rifa’i Al-Husaini, seorang sufi terkemuka dalam salah satu kitabnya mengatakan, sudah seharusnya umat Islam melakukan intropeksi sepanjang umurnya, maka ia harus berpikir tentang apa yang akan dilakukan pada pagi, siang, sore, hingga malam hari, sebagaimana yang beliau katakan,
فَتَفَكَّرْ فِيْمَا صَنَعْتَ، فَاِنْ وَجَدْتَ طَاعَةً فَاشْكُرْ اللهَ، وَاِنْ وَجَدْتَ مَعْصِيَةً فَوَبِّخْ نَفْسَكَ
“(Maka berpikir [merenung]lah atas apa yang kamu kerjakan, apabila engkau menemukan ketaatan (dalam pekerjaan itu), maka bersyukurlah kepada Allah, dan apabila engkau menemukan maksiat (di dalamnya) maka celalah dirimu. (Farhatun Nufus bi Syarhi Tajil ‘Arus Al-Hawi li Tahzibin Nufus, Beirut, Darul Kutub ‘Ilmiah, cetakan kedua: 2015 M], halaman 17)
Umur Yang Singkat
Dalam banyak riwayat hadits disebutkan usia umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam tidak lama.Berkisar sekitar 60-70 tahun. Itu pun sudah tua: rambut mulai memutih, gigi mulai habis, pendengaran perlahan berkurang, dan tenaga mulai melemah. Berbeda dengan usia umat Nabi sebelumnya yang panjang. Karena sedikitnya tempo usia umat Nabi Muhammad itu, maka harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk memuliakan diri dengan ilmu dan ibadah. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi Muhammad Shallallhu ‘Alaihi Wassallam bersabda,
أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ، وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ
“Umur umatku antara 60 dan 70 tahun, sedikit dari mereka yang melampauinya.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Muslim Yang Cerdas
Banyak teori dan kategori tentang kecerdasan. Cerdas menurut Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam – dalam sabdanya – sebagai berikut,
الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ المَوْتِ، وَالعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ
”Orang yang pandai adalah yang menghisab dirinya sendiri dan beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah Ta’ala“. (HR. Ahmad, Turmudzi, Ibn Majah)
Tidak Ada Kata Terlambat
Bila seorang merasa begitu berdosa dan bersalah hingga seakan-akan terlalu terlambat untuk memperbaiki diri, maka buang jauh-jauh dari benaknya perasaan semacam itu. Karena pada hakikatnya, tidak pernah ada kata terlambat untuk berubah menjadi lebih baik. Berikut ini nasehat yang baik untuk hal itu: Selama kita masih diberi kehidupan, itu berarti kita punya kesempatan untuk berubah ke arah yang lebih baik. Setiap hari yang baru adalah lembaran baru di mana kita berhak mengisinya sesuai keinginan. Siapapun berhak menentukan arah hidup yang lebih baik lagi.
Muhasabah Agar Husnul Khatimah
Selain muhasabah juga memperkuat doa dan pengharapan kepada Allah, senantiasa istiqamah dalam kebaikan, lebih dari itu, selalu berusaha memperbaiki amal di usia tersisa merupakan kunci utama dalam meraih penghakhiran hidup yang baik atau husnul khotimah, hingga memperoleh ampunan dan Allah subhanahu wa ta’ala ridha-Nya. Wallahu a’lam
Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat!
(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)

