Oleh: Hayat Abdul Latief
Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam menyebutkan ada dua orang rakus yang tidak pernah kenyang dan puas. Sabdanya:
” مَنْهُومَانِ لا يَشْبَعَانِ طَالِبُ عِلْمٍ وَطَالِبُ دُنْيَا ” ، الطبراني في الكبير
Ada dua macam orang yang rakus selalu tidak merasa kenyang, yaitu penuntut ilmu dan pemburu duniawi.
(HR At- Tabroni dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu)
Dalam benak kita sifat rakus seluruhnya tercela, namun Rasulullah membagi menjadi dua macam rakus: rakus terpuji dan tercela. Yang terpuji yaitu rakus ilmu dalam arti tidak pernah puas dengan ilmu yang didapatkan sedangkan rakus harta, tidak pernah puas dengan kekayaan duniawi yang dimiliki.
Meskipun sama-sama rakus namun tidak sama dalam pandangan Allah subhanahu wata’ala. Adapun orang yang berilmu, maka bertambahlah ridha-Nya. Firman-Nya;
وَقُل رَّبِّ زِدْنِى عِلْمًا
“….dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”. (QS. Thaha: 114)
Dalam ayat ini, Allah subhanahu wata’ala menyuruh Rasul-Nya untuk selalu berdoa kepada-Nya: agar terus ditambahkan ilmu.
Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barang siapa yang dikehendaki baik oleh Allah, maka Allah akan meneguhkan pemahamannya tentang agama (Islam).” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Adapun orang berharta yang tenggelam di dalam kesesatannya (sikap melampaui batasnya) Allah subhanahu wata’ala mencelanya. Firman-Nya:
كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَى أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى
“Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.” (QS. Al-‘Alaq: 6-7)
Asbabun nuzul ayat ini berkenaan dengan Abu Jahal namun kita memegang prinsip dalam ilmu tafsir yang menjadi pelajaran adalah lafadz secara umum bukan sebab khusus. Maksudnya, siapa pun orangnya yang merasa cukup dengan hartanya kemudian sombong dan melampaui batas dengan kekayaannya maka Allah murka kepadanya.
Berkenaan dengan rakus terhadap harta, Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda::
لَوْ أَنَّ ابْنَ آدَمَ أُعْطِيَ وَادِيًا مَلأً مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَانِيًا وَلَوْ أُعْطِيَ ثَانِيًا أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَالِثًا، وَلاَ يَسُدُّ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ.
“Seandainya anak keturunan Adam diberi satu lembah penuh dengan emas niscaya dia masih akan menginginkan yang kedua. Jika diberi lembah emas yang kedua maka dia menginginkan lembah emas ketiga. Tidak akan pernah menyumbat rongga anak Adam selain tanah, dan Allah menerima taubat bagi siapa pun yang mau bertaubat.” (HR. Al-Bukhari)
*Hikmah;*
*Satu,* Rasulullah menyebutkan 2 sifat rakus: terpuji dan tercela.
*Dua,* rakus yang terpuji yaitu rakus ilmu dalam arti tidak pernah puas dengan ilmu yang didapatkan, yang mana Allah subhanahu wata’ala menyuruh Rasul-Nya untuk selalu berdoa kepada-Nya: agar terus ditambahkan ilmu.
*Tiga,* rakus yang tercela: rakus harta, tidak pernah puas dengan kekayaan duniawi yang dimiliki, terus menumpuk harta sampai ajal menjemputnya.
Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat.
*(Khadim Korp Da’i An-Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)*

