Perbedaan antara Hari Raya dan Peringatan

Oleh: Hayat Abdul Latief

Allah SWT berfirman:

وَذَكِّرْهُمْ بِأَيَّامِ اللَّهِ

“Dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah.” (QS. Ibrahim: 5)

Allah SWT sendiri memerintahkan mengingat hari-hari penting dalam sejarah Islam seperti yang disebutkan dalam QS. Ibrahim ayat 5 di atas. Jadi, peringatan tidak bisa disamakan dengan perayaan hari raya (عيد) yang bersifat syar’i.

……..

Sebagian kelompok, khususnya yang dikenal dengan paham Wahabi, menolak peringatan Maulid Nabi SAW dan Isra’ Mi’raj dengan alasan bahwa hal tersebut termasuk hari raya (عيد) yang tidak disyariatkan. Mereka berpegang pada hadis Nabi SAW:

إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا وَهَذَا عِيدُنَا

“Setiap kaum memiliki hari raya, dan ini adalah hari raya kita.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Namun, klaim ini mengandung beberapa kesalahan pemahaman yang perlu diluruskan.

Perbedaan antara “Hari Raya” (عيد) dan “Peringatan” (ذكرى)

Hari Raya (عيد) dalam Islam memiliki ciri khusus, yaitu:
1. Ditentukan langsung oleh syariat (Idul Fitri & Idul Adha). Islam membatasi perayaan hanya pada dua hari raya utama, sedangkan peringatan bisa dilakukan untuk meningkatkan kesadaran akan nilai-nilai agama.

2. Diiringi dengan shalat dan khutbah khusus. Perayaan memiliki ketentuan yang jelas dalam Islam, sedangkan peringatan tidak memiliki batasan ketat selama tidak melanggar prinsip syariat. Peringatan lebih banyak diisi dengan kajian, dzikir, dan nasihat keagamaan.

3. Hari Raya memiliki tata cara perayaan tertentu seperti takbiran dan penyembelihan hewan qurban, sedangkan peringatan (ذكرى) seperti Tahun Baru Islam, Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj dan Nuzulul Qur’an tidak memiliki ciri-ciri tersebut. Ia hanya bertujuan untuk mengingat sejarah, meneladani Nabi Muhammad SAW, dan meningkatkan keimanan.

Rasulullah SAW Sendiri Memperingati Peristiwa Besar

Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW berpuasa pada hari Senin, dan ketika ditanya alasannya, beliau menjawab:

ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ

“Itu adalah hari kelahiranku.” (HR. Muslim, No. 1162)

Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW berpuasa di hari ‘Asyura. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

قَدِمَ النَّبِيُّ ﷺ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ يَصُومُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَقَالَ: مَا هَذَا؟ قَالُوا: هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ، هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ، فَصَامَهُ مُوسَى. فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ، فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ.

“Ketika Nabi SAW tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Maka beliau bertanya: ‘Apa ini?’ Mereka menjawab: ‘Ini adalah hari yang baik, hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, sehingga Nabi Musa berpuasa pada hari ini.’ Maka Nabi ﷺ bersabda: ‘Aku lebih berhak atas Musa daripada kalian.’ Lalu beliau berpuasa dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa pada hari itu.” (HR. Bukhari No. 2004, Muslim No. 1130)

Hadits ini menunjukkan bahwa mengenang hari kelahiran (Maulid) dan mengenang keselamatan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Firaun dan para tentaranya dengan berpuasa bukanlah perayaan, tetapi bentuk syukur dan mengingat sejarah atau peristiwa besar.

Para Ulama Besar Membolehkan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW

a. Imam As-Suyuthi berkata: “Asal peringatan Maulid Nabi adalah berkumpulnya manusia untuk membaca Al-Qur’an dan mengingat kisah Nabi serta tanda-tanda kelahirannya yang penuh berkah. Maka ini adalah termasuk bid’ah hasanah yang berpahala.” (Husn Al-Maqsid fi Amal Al-Maulid)

b. Imam Ibn Hajar Al-Asqalani berkata: “Asal Maulid adalah bid’ah, tetapi termasuk bid’ah yang baik. Sebab dalam peringatan ini terdapat ungkapan syukur kepada Allah atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.” (Fatawa Al-Haditsiyyah)

……….

Peringatan dalam Islam umumnya tidak dilarang selama tidak mengandung kemungkaran atau keyakinan yang menyimpang. Para ulama seperti Imam As-Suyuthi dan Imam Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani membolehkan peringatan Maulid Nabi sebagai bentuk ekspresi kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Peringatan dalam Islam mencakup momen seperti peringatan kematian, peringatan Maulid Nabi, atau peringatan peristiwa bersejarah dalam Islam. Dalil yang mendukung konsep peringatan adalah firman Allah SWT dalam QS. Ibrahim ayat 5 di atas.

……

Faedah:

Satu, Tahun Baru Islam, Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj, Nuzulul Qur’an, dan Peringatan Kematian (Haul) bukan hari raya (عيد), tetapi peringatan (ذكرى).

Dua, tidak ada shalat khusus atau ritual yang menjadikannya setara dengan Idul Fitri atau Idul Adha.

Tiga, banyak ulama besar membolehkan peringatan Maulid sebagai bentuk syukur dan kecintaan kepada Nabi SAW. Beliau sendiri mengenang hari kelahirannya dengan berpuasa.

Maka, klaim kaum Wahabi yang menyamakan peringatan Tahun Baru Islam, Maulid atau Isra’ Mi’raj, dan Nuzulul Qur’an dengan hari raya adalah keliru dan bertentangan dengan pemahaman ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Wallahu a’lam.

Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat!

(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Alumni Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *