Oleh: Hayat Abdul Latief
Rasulullah SAW bersabda;
ان الله ليطلع في ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه الا مشرك او مشاحن (رواه ابن ماجة عن ابي موسى الاشعري رضي الله عنه)
“Sesungguhnya Allah memberikan perhatian pada malam pertengahan Sya`ban dan mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik atau orang yang bertengkar.” (HR. Ibnu Majah dari Abu Musa Al-Asy’ari r.a)
Ada beberapa isi kandungan hadits di atas:
a. Betapa agungnya malam Nisfu Sya’ban.
b. Allah SWT memandang makhluk-Nya pada malam nisfu Sya’ban dengan penuh kasih sayang, lalu mengampuni mereka semua.
c. Ada 2 golongan manusia yang terhalang untuk mendapatkan ampunan Allah SWT di malam tersebut, yaitu musyrik dan orang yang bertengkar.
Di balik hadits tersebut ada pesan penting untuk kita semua, yaitu agar kita menjalin hubungan baik dengan Allah dan menjalin hubungan baik dengan manusia atau yang disebut hablun minallah dan hablun minannas. Tanpa menjalin hubungan baik terhadap keduanya, manusia pasti ditimpa kehinaan. Allah SWT berfirman;
ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُواْ إِلاَّ بِحَبْلٍ مِّنْ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ وَبَآؤُوا بِغَضَبٍ مِّنَ اللَّهِ ….
“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah ….” (QS. Ali Imran 112)
Hablun Minallah dan Minannas
Hablum minallah menurut bahasa berarti menjalin hubungan dengan Allah. Menjalin hubungan terbaik dengan Allah SWT adalah dengan beriman dan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Hablun minannas adalah hubungan baik dengan sesama manusia.
Pedoman Hablum minallah dan Hablun minannas antara lain sebagai berikut:
a. Firman Allah SWT;
وَاعْبُدُواْ اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالاً فَخُورًا
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (QS. An-Nisa: 36)
Hablun minallah dalam ayat tersebut, yaitu menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya, sedangkan hablun minannas, yaitu dengan berbuat baik kepada dua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahayamu.
b. Sabda Rasulullah SAW;
اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ (رواه الترمذي وقال حديث حسن عَنْ أَبِي ذَرّ جُنْدُبْ بْنِ جُنَادَةَ وَأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُعَاذ بْن جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا)
“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan tersebut akan menghapuskan (keburukan). Dan pergauilah manusia dengan akhlak yang mulia.” (HR. At-Tirmidzi, dan dia berkata: Hadits Hasan Shahih، dari Abu Dzar Jundub bin Junadah dan Abu Abdirrahman Muadz bin Jabal r.a)
Hablun minallah dalam hadits tersebut adalah bertaqwa dan hablun minannasnya bergaul dengan manusia dengan akhlak yang baik.
Faedah:
Satu, betapa agungnya malam nisfu Sya’ban. Allah SWT memandang makhluk-Nya pada malam tersebut dengan penuh kasih sayang, lalu mengampuni mereka semua, musyrik dan orang yang bertengkar.
Dua, di balik hadits tersebut ada pesan penting untuk kita semua, yaitu agar kita menjalin hubungan baik dengan Allah dan menjalin hubungan baik dengan manusia atau yang disebut hablun minallah dan hablun minannas.
Tiga, menjalin hubungan baik dengan Allah SWT, lewat cara menyembah-Nya, tidak mempersekutukan-Nya dan bertaqwa (menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya). Sedangkan menjalin hubungan baik dengan manusia, yaitu dengan berbuat baik kepada dua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahayamu, juga bergaul dengan manusia dengan akhlak yang baik. Wallahu a’lam.
Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat!
(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)

