Oleh: Hayat Abdul Latief
Nilailah yang membedakan antara satu sama lain. Kata yang memiliki makna yang sama dengannya yaitu harga atau kadar. Di institusi pendidikan perlu adanya penilaian untuk mengetahui dan mengevaluasi pencapaian akademik maupun non-akademik peserta didik. Demikian juga dengan kadar, dalam istilah logam mulia, emas memiliki kadar yang berbeda tentu dengan nilai jual atau harga yang berbeda sesuai dengan kadarnya.
Ada Kalam hikmah dari seorang ulama kenamaan yang bernama Hatim Al-Asham yang berkaitan dengan nilai -semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmatinya-,
أربعة لا يعرف قدرها إلاّ أربعة
قدر الشباب لا يعرفه إلاّ الشيوخ
وقدر العافية لا يعرفه إلاّ أهل البلاء
وقدر الصحة لا يعرفه إلاّ المرضى
وقدر الحياة لا يعرفه إلاّ الموتى
“Ada 4 hal yang tidak diketahui nilai/kadarnya kecuali oleh empat orang:
1. Masa muda, tidak diketahui nilainya (kelebihannya) kecuali oleh orang yang sudah tua.
2. Keselamatan, tidak diketahui nilainya (kelebihannya) kecuali oleh orang yang tertimpa musibah.
3. Kesehatan, tidak diketetahui kadarnya (kelebihannya) kecuali oleh orang yang sedang sakit.
4. Kehidupan, tidak diketahui kadarnya (kelebihannya) kecuali orang yang sudah mati.”(Tanbihul Ghafillin: 1/39)
Masa muda, tidak diketahui nilainya kecuali oleh orang yang sudah tua. Anak muda dengan energisitasnya tidak sedikit yang menyia-nyiakan masa emasnya. Sedangkan orang yang sudah lanjut usia yang pernah merasakan masa muda seandainya Allah membolehkannya kembali ke masa lalu, niscaya ingin mengisi masa mudanya dengan hal-hal yang bermanfaat untuk masa depannya. Namun hal itu mustahil terjadi sebagai mana impossiblenya ikan hidup di daratan.
Keselamatan, tidak diketahui nilainya kecuali oleh orang yang tertimpa musibah. Betapa menderitanya orang yang tertimpa bala bencana. Penderitaan yang menguras energi, perasaan dan pikirannya. Dalam kondisi seperti ini, yang bersangkutan merasakan betapa nikmatnya seandainya tidak ditimpa musibah. Sedangkan orang yang selamat dari musibah kadang-kadang tidak mensyukuri keadaannya, padahal bagi orang yang tertimpa musibah betapa berharganya selamat darinya.
Kesehatan, tidak diketahui nilainya kecuali oleh orang yang sakit.Orang yang dipenjara oleh penyakitnya tentu tidak bebas bergerak dan bisa berbuat banyak dalam aktivitasnya. Di saat itulah ia mengharapkan kesehatan yang begitu berarti dalam kehidupan kesehariannya. Meski demikian, terkadang orang yang sehat tidak menyadari betapa berharganya nilai kesehatan yang didambakan oleh orang sakit.
Kehidupan, tidak diketahui nilainya kecuali orang yang sudah mati. Mati merupakan suatu kepastian yang semua pasti merasakanya. Ahli kubur yang waktu hidupnya pelaku dosa pasti menyesal kenapa dulu bukan menjadi orang baik. Begitu berharga waktu hidup, sehingga ada ayat Al-Quran yang mengungkapkan penyesalan mereka,
وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ
“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” (QS. Al-Munafiqun : 10)
*Faedah:*
*Satu,* nilailah yang membedakan antara satu sama lain.
*Dua,* sama-sama batu, permata nilainya lebih tinggi, sama-sama logam emas nilainya lebih mahal dan sama-sama manusia Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam makhluk yang paling mulia.
*Tiga,* tidak tahu nilai masa muda, keselamatan, kesehatan dan kehidupan kecuali orang yang lanjut usia, orang yang tertimpa musibah, orang sehat dan orang yang habis kontrak hidupnya. Wallahu a’lam.
Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat.
*(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan LD Zawiyah Jakarta)*

