Oleh: Hayat Abdul Latief

 

Berkaitan dengan kewajiban berpegang teguh kepada agama Islam dan larangan bercerai-berai, Allah subhanahu wa ta’ala:

 

وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ ۚ وَٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِۦٓ إِخْوَٰنًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمْ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

 

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Qs. Ali ‘Imran: 103)

 

Disebutkan dalam tafsir Ibnu Katsir: Muhammad bin Ishaq bin Yasar dan ulama lainnya menyebutkan bahwa: “Ayat ini turun berkaitan dengan keadaan kaum Aus dan Khazraj. Yaitu ada seorang Yahudi yang berjalan melewati sekumpulan orang dari kaum Aus dan Khazraj. Orang Yahudi itu merasa tidak senang dengan keeratan dan kekompakan mereka. Kemudian ia mengirimkan seseorang dan memerintahkannya untuk duduk bersama mereka, serta mengingatkan kembali berbagai peperangan yang pernah terjadi di antara mereka pada peristiwa Bu’ats dan peperangan-peperangan lainnya. Orang itu tidak henti-hentinya melakukan hal tersebut hingga emosi mereka bangkit dan sebagian mereka murka atas sebagian lainnya, masing-masing saling mengobarkan emosinya, meneriakkan slogan-slogan, mengangkat senjata mereka dan saling mengancam untuk ke tanah lapang.

 

Ketika hal itu terdengar oleh Nabi, maka beliau datang dan menenangkan mereka seraya berseru: “Apakah kalian menanti seruan Jahiliyyah padahal aku masih berada di tengah-tengah kalian?” Beliau pun membacakan ayat di atas, maka mereka pun menyesali apa yang mereka lakukan. Dan akhirnya mereka saling bersalaman, berpelukan dan meletakkan senjata. Mudah-mudahan Allah meridhai mereka semuanya. Ikrimah menyebutkan, bahwa ayat ini turun kepada mereka ketika mereka saling naik pitam dalam masalah berita bohong (yang menimpa diri Aisyah Radhiyallahu Anha).

 

Mengapa umat Islam dilarang bertikai, berbantah-bantahan dan bercerai-berai? Jawabannya ada dalam firman Allah berikut:

 

وَأَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَا تَنَٰزَعُوا۟ فَتَفْشَلُوا۟ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَٱصْبِرُوٓا۟ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ

 

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46)

 

Dalam ayat di atas apabila kita berbantah-bantahan menyebabkan kita menjadi lemah dan hilang kekuatan laksana lidi apabila bersatu padu menjadi sapu yang kuat, namun apabila bercerai-berai menjadi lemah dan tidak memiliki kekuatan.

 

Mari kita simak tafsir ayat di atas: “Dan tetaplah taat kepada Allah dan taat kepada rasul-Nya dalam ucapan-ucapan, perbuatan-perbuatan, dan seluruh hal ihwal kalian. Dan janganlah kalian berselisih pendapat. Karena perselisihan akan membuat kalian menjadi lemah, takut, dan kehilangan kekuatan kalian. Dan bersabarlah ketika kalian berhadapan dengan musuh kalian. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar dalam bentuk pertolongan, dukungan, dan bantuan. Dan barangsiapa yang Allah menyertai-Nya, maka ialah orang yang pasti meraih kemenangan dan mendapatkan pertolongan’ (Tafsir Al-Mukhtashar – Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram).

 

Dalam Sirah Nabawiyah, yang pertama kali dilakukan Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam ketika hijrah di Madinah selain membangun masjid, menampung aspirasi masyarakat sehingga terbentuk piagam Madinah, juga mempersaudarakan elemen kaum muslimin Muhajirin dan Anshar, bersaudara karena Islam.

 

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda memperingatkan umatnya agar tidak saling caci-maki:

 

إذا عظَّمتِ أُمتِي الدنيا ، نُزِعتْ منها هيبةُ الإسلامِ و إذا تَركتِ الأمرَ بالمعروفِ و النهىَ عن المنكرِ . حُرِمتْ بركةُ الوحيِ و إذا تسابَّتْ أُمتي سقَطَتْ من عينِ اللهِ

 

“Apabila umatku mengagumkan dunia, maka tercabut darinya kehebatan Islam, apabila mereka meninggalkan Amar ma’ruf nahi mungkar maka diharamkan bagi mereka keberkahan Wahyu dan apabila mereka saling mencaci maki maka jatuhlah (derajat)nya dari pandangan Allah.” (HR. As-Suyuthi dari Abu Hurairah raḍiyallahu’anhu – Al-Jami’ Ash-Shagir 755)

 

Beberapa faedah dari isi kandungan Al-Qur’an dan Sunnah, sebagai berikut:

 

*Satu,* anjuran bersatu dan berpegang teguh kepada agama Islam.

 

*Dua,* persaudaraan Islam bagian dari nikmat Allah.

 

*Tiga,* permusuhan dan perpecahan akan menghilangkan keberkahan dan jatuh dalam pandangan Allah subhanahu wa ta’ala. Wallahu a’lam.

 

Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat.

 

*(Khadim Korp Da’i An-Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)*

 

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *