ZAWIYAH JAKARTA KAJIAN ISLAM, DAKWAH, DAN PERADABAN Seri 5: Dakwah dan Transformasi Dunia

ZAWIYAH JAKARTA
KAJIAN ISLAM, DAKWAH, DAN PERADABAN
Seri 5: Dakwah dan Transformasi Dunia

ZAWIYAH JAKARTA
KAJIAN ISLAM, DAKWAH, DAN PERADABAN
Seri 5: Dakwah dan Transformasi Dunia

๐ŸŒ *MENGAPA DUNIA ISLAM MASIH BERGANTUNG PADA TEKNOLOGI DAN ILMU PENGETAHUAN NEGARA LAIN?*

Dari warisan al-Khawarizmi hingga kecerdasan buatan: memahami tantangan riset, pendidikan, inovasi, dan kemandirian peradaban Islam.

Setiap hari kita menggunakan teknologi.

Kita berkomunikasi melalui telepon pintar, mencari informasi melalui mesin pencari, menggunakan aplikasi untuk bekerja, dan mulai memanfaatkan kecerdasan buatan dalam pendidikan.

Namun, pernahkah kita bertanya:

Siapa yang menciptakan teknologi tersebut? Siapa yang menguasai penelitiannya? Dan siapa yang memperoleh keuntungan terbesar dari perkembangannya?

Pertanyaan ini penting bagi umat Islam.

Sebab, dalam sejarah, para ilmuwan dari peradaban Islam pernah menjadi bagian penting perkembangan matematika, kedokteran, astronomi, dan berbagai cabang ilmu pengetahuan.

Kini, banyak negara Muslim masih bergantung pada teknologi yang dikembangkan dan diproduksi di luar negeri.

Mengapa keadaan ini terjadi?

Apakah karena umat Islam kekurangan ilmuwan, lembaga pendidikan, dana penelitian, atau sistem yang mampu mengubah pengetahuan menjadi inovasi?

Jawabannya ternyata lebih kompleks.

1. KETIKA UMAT ISLAM PERNAH MENJADI PENGEMBANG ILMU PENGETAHUAN

Pada masa Abbasiyah, Baghdad berkembang menjadi salah satu pusat intelektual dunia.

Para ilmuwan mempelajari pengetahuan dari berbagai peradaban, kemudian mengembangkan teori dan penemuan baru.

Al-Khawarizmi memberikan kontribusi penting dalam perkembangan aljabar.

Ibn al-Haytham mengembangkan kajian optika melalui pengamatan dan pengujian.

Al-Razi dan Ibn Sina menghasilkan karya-karya kedokteran yang berpengaruh selama berabad-abad.

Menariknya, para ilmuwan tersebut tidak hidup dalam satu negara atau satu periode yang sama.

Mereka merupakan bagian dari jaringan intelektual luas yang menghubungkan berbagai wilayah peradaban Islam.

Kemajuan ilmu saat itu ditopang oleh perpustakaan, kegiatan penerjemahan, dukungan terhadap ilmuwan, dan tradisi diskusi ilmiah.

Pelajaran pentingnya adalah bahwa ilmu pengetahuan berkembang ketika masyarakat memiliki lingkungan yang mendukung kegiatan belajar dan penelitian.

Peradaban tidak menjadi maju hanya karena memiliki banyak orang pintar, tetapi karena mampu membangun sistem yang memungkinkan kecerdasan manusia berkembang.

2. DUNIA MODERN DITENTUKAN OLEH KEMAMPUAN BERINOVASI

Hari ini, kekuatan suatu negara tidak lagi hanya diukur melalui luas wilayah, jumlah penduduk, atau kekayaan alam.

Kemampuan menghasilkan teknologi dan pengetahuan baru menjadi semakin penting.

World Intellectual Property Organization (WIPO) menerbitkan Global Innovation Index atau Indeks Inovasi Global untuk menilai kemampuan dan hasil inovasi berbagai negara.

Dalam laporan tahun 2026, lima negara teratas adalah:

1. Swiss
2. Swedia
3. Amerika Serikat
4. Korea Selatan
5. Singapura

Tiongkok berada pada peringkat ke-10.

Uni Emirat Arab mencapai peringkat ke-25, sedangkan Arab Saudi berada pada peringkat ke-42.

Data tersebut memperlihatkan bahwa sejumlah negara Muslim mulai memperkuat ekosistem inovasinya, meskipun kemampuan antarnegaranya masih sangat berbeda.

Peringkat inovasi juga tidak hanya mengukur jumlah penemuan. Penilaiannya mencakup berbagai indikator, seperti pendidikan, infrastruktur, investasi, kelembagaan, dan hasil kegiatan inovasi.

Artinya, kemajuan teknologi membutuhkan ekosistem, bukan hanya kecerdasan individu.

3. MENGAPA DANA PENELITIAN BEGITU PENTING?

Penelitian membutuhkan biaya.

Laboratorium harus dibangun, peralatan harus tersedia, peneliti memerlukan dukungan, dan proses pengembangan teknologi sering berlangsung bertahun-tahun.

Salah satu indikator penting adalah pengeluaran penelitian dan pengembangan atau research and development (R&D) sebagai persentase produk domestik bruto.

Menurut data Bank Dunia untuk tahun 2023, Korea Selatan mengalokasikan sekitar 4,94 persen PDB untuk kegiatan R&D.

Amerika Serikat sekitar 3,45 persen, sedangkan Tiongkok sekitar 2,58 persen.

Angka tersebut menunjukkan besarnya komitmen sumber daya yang diarahkan untuk menghasilkan pengetahuan dan teknologi.

Namun, dana penelitian saja tidak cukup.

Penggunaannya harus didukung tata kelola yang baik, peneliti yang kompeten, laboratorium yang memadai, serta hubungan kuat antara universitas dan dunia industri.

Tanpa itu, penelitian dapat menghasilkan laporan dan publikasi, tetapi tidak selalu berkembang menjadi teknologi yang bermanfaat.

4. MENGAPA BANYAK PENELITIAN TIDAK MENJADI INOVASI?

Di banyak perguruan tinggi, dosen dan mahasiswa menghasilkan skripsi, tesis, disertasi, dan artikel ilmiah.

Namun, tidak semua hasil penelitian berlanjut menjadi produk, kebijakan, atau penyelesaian masalah masyarakat.

Mengapa?

Salah satu penyebabnya adalah lemahnya hubungan antara dunia akademik dan kebutuhan nyata masyarakat.

Penelitian sering berhenti setelah dipublikasikan.

Padahal, hasil penelitian dapat dikembangkan lebih jauh.

Misalnya, penelitian tentang pengelolaan sampah dapat menghasilkan sistem pengolahan yang diterapkan di masyarakat.

Penelitian pendidikan dapat menghasilkan metode pembelajaran yang meningkatkan kemampuan siswa.

Penelitian ekonomi syariah dapat membantu pengembangan tata kelola keuangan yang lebih adil dan transparan.

Penelitian dakwah digital dapat menghasilkan panduan literasi keagamaan untuk menghadapi disinformasi dan penyalahgunaan kecerdasan buatan.

Karena itu, ukuran keberhasilan penelitian tidak cukup hanya berdasarkan jumlah publikasi.

Penelitian yang baik perlu memiliki ketepatan ilmiah, kebaruan, integritas, dan peluang memberikan manfaat nyata.

5. APAKAH SEMUA NEGARA MUSLIM TERTINGGAL?

Jawabannya tidak.

Kondisi negara-negara Muslim sangat beragam.

Uni Emirat Arab mengembangkan investasi dalam kecerdasan buatan, infrastruktur digital, dan pendidikan tinggi.

Arab Saudi memperluas pengembangan teknologi serta diversifikasi ekonomi.

Turki memiliki kemampuan industri dan teknologi pada berbagai sektor.

Malaysia mengembangkan industri elektronik, manufaktur, dan pendidikan tinggi.

Indonesia juga memperlihatkan perkembangan dalam ekonomi digital, penelitian, dan inovasi.

Dalam laporan WIPO 2025, Indonesia berada pada peringkat ke-55 dan termasuk negara yang menunjukkan kinerja inovasi lebih baik daripada yang diperkirakan berdasarkan tingkat pembangunannya.

Namun, kemajuan tersebut belum berarti seluruh kebutuhan teknologi dapat dipenuhi secara mandiri.

Bahkan negara maju pun masih saling bergantung dalam perdagangan, produksi, dan pengembangan teknologi.

Karena itu, kemandirian teknologi bukan berarti menolak teknologi asing atau harus membuat semua produk sendiri.

Kemandirian berarti memiliki kemampuan memahami, mengembangkan, menggunakan, dan menentukan arah pemanfaatan teknologi sesuai kebutuhan masyarakat.

6. KECERDASAN BUATAN: PELUANG BESAR ATAU KETERGANTUNGAN BARU?

Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menghadirkan tantangan baru.

AI dapat membantu pendidikan, penelitian, pelayanan kesehatan, penerjemahan, dan pengolahan informasi.

Namun, pengembangan AI juga memerlukan infrastruktur komputasi, data, tenaga ahli, energi, dan investasi besar.

Negara atau lembaga yang hanya menggunakan teknologi AI tanpa memahami cara kerja dan keterbatasannya berisiko mengalami ketergantungan.

Dalam pendidikan Islam, persoalan ini semakin menarik.

Mahasiswa dapat menggunakan AI untuk mencari referensi dan mengembangkan gagasan.

Pendakwah dapat memanfaatkannya untuk membantu menyiapkan bahan kajian.

Lembaga pendidikan dapat menggunakannya untuk mendukung pembelajaran.

Namun, AI juga dapat menghasilkan informasi yang keliru, termasuk kutipan ayat, hadis, dan pendapat ulama yang tidak tepat.

Karena itu, kemampuan menggunakan AI harus disertai literasi ilmiah dan etika.

AI dapat menjadi alat bantu dalam pembelajaran agama, tetapi tidak boleh menggantikan tanggung jawab keilmuan, verifikasi sumber, dan otoritas ulama yang kompeten.

7. AL-QUR’AN DAN TRADISI MEMBANGUN ILMU

Islam memberikan kedudukan penting kepada ilmu pengetahuan.

Allah Swt. berfirman:

ุงู‚ู’ุฑูŽุฃู’ ุจูุงุณู’ู…ู ุฑูŽุจู‘ููƒูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ุฎูŽู„ูŽู‚ูŽ

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.”

(QS. Al-‘Alaq [96]: 1)

Perintah membaca menjadi bagian penting dari wahyu pertama yang diterima Rasulullah ๏ทบ.

Membaca dalam kehidupan manusia membuka jalan untuk memahami, mempelajari, dan mengembangkan pengetahuan.

Allah Swt. juga berfirman:

ู‚ูู„ู’ ู‡ูŽู„ู’ ูŠูŽุณู’ุชูŽูˆููŠ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ูŠูŽุนู’ู„ูŽู…ููˆู†ูŽ ูˆูŽุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ู„ูŽุง ูŠูŽุนู’ู„ูŽู…ููˆู†ูŽ

“Katakanlah, ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?'”

(QS. Az-Zumar [39]: 9)

Ayat ini mengingatkan tentang kedudukan orang yang memiliki pengetahuan.

Namun, penghormatan terhadap ilmu harus diwujudkan dalam kehidupan nyata.

Tidak cukup hanya mengutip ayat mengenai keutamaan ilmu apabila budaya membaca, meneliti, berdiskusi, dan mengembangkan pengetahuan belum menjadi kebiasaan.

Menghormati ilmu berarti menyediakan ruang bagi ilmu untuk tumbuh.

8. PESANTREN DAN UNIVERSITAS ISLAM: DARI PUSAT PEMBELAJARAN MENUJU PUSAT SOLUSI

Pesantren memiliki warisan pendidikan yang sangat penting dalam kehidupan umat Islam.

Di dalamnya terdapat tradisi membaca kitab, mempelajari bahasa Arab, memahami fikih, menelusuri sanad keilmuan, dan membangun akhlak.

Tradisi tersebut merupakan modal intelektual dan moral yang berharga.

Namun, tantangan masyarakat terus berkembang.

Santri hari ini juga hidup di tengah persoalan perubahan iklim, ekonomi digital, kecerdasan buatan, ketahanan pangan, dan perubahan sosial.

Karena itu, pesantren dapat memperluas perannya melalui penguatan literasi sains, teknologi, kewirausahaan, dan pemberdayaan masyarakat tanpa meninggalkan kekhasan pendidikan agamanya.

Demikian pula perguruan tinggi Islam.

Kajian tafsir, hadis, fikih, dakwah, dan pemikiran Islam dapat berdialog dengan ilmu sosial, kesehatan, ekonomi, lingkungan, dan teknologi.

Misalnya, kajian maqฤแนฃid al-syarฤซโ€˜ah dapat membantu membangun kerangka etis untuk menilai penggunaan teknologi.

Kajian dakwah dapat mengembangkan strategi komunikasi keagamaan yang lebih bertanggung jawab di ruang digital.

Kajian fikih muamalah dapat memberikan kontribusi terhadap persoalan ekonomi dan keuangan modern.

Integrasi ilmu bukan berarti semua disiplin harus dilebur menjadi satu, melainkan membangun kerja sama ilmiah untuk memahami persoalan secara lebih utuh.

9. DAKWAH TIDAK CUKUP HANYA MENGAJAK UMAT MENCINTAI ILMU

Selama ini, banyak ceramah mengingatkan pentingnya menuntut ilmu.

Pesan tersebut tentu sangat penting.

Namun, masyarakat juga membutuhkan jalan nyata untuk mengembangkan ilmu.

Anak-anak memerlukan sekolah yang bermutu.

Mahasiswa membutuhkan pembimbing dan fasilitas penelitian.

Dosen membutuhkan lingkungan akademik yang menghargai integritas dan kreativitas.

Para peneliti memerlukan kesempatan bekerja sama dengan masyarakat dan industri.

Di sinilah dakwah dapat memainkan peran yang lebih luas.

Masjid dapat menjadi pusat literasi dan pendidikan masyarakat.

Pesantren dapat mengembangkan laboratorium pembelajaran dan program keterampilan.

Organisasi Islam dapat menyediakan beasiswa serta mendukung penelitian yang bermanfaat.

Perguruan tinggi Islam dapat membangun kerja sama riset lintas negara dan lintas disiplin.

Dakwah juga perlu menumbuhkan budaya menghargai keahlian.

Dalam persoalan agama, masyarakat perlu merujuk kepada ulama yang kompeten.

Dalam persoalan kesehatan, masyarakat memerlukan tenaga medis yang kompeten.

Dalam persoalan teknologi, masyarakat perlu mendengarkan ahli yang memahami bidangnya.

Menghormati ilmu berarti menghormati kompetensi, bukti, dan tanggung jawab dalam setiap bidang pengetahuan.

10. BAGAIMANA MEMBANGUN KEMANDIRIAN ILMU PENGETAHUAN?

Ada beberapa langkah yang dapat menjadi perhatian bersama.

Pertama, memperkuat kualitas pendidikan dasar hingga perguruan tinggi.

Kedua, meningkatkan dukungan terhadap penelitian yang bermutu dan berkelanjutan.

Ketiga, membangun kerja sama antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, dan masyarakat.

Keempat, memperluas penguasaan teknologi digital dan kecerdasan buatan secara kritis.

Kelima, mengembangkan budaya akademik yang jujur, terbuka terhadap kritik, dan menghargai proses ilmiah.

Keenam, memperkuat kerja sama penelitian antarnegara Muslim sekaligus dengan lembaga ilmiah internasional lainnya.

Ketujuh, memastikan hasil ilmu pengetahuan dapat membantu menyelesaikan persoalan nyata masyarakat.

Langkah-langkah tersebut tidak akan menghasilkan perubahan dalam waktu singkat.

Namun, sejarah menunjukkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan merupakan hasil dari usaha panjang yang dijalankan secara konsisten.

PENUTUP: DARI PENGGUNA TEKNOLOGI MENJADI PEMBANGUN PERADABAN

Umat Islam memiliki warisan ilmu pengetahuan yang besar.

Namun, kebanggaan terhadap al-Khawarizmi, Ibn Sina, dan Ibn al-Haytham seharusnya tidak berhenti pada cerita sejarah.

Warisan mereka mengajarkan pentingnya keberanian berpikir, ketekunan meneliti, dan kesediaan mengembangkan pengetahuan.

Hari ini, umat Islam tidak harus menciptakan seluruh teknologi sendiri.

Namun, umat perlu memiliki kemampuan untuk memahami, mengembangkan, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Kita membutuhkan generasi yang mampu membaca kitab sekaligus memahami perubahan zaman.

Generasi yang menjaga akhlak sekaligus memiliki kemampuan ilmiah.

Generasi yang tidak hanya menggunakan kecerdasan buatan, tetapi juga memahami peluang, keterbatasan, dan dampaknya terhadap manusia.

Sebab, masa depan peradaban tidak hanya ditentukan oleh siapa yang paling banyak menggunakan teknologi.

Tetapi juga oleh siapa yang mampu mengembangkan pengetahuan dan mengarahkannya untuk kebaikan.

Barangkali pertanyaan yang perlu kita ajukan hari ini bukan lagi:

“Mengapa dahulu umat Islam memiliki begitu banyak ilmuwan besar?”

Melainkan:

“Apa yang sedang kita lakukan untuk menyiapkan ilmuwan, pendidik, peneliti, dan pemimpin yang akan memberikan manfaat bagi generasi mendatang?”

Karena sesungguhnya, ilmu yang diwariskan adalah kekayaan, tetapi ilmu yang terus dikembangkan merupakan kekuatan untuk membangun masa depan.

REFERENSI DAN BACAAN LANJUTAN

1. World Intellectual Property Organization. (2026). Global Innovation Index 2026.
https://www.wipo.int/global_innovation_index/

2. World Intellectual Property Organization. (2025). Global Innovation Index 2025.
https://www.wipo.int/web-publications/global-innovation-index-2025/

3. World Bank. Research and Development Expenditure (% of GDP).
https://data.worldbank.org/indicator/GB.XPD.RSDV.GD.ZS

4. UNESCO Institute for Statistics. Research and Development Statistics.
https://uis.unesco.org/

5. George Saliba. (2007). Islamic Science and the Making of the European Renaissance. MIT Press.

6. Dimitri Gutas. (1998). Greek Thought, Arabic Culture. Routledge.

7. Al-Qur’an, QS. Al-‘Alaq [96]: 1 dan QS. Az-Zumar [39]: 9.

ZAWIYAH JAKARTA
Kajian Islam, Dakwah, dan Peradaban

Bersambung ke Seri 6:

GLOBALISASI DAN PERUBAHAN KEHIDUPAN MUSLIM: ANTARA IDENTITAS, BUDAYA, DAN NILAI

Memahami bagaimana globalisasi memengaruhi keluarga Muslim, generasi muda, budaya, pendidikan, dan cara masyarakat menjalankan kehidupan beragama.

Semoga tulisan ini menguatkan kesadaran bahwa membangun peradaban memerlukan ilmu, kerja keras, akhlak, dan keberanian menghadapi perubahan zaman.

========
Maโ€™had Aly Zawiyah Jakarta kembali membuka Penerimaan Mahasantri Baru untuk Program Non-Formal:
S1 Ilmu Fiqih โ€“ Durasi 4 Tahun
S2 Ilmu Fiqih & Ushul Fiqih โ€“ Durasi 2 Tahun
Kuliah setiap Sabtu & Ahad
Pukul 07.15 โ€“ 15.30 WIB
Jakarta Timur (offline & full interaksi)
—
Lokasi: Gedung Yayasan Terpadu Shibghatullah
Jl. Budi Harapan No. 40, Cipinang Melayu, Jakarta Timur
Kontak: Ci Mia โ€“ +62 812-1037-5150

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *