Kesalahan Fatal: Menjadikan Iblis sebagai Contoh Ahli Ilmu Yang Tidak Berakhlak dengan Maksud Merendahkan Ahli Ilmu

Kesalahan Fatal:  Yang Tidak Berakhlak dengan Maksud Merendahkan Ahli Ilmu

Oleh: Hayat Abdul Latief

Sebagian orang bodoh sering menjadikan Iblis sebagai contoh “ahli ilmu yang tidak berakhlak” untuk merendahkan pentingnya ilmu. Ini adalah kekeliruan besar. Iblis tidak pernah disebut sebagai ahli ilmu yang sejati. Kesalahannya bukan karena ilmu, tetapi karena kesombongan dan pembangkangan terhadap perintah Allah SWT – dan itu tandanya tidak berakhlak kepada-Nya. Allah SWT berfirman:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَـٰٓئِكَةِ ٱسْجُدُوا۟ لِـَٔادَمَ فَسَجَدُوٓا۟ إِلَّآ إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَٱسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ ٱلْكَـٰفِرِينَ

“Dan (ingatlah) ketika Kami berkata kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam!’ Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 34)

Yang tidak berakhlak tidak pantas disebut sebagai ahli ilmu, karena ilmu sejati adalah yang membuahkan ketakwaan, kerendahan hati, dan amal yang mulia. Ilmu sejati akan melahirkan ketakwaan dan akhlak mulia. Allah SWT berfirman,

إنما يخشى الله من عباده العلماء

“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah para ulama.” (QS. Fatir: 28)

Dengan demikian, menjadikan Iblis sebagai contoh “ahli ilmu tanpa akhlak” adalah kekeliruan besar. Karena ciri ahli ilmu adalah yang takut kepada Allah SWT. Sebaliknya, orang yang benar-benar berilmu pasti memiliki akhlak yang tinggi, karena akhlak sejati adalah buah dari ilmu yang benar.

…….

Dalam kehidupan, akhlak dan ilmu adalah dua hal yang saling melengkapi. Namun, ada sebagian orang yang salah memahami makna akhlak dan ilmu. Mereka mengusung semboyan “akhlak lebih utama daripada ilmu” dengan maksud merendahkan ahli ilmu. Padahal, mereka sendiri bodoh dan tidak memiliki ilmu. Sikap seperti ini adalah tanda kejahilan yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Islam menempatkan ilmu dan akhlak pada posisi yang mulia. Ilmu adalah cahaya yang membimbing, dan akhlak adalah cerminan dari ilmu tersebut. Akhlak yang benar justru menuntut kita untuk menghormati orang yang berilmu, bukan merendahkannya. Allah SWT berfirman,

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُو۟لُوا۟ الْأَلْبَٰبِ

“Katakanlah, apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya hanya orang yang berakal yang dapat mengambil pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9)

Semboyan “akhlak lebih utama daripada ilmu” sering disalahgunakan. Sebenarnya, maksud dari semboyan ini adalah ilmu harus dihiasi dengan akhlak. Imam Malik pernah berkata:

تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم

“Pelajarilah adab (akhlak) sebelum mempelajari ilmu.”

Orang yang mengaku mengutamakan akhlak tetapi membenci ahli ilmu menunjukkan bahwa akhlaknya cacat. Akhlak sejati lahir dari ilmu yang benar. Dengan demikian, menjadikan Iblis sebagai contoh “ahli ilmu tanpa akhlak” adalah kekeliruan besar. Sebaliknya, orang yang benar-benar berilmu pasti memiliki akhlak yang tinggi, karena akhlak sejati adalah buah dari ilmu yang benar.

Bahaya Merendahkan Ahli Ilmu

Merendahkan ahli ilmu adalah dosa besar. Merendahkan ahli ilmu bukanlah tanda akhlak mulia, tetapi tanda kesombongan yang lahir dari kebodohan. Imam Abu Hanifah berkata:

من استخفّ بالعلماء ذهبت آخرته

“Barang siapa yang meremehkan ulama, maka akhiratnya akan hilang.”

Islam sangat memuliakan ilmu dan ahli ilmu. Allah SWT berfirman:

يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍۚ

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

Rasulullah SAW bersabda:

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan, maka Allah akan memahamkannya dalam agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Akhlak harus dibimbing oleh ilmu. Tanpa ilmu, akhlak seseorang akan sesat. Sebagai contoh, orang yang tidak berilmu bisa saja bersikap kasar dengan dalih “jujur” atau bersikap fanatik tanpa dalil. Maka, akhlak yang benar adalah hasil dari ilmu yang benar.

Ilmu tanpa akhlak adalah kesombongan dan akhlak tanpa ilmu adalah kebodohan. Orang yang memiliki ilmu tetapi sombong akan dibenci. Namun, orang yang mengaku berakhlak tetapi membenci ahli ilmu justru lebih buruk. Imam Asy-Syafi’i berkata:

طلب العلم أفضل من صلاة النافلة

“Menuntut ilmu lebih utama daripada shalat sunnah.”

Orang yang menghina ulama menunjukkan kejahilannya. Merendahkan ahli ilmu adalah tanda hilangnya akhlak yang sesungguhnya. Rasulullah SAW bersabda:

ليس منا من لم يوقر كبيرنا ولم يرحم صغيرنا ويعرف لعالمنا حقه

“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati orang yang lebih tua, tidak menyayangi yang lebih muda, dan tidak mengetahui hak ulama kami.” (HR. Ahmad)

Ahli ilmu merupakan oewaris para nabi. Rasulullah SAW bersabda:

إن العلماء ورثة الأنبياء

“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi)

Jika ulama adalah pewaris nabi, maka merendahkan mereka sama saja dengan merendahkan warisan kenabian.

Akhlak yang Benar: Menghormati Ahli Ilmu

Akhlak yang baik adalah menghormati orang yang lebih berilmu. Imam Ahmad bin Hanbal berkata:

الناس إلى العلم أحوج منهم إلى الطعام والشراب، لأن الطعام والشراب يحتاج إليه في اليوم مرة أو مرتين، والعلم يحتاج إليه في كل وقت

“Manusia lebih membutuhkan ilmu daripada makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman hanya dibutuhkan sekali atau dua kali sehari, sedangkan ilmu dibutuhkan setiap saat.”

Kesombongan: Ciri Orang Bodoh

Orang yang meremehkan ilmu dengan alasan akhlak sebenarnya menunjukkan sifat sombong. Merendahkan ahli ilmu adalah bentuk kesombongan terhadap kebenaran. Rasulullah SAW bersabda:

الكبر بطر الحق وغمط الناس

“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.” (HR. Muslim)

Akhlak yang sejati dimulai dari menuntut ilmu. Rasulullah SAW bersabda:

طلب العلم فريضة على كل مسلم

“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah)

Orang yang benar-benar memiliki akhlak tidak akan meremehkan kewajiban menuntut ilmu dan menghormati ahli ilmu.

…….

Khulashatul qaul, akhlak dan ilmu tidak boleh dipertentangkan. Akhlak tanpa ilmu adalah kejahilan, dan ilmu tanpa akhlak adalah kesesatan. Orang yang mengaku mengutamakan akhlak tetapi merendahkan ahli ilmu menunjukkan kebodohan dan kesombongan. Islam mengajarkan kita untuk menghormati ahli ilmu sebagai bagian dari akhlak yang mulia. Wallahu a’lam.

Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk orang-orang yang terus menuntut ilmu dengan dihiasi akhlak yang benar! Aamiin!

Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat!

(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Alumni Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *