30 HARI BERSAMA RASULULLAH ﷺ : Hari 02 — Seorang Nabi yang Tumbuh Bersama Kehilangan*

🌿 *30 HARI BERSAMA RASULULLAH ﷺ*
*Hari 02 — Seorang Nabi yang Tumbuh Bersama Kehilangan*
Tidak semua kehilangan membuat seseorang menjadi lemah.
Ada kehilangan yang justru diam-diam membentuk kedalaman jiwa.
Rasulullah Muhammad ﷺ mengenal kehilangan bahkan sejak awal kehidupannya.
Ayah beliau, ‘Abdullāh, telah wafat ketika beliau masih sangat kecil—dalam riwayat sīrah yang masyhur, sebelum beliau dilahirkan.
Beliau datang ke dunia tanpa sempat merasakan pelukan seorang ayah.
Kemudian ketika berusia sekitar enam tahun, ibunda beliau, Āminah binti Wahb, wafat dalam perjalanan pulang dari Yatsrib menuju Makkah, di sebuah tempat bernama al-Abwā’.
Bayangkan seorang anak kecil.
Dalam perjalanan bersama ibunya, lalu harus pulang tanpa ibunya.
Setelah itu beliau diasuh oleh kakeknya, ‘Abd al-Muṭṭalib.
Tetapi sekitar dua tahun kemudian, orang yang menjadi tempat perlindungannya itu pun meninggal.
Beliau kembali kehilangan.
Ayah.
Ibu.
Kemudian kakek.
Sebelum mencapai usia dewasa, Muhammad ﷺ telah mengenal bahwa orang-orang yang kita cintai tidak selalu tinggal bersama kita selamanya.
Al-Qur’an kemudian mengingatkan beliau:
«أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ»
“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia memberikan perlindungan?”
(QS. al-Ḍuḥā [93]: 6)
Perhatikan bagaimana Allah berbicara tentang masa lalu Nabi-Nya.
Allah tidak mengatakan bahwa beliau tidak pernah mengalami kehilangan.
Allah justru mengakui keadaan itu:
يَتِيمًا — seorang yatim.
Tetapi setelah kata tentang kehilangan itu, Allah menghadirkan kata yang menenangkan:
فَآوَىٰ — lalu Dia memberikan perlindungan.
Seakan ada pesan yang sangat lembut:
Kehilangan manusia tidak berarti kehilangan penjagaan Allah.
Dan yang lebih mengagumkan, pengalaman kehilangan tidak membuat Rasulullah ﷺ tumbuh menjadi manusia yang keras.
Justru sebaliknya.
Kelak beliau menjadi manusia yang sangat peka terhadap anak yatim, orang miskin, orang lemah, budak, janda, musafir, dan mereka yang sering tidak diperhatikan masyarakat.
Barangkali karena seseorang yang pernah merasakan sepi akan mengenali kesepian orang lain dengan cara yang berbeda.
Seseorang yang pernah kehilangan tahu bahwa ada luka yang tidak membutuhkan banyak nasihat.
Kadang ia hanya membutuhkan seseorang yang tinggal di sisinya.
🌱 *Jejak Jiwa*
Ada orang yang kehilangan ayah.
Ada yang kehilangan ibu.
Ada yang kehilangan pasangan.
Ada yang kehilangan anak.
Ada pula yang orang-orang tercintanya masih hidup, tetapi ia kehilangan tempat untuk pulang secara batin.
Tidak semua kehilangan terlihat.
Dan tidak semua orang yang tersenyum sedang hidup tanpa luka.
Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita sesuatu yang sangat indah:
masa lalu yang menyakitkan tidak harus melahirkan hati yang menyakitkan orang lain.
Kita tidak dapat memilih seluruh peristiwa yang datang dalam kehidupan.
Tetapi dengan pertolongan Allah, kita dapat memilih:
apakah luka itu akan membuat kita semakin keras,
atau justru membuat kita semakin mampu memahami luka manusia lain.
Allah mengingatkan Rasulullah ﷺ sesudah menyebut masa yatim beliau:
«فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ»
“Maka terhadap anak yatim, janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.”
(QS. al-Ḍuḥā [93]: 9)
Betapa indah urutannya.
Allah mengingatkan beliau tentang luka masa kecilnya, kemudian mengarahkannya menjadi kasih kepada orang lain.
Mungkin di situlah salah satu rahasia penyembuhan jiwa:
jangan biarkan luka berhenti sebagai luka.
Ubahlah ia menjadi rahmah.
Jika kita pernah tidak didengarkan, belajarlah mendengarkan.
Jika kita pernah ditinggalkan, jangan mudah meninggalkan.
Jika kita pernah diremehkan, jangan meremehkan.
Jika kita pernah menangis sendirian, jadilah orang yang menemani tangisan orang lain.
Karena terkadang Allah tidak menghapus masa lalu kita.
Allah menjadikannya jalan agar hati kita mampu memahami manusia lebih dalam.
*Renungan hari ini*
Luka apa dalam hidup saya yang selama ini hanya saya tangisi—padahal mungkin Allah ingin mengubahnya menjadi jalan untuk mengasihi orang lain?
Tidak perlu menjawabnya kepada siapa pun.
Bawa pertanyaan itu ke dalam doa.
Dan ketika Maulid datang, mari mencintai Rasulullah ﷺ bukan hanya karena kemuliaan beliau,
tetapi juga dengan mengenal perjalanan manusiawi yang Allah pilih untuk membentuk hati beliau.
Dari seorang anak yang mengenal kehilangan,
lahirlah seorang Nabi yang membawa rahmat bagi seluruh alam.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ﷺ
#JejakJiwa #30HariBersamaRasulullah #MaulidNabi #zawiyahjakarta #mahadaly
