RASA MALU.
Oleh : Syasli. L.Sidi
Mahasiswa Ma’had Aly Zawiyah Jakarta.

Saudara-saudaraku sekalian yang dirahmati Allah,
Pada kesempatan ini mari kita renungkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dari sahabat Abu Mas‘ud Al-Badri radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الْأُوْلَى، إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ”
HR.Bukhari: 3484
“Sesungguhnya di antara hal yang didapati manusia dari perkataan para Nabi terdahulu adalah: Jika kamu tidak punya rasa malu, maka lakukanlah apa yang kamu mau.”

Hadis ini memberi kita pelajaran besar: bahwa rasa malu adalah warisan dari ajaran para Nabi sejak dulu. Rasa malu bukan perkara kecil, bukan sekadar perasaan, tapi benteng utama akhlak manusia.
Kalau seseorang sudah tidak punya malu, dia akan berani melakukan apa saja. Tidak takut dosa, tidak peduli aib, tidak peduli halal haram. Maka benarlah kata Nabi, “kalau tidak malu, silakan berbuat sesukamu” — artinya dia sudah tidak punya kendali lagi.
Hari ini, kita melihat gejala itu nyata di depan mata. Banyak orang melakukan maksiat terang-terangan, bahkan bangga. Korupsi dilakukan tanpa beban, zina diumbar di media sosial, membunuh pun kadang tanpa rasa bersalah. Kenapa? Karena malu sudah hilang dari hati.
Padahal dalam hadis lain, Nabi bersabda: “الْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ” — “Malu adalah bagian dari iman.” (HR. Muslim). Artinya, kalau malu hilang, bisa jadi imannya juga sedang rusak.

Dalam Al-Qur’an pun banyak isyarat tentang pentingnya rasa malu. Misalnya dalam surah Al-Ahzab ayat 53, Allah memerintahkan para sahabat untuk berbicara dengan istri-istri Nabi dari balik hijab. Allah berfirman: “Itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka.” Ini bentuk nyata adab dan rasa malu.
Rasa malu juga membuat seseorang menjaga pandangan, menjaga aurat, menjaga lisan. Coba lihat ayat dalam surah An-Nur, Allah perintahkan orang beriman, baik laki-laki maupun perempuan, untuk menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan mereka. Kenapa? Karena itu bagian dari rasa malu.
Kita lihat juga contoh dari para sahabat. Utsman bin ‘Affan dikenal sangat pemalu, sampai-sampai Nabi bersabda, “Tidakkah aku malu kepada orang yang malaikat pun malu kepadanya?” Ini menunjukkan bahwa rasa malu itu bukan kelemahan, tapi keutamaan.
Aisyah radhiyallahu ‘anha, istri Nabi, ketika Rasulullah telah wafat dan dimakamkan di kamarnya, ia tetap memakai hijab ketika ada orang lain masuk. Ia berkata, “Aku merasa malu kepada Rasulullah.” Padahal beliau sudah wafat. Luar biasa rasa malunya!
Kalau para salaf dulu malu meski dalam keadaan sepi, bagaimana dengan kita sekarang yang di tempat ramai saja berani bermaksiat?
Saudaraku sekalian,
Kalau kita ingin memperbaiki diri, keluarga, masyarakat, dan bangsa — mulailah dari rasa malu. Malu kepada Allah. Malu kepada malaikat. Malu kepada sesama. Malu berbuat dosa, meski tak ada yang melihat. Karena Allah Maha Melihat.
Malu itu bukan penghalang kemajuan. Justru malu itulah pagar yang menjaga kita dari kehancuran. Tanpa malu, seseorang bisa jadi cerdas tapi menipu. Bisa jadi kaya tapi korup. Bisa jadi berkuasa tapi zalim.
Maka mari kita tanamkan kembali rasa malu dalam diri kita, dalam pendidikan anak-anak kita, dalam kehidupan bermasyarakat. Karena rasa malu adalah salah satu penjaga iman.
Kalau tidak malu, kita akan berani berbuat apa saja. Tapi kalau punya malu, maka insya Allah kita akan takut pada dosa, takut pada aib, dan terjaga dari maksiat.
Semoga Allah jaga hati kita agar tidak mati rasa. Agar rasa malu terus hidup, dan iman terus tumbuh.
Amin, ya Rabbal ‘alamin.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *