Oleh: Setiyo Mahfudz Ashari
(Mahasiswa program S2 Ma’had Aly Zawiyah Jakarta, Pembimbing Rumah Tahfid Al Ikhlas, Kepala MI Andalusia Qur’anic School, Koordinator Tilawati Cibinong)
Apabila menilik sejarah yang tercatat berdasarkan Al Qur’an (surat Maryam: 25) [ Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. dan Injil Perjanjian Baru (Lukas 2 : 6-8) [Lukas 2:8 Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. ]
Pohon kurma berbuah masak tidak mungkin di musim dingin. Penggembala ternak tidak mungkin tinggal di padang menjaga ternaknya saat musim dingin berlangsung. Maka sangat tidak mungkin kelahiran Isa ‘Alaihis Salam terjadi pada musim dingin (Desember) Karena itu tidaklah tepat pengucapan selamat natal (25 Desember) dikaitkan dengan kelahiran Nabiyallah Isa ‘Alaihis Salam. Kalau begitu, ucapan selamat itu untuk siapa?
*Ucapan Selamat ternyata tidak selalu Selamat dari pertentangan*
Seorang ibu yang baru melahirkan lalu mendapatkan ucapan selamat atas kelahiran putra/putrinya adalah hal yang umum dan disepakati kebolehannya bahkan ada doa yang dipanjatkan agar sang putra/putrinya kelak selalu mendapatkan keberkahan hidup dan kebaikan-kebaikan di dunia dan akhirat. Setelah si bayi dari ibu tersebut berusia 1 tahun, 2 tahun atau lebih, pengucapan selamat pada hari lahirnya terdapat pro dan kontra.
Yang berpendapat tidak dibolehkannya pengucapan selamat pada hari lahir, mengaitkannya dengan larangan ber- tasyabbuh dengan kebiasaan kaum dari lain agama berdasarkan hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :
عن ابن عمر قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” من تشبه بقوم فهو منهم صحيح سنن أبي داود حكم الحديث: حسن
عن جده أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ” ليس منا من تشبه بغيرنا، لا تشبهوا باليهود، ولا بالنصارى ؛ فإن تسليم اليهود الإشارة بالأصابع، وتسليم النصارى الإشارة بالأكف سنن الترمذي حكم الحديث: حسن
Meskipun perlu diteliti lebih lanjut, benarkah budaya pengucapan “selamat hari lahir” mutlak dari agama tertentu diluar Islam atau hal yang bersifat umum secara kemanusiaan? Adapun yang berpendapat bolehnya pengucapan selamat hari lahir, mengambil dalil dari firman Allah Ta’ala dalam Al Qur’an dan Hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :
( وَسَلَـٰمٌ عَلَیۡه ِ یَوۡمَ وُلِدَ وَیَوۡمَ یَمُوتُ وَیَوۡمَ یُبۡعَثُ حَیࣰّا)
Dan kesejahteraan bagi dirinya pada hari lahirnya, pada hari wafatnya, dan pada hari dia dibangkitkan hidup kembali. [Surat Maryam 15] (Dalam penyebutan kisah Nabi Yahya ‘ Alaihis Salam .
Serta Firman Allah Ta’la:
(وَٱلسَّلَـٰمُ عَلَیَّ یَوۡمَ وُلِدتُّ وَیَوۡمَ أَمُوتُ وَیَوۡمَ أُبۡعَثُ حَیࣰّا)
“Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari kelahiranku, pada hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” [Surat Maryam 33] (Dalam penyebutan kisah Nabi Isa ‘Alaihis Salam)
Hadits Nabi dalam riwayat Muslim dengan derajat shohih:
1162 ( 197 ) عن أبي قتادة الأنصاري رضي الله عنه، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم سئل عن صومه، قال : فغضب رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقال عمر رضي الله عنه : رضينا بالله ربا، وبالإسلام دينا، وبمحمد رسولا، وببيعتنا بيعة، قال : فسئل عن صيام الدهر ؟ فقال : ” لا صام، ولا أفطر، أو ما صام، وما أفطر “. قال : فسئل عن صوم يومين، وإفطار يوم ؟ قال : ومن يطيق ذلك ؟ قال : وسئل عن صوم يوم وإفطار يومين ؟ قال : ” ليت أن الله قوانا لذلك “. قال : وسئل عن صوم يوم وإفطار يوم ؟ قال : ” ذاك صوم أخي داود عليه السلام “. قال : وسئل عن صوم يوم الاثنين ؟ قال : ” ذاك يوم ولدت فيه، ويوم بعثت، أو أنزل علي فيه “. قال : فقال : ” صوم ثلاثة من كل شهر، ورمضان إلى رمضان، صوم الدهر “. قال : وسئل عن صوم يوم عرفة ؟ فقال : ” يكفر السنة الماضية، والباقية “. قال : وسئل عن صوم يوم عاشوراء ؟ فقال : ” يكفر السنة الماضية “. وفي هذا الحديث من رواية شعبة، قال : وسئل عن صوم يوم الاثنين والخميس ؟ فسكتنا عن ذكر الخميس لما نراه وهما صحيح مسلم
(Yg tercetak tebal) Dan ditanyakan tentang puasa hari senin; Beliau bersabda: “Pada hari (senin) tersebut aku dilahirkan, dan aku diutus (menjadi Rasul) atau (awal) diturunkan wahyu kepadaku.” …..
Bagaimana keterkaitannya dengan istilah natal (25 Desember)? Natal dalam kamus besar Bahasa Indonesia adalah natal/na·tal/ n 1 kelahiran seseorang; 2 kelahiran Isa Almasih (Yesus Kristus): hari — , hari raya untuk memperingati kelahiran Isa Almasih (tanggal 25 Desember) https://kbbi.web.id/natal
*Siapakah Yesus menurut kristiani?*
Dalam pandangan kristiani Isa Al Masih disebut sebagai Yesus. Yesus (Firman) sifatnya ilahi sejak permulaan dan menjadi seorang manusia. Ada dalam Alkitab, ”Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. … Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran” (Yohanes 1:1,14). Dengan demikian, menurut keyakinan umat Kristiani Isa Al Masih (Yesus) adalah anak tunggal Bapa (Tuhan).
Ketika istilah Natal disebutkan maka secara otomatis akan dipahami sebagai sesuatu yang sangat terkait dengan keyakinan umat Kristiani. Meskipun dalam KBBI diantaranya memiliki arti kelahiran seseorang. Sebab, secara umum, ketika ada seorang anak lahir, maka diucapkan Selamat atas kelahiran ananda …. atau kata yang dengan jelas menyebutkan kata “lahir”. Tidak lazim diucapkan Selamat atas natalnya ananda …. atau yg sejenisnya dengan penyebutan kata “natal” sebagai ganti kata “lahir”. Karena itulah dapat disimpulkan, natal adalah kelahiran Isa Almasih (Yesus Kristus) anak Bapa (Tuhan). Jika dikaitkan dengan penyebutan hari natal, maka maksudnya adalah hari raya untuk memperingati kelahiran Isa Almasih / Yesus anak Bapa (Tuhan). Sampai disini menjadi jelas apabila seseorang mengucapkan “selamat natal”, secara langsung akan dapat dipahami ucapan selamat yang terkait dengan keyakinan umat kristiani.
Adakah tanggapan hal ini dalam Al Qur’an?
Allah Ta’ala berfirman dalam Al Qur’an:
(وَقَالُوا۟ ٱتَّخَذَ ٱلرَّحۡمَـٰنُ وَلَدࣰا)
Dan mereka berkata, “(Allah) Yang Maha Pengasih mempunyai anak.” [Surat Maryam 88]
(لَّقَدۡ جِئۡتُمۡ شَیۡـًٔا إِدࣰّا)
Sungguh, kamu telah membawa sesuatu yang sangat mungkar, [Surat Maryam 89]
(تَكَادُ ٱلسَّمَـٰوَ ٰتُ یَتَفَطَّرۡنَ مِنۡهُ وَتَنشَقُّ ٱلۡأَرۡضُ وَتَخِرُّ ٱلۡجِبَالُ هَدًّا)
hampir saja langit pecah, dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh, (karena ucapan itu), [Surat Maryam 90]
(أَن دَعَوۡا۟ لِلرَّحۡمَـٰنِ وَلَدࣰا)
karena mereka menganggap (Allah) Yang Maha Pengasih mempunyai anak. [Surat Maryam 91]
(وَمَا یَنۢبَغِی لِلرَّحۡمَـٰنِ أَن یَتَّخِذَ وَلَدًا)
Dan tidak mungkin bagi (Allah) Yang Maha Pengasih mempunyai anak. [Surat Maryam 92]
Sampai disini semakin jelas, bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala sangat tidak menyukai kalimat yang mengandung pemahaman Tuhan memiliki anak. Bahkan ungkapan ketidak-sukaan-Nya diibaratkan dengan hampir pecahnya langit, terbelahnya bumi dan runtuhnya gunung sebagai ungkapan ketidaksukaan-Nya atas ucapan tersebut.
*Ucapan Selamat Natal hanya untuk basa-basi saja Sebagai ungkapan toleransi?*
Dalam pengucapan Selamat Natal oleh seorang Muslim terdapat syubhat yang besar. Diantara kesyubhatannya adalah:
1. Ketidakjelasan tanggal 25 Desember adalah kelahiran Isa Al Masih. Apakah benar tanggal tersebut sebagai hari kelahirannya? Yang secara fakta dalam kitab suci sangat berbeda. Jika ternyata hari itu adalah dinyatakannya hari kelahiran dewa matahari, maka pengucapan Selamat Natal akan menjadi ungkapan selamat atas kelahiran sesembahan selain Allah. Wal ‘iyaadzu billah.
2. Ketidakjelasan dan ketidakkonsistenan dalam penggunaan kata Natal untuk mengungkapkan kelahiran seseorang. Di kesempatan adanya kelahiran seorang bayi meggunakan istilah “lahir”, namun pengungkapan saat tanggal 25 Desember menggunakan istilah “natal”. Sudah tentu pengucapan kata natal akan identik dengan kristiani, tentu juga beserta pemahamannya.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:
سمعت النعمان بن بشير يقول : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : ” الحلال بين، والحرام بين، وبينهما مشبهات لا يعلمها كثير من الناس، فمن اتقى المشبهات استبرأ لدينه وعرضه، ومن وقع في الشبهات كراع يرعى حول الحمى يوشك أن يواقعه، ألا وإن لكل ملك حمى، ألا إن حمى الله في أرضه محارمه، ألا وإن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله، وإذا فسدت فسد الجسد كله، ألا وهي القلب صحيح البخاري
“Sesungguhnya yang halal itu sudah jelas dan yang haram juga sudah jelas. Namun di antara keduanya ada perkara syubhat (samar) yang tidak diketahui oleh banyak orang. Maka barang siapa menjauhi diri dari yang syubhat, berarti telah memelihara agamanya dan kehormatannya. Dan barang siapa sampai jatuh (mengerjakan) pada perkara-perkara syubhat (samar), sungguh dia jatuh pada perkara yang haram, seperti seorang gembala yang menggembalakan ternaknya di pinggir jurang yang dikhawatirkan akan jatuh ke dalamnya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki batasan dan ketahuilah bahwa batasan larangan Allah di bumi-Nya adalah apa-apa yang diharamkanNya. Dan ketahuilah, pada setiap tubuh ada segumpal darah yang apabila ia baik, maka baiklah tubuh tersebut, dan apabila rusak, maka rusaklah tubuh tersebut. Ketahuilah, ia adalah hati.”
Menjaga diri dari yang syubhat (samar) jauh lebih baik. Apalagi menghindarkan diri dari yang haram. Meskipun hanya sekedar basa-basi. Kalimat basa-basi, jika tidak diucapkan pun tidak akan menjadi masalah dalam pergaulan. Terlebih jika basa-basi tersebut ternyata malah menyebabkan ketidak-sukaan Allah Ta’ala. Ga berperasaan amat sih….Sama Allah Ta’ala cuek, padahal jelas-jelas Allah Azza Wa Jalla ga suka.Tapi sama orang yang belum tentu peduli, malah cari perhatian.
Wallahu a’lam.

