Oleh: Hayat Abdul Latief
*Haditsul Ifki*
Pada saat itu Aisyah pergi keluar untuk berhajat, yang pada saat itu Aisyah menggunakan kalung yang terdapat batu akik dari kota Zhifar. Ketika selesai berhajat, ternyata kalung yang dipakainya terlepas tanpa disadarinya. Maka, aisyah kembali ketempat rombongannya tadi untuk mencari kalung yang hilang. Namun sayang, kalung tersebut tidak berhasil ditemukan. Pada saat itu rombongan sudah bergerak melanjutkan perjalanan. Kemudian Aisyah kembali ke tempat berhajat tadi, untuk mencari kalungnya sehingga berhasil ditemukan. Dan rombongan sudah tidak terlihat lagi saat itu.
Kemudian Aisyah menetap ditempat tersebut dan tertidur. Saat tertidur, tiba-tiba Shafwan bin al-Muaththal as-Sulami berjalan melintas yang memang sengaja berjalan dibelakang kaum Muslimin untuk memenuhi kebutuhannya. Kemudian Shafwan mengampiri Aisyah yang kebetulan ia melihat wajahnya sebelum hijab diwajibkan saat itu. Dengan mengucap kalimat Istirja dan menanyakan prihal ketertinggalannya tersebut. Kemudian ia menyuruh Aisyah untuk menaiki untanya dan ia menuntun unta tersebut.
Pada saat rombongan sedang beristirahat di Madinah, datanglan Shafwan dengan menuntun unta yang membawa Aisyah. Ketika itulah para penyebar berita hoax dari kalangan munafiq bahwa Aisyah telah melakukan perselingkuhan di belakang Nabi dengan Shafwan. Maka, gemparlah seluruh penjuru Madinah, tetapi Aisyah sendiri tidak mendengar apapun mengenai gunjingan tentang dirinya karena setelah sampai di Madinah beliau menderita sakit.
Berita itu sampai terdengar ketelinga Rasulullah dan Abu Bakar, namun tidak menyeritakannya kepada Aisyah. Tetapi ada hal yang tidak biasa dari mereka, di mana Aisyah tidak lagi merasakan keramahan Beliau. Sebab, biasanya ketika Aisyah sakit Rasulullah saw. sangat menyayanginya dan sangat ramah. Namun kali itu, beliau tidak memberikannya kepada Aisyah dan hanya sekedar menanyakan keadaannya saja tidak lebih.
Ketika Aisyah meminta izin untuk pulang kepada orang tuanya dan dirawat oleh ibunya, Rasulullah tidak melarangnya sedikitpun. Sehingga Aisyah sakit selama 20 hari yang hanya dirawat oleh ibunya. Hingga suatu malam, Aisyah ditemani oleh Ummu Misthah binti Abu Ruhm bin Muthalib bin Abdu Manaf untuk berhajat. Dan pada saat itu pula Aisyah mendengar cerita dari Misthah mengenai gunjingan yang disebarkan oleh orang-orang Munafiq tersebut terhadap dirinya.
Aisyah tak menyangka bahwa fitnah itu menyebar luas dikalangan masyarakat. Aisyah tidak jadi buang hajat dan segera kembali ke rumah. Aisyah terus menangis hingga dia mengira tangisannya akan menghentikan detak jantungnya. Ibunya tidak mengatakan apapun tentang hal itu kepada Aisyah. Kemudian Rasulullah datang sambil mengucapkan syahadatain, lalu bersabda. “Wahai Aisyah, telah kudengar berita begini begitu terhadap kamu, kalu memang engkau bebas dari tuduhan tersebut tentu Allah akan membebaskanmu.
Kemudian aisyah beranjak berbaring ketempat tidur dan saat itu pula turunlah wahyu kepada Rasulullah surat An-Nur ayat 11 yang menjelaskan berita bohong tersebut:
إِنَّ ٱلَّذِينَ جَآءُو بِٱلْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِّنكُمْ ۚ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَّكُم ۖ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ لِكُلِّ ٱمْرِئٍ مِّنْهُم مَّا ٱكْتَسَبَ مِنَ ٱلْإِثْمِ ۚ وَٱلَّذِى تَوَلَّىٰ كِبْرَهُۥ مِنْهُمْ لَهُۥ عَذَابٌ عَظِيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.” (QS. An-Nur: 11)
Turunnya wahyu tersebut sama seperti sebelum-sebelumnya ketika beliau menerima wahyu, tubuh yang bertetesan keringat. Setelah itu berucaplah beliau kepada Aisyah “Bergembiralah, wahai Aisyah, sesungguhnya Allah telah membersihkan dirimu dari tuduhan”. Lalu ibunya berkata kepada Aisyah: Bangunlah! Sambutlah beliau!, Maka Aisyah menjawab: “Demi Allah, aku tidak akan bangun menyambut beliau. Aku hanya akan memuji syukur kepada Allah. Dialah yang telah menurunkan ayat al-Qur’an yang menyatakan kebersihanku.”
*Pembunuhan Karakter terhadap Habib Rizieq*
Habib Rizieq ‘dikasuskan’ dengan berbagai macam tuduhan merupakan upaya pembunuhan karakter dan dan fitnah keji terhadap beliau. Tujuannya sangat jelas yaitu kriminalisasi terhadap ulama dan tokoh yang tidak sepaham dengan alur penguasa dan pembusukan nama baik, agar umat tidak percaya kepada beliau. Beliau beberapa kali dilaporkan ke polisi oleh berbagai pihak. Kasusnya pun bermacam-macam. Mulai dari dugaan pencemaran nama baik, ujaran kebencian, sampai penodaan Pancasila. Banyak pihak menilai kasus-kasus hukum itu telah dipolitisasi.
Laporan terhadap Habib Rizieq, sebelum vonis 4 tahun penjara saat ini, datang dari Aliansi Mahasiswa Anti Pornografi, Senin, 30 Januari 2017. Aliansi itu melaporkan adanya konten pornografi yang melibatkan Rizieq Syihab dengan Ketua Yayasan Solidaritas Sahabat Cendana Firza Husein. Menurut Kapitra, pengaca saat itu, Firza termasuk korban dalam kasus ini. Keluarga dan pengacara Firza sendiri mengatakan foto-foto yang diduga Firza itu palsu.
Setelah Habib Rizieq Shihab divonis empat tahun penjara dalam perkara hasil tes swab Rumah Sakit (RS) Ummi Bogor di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Kamis (24/6/2021) pengamat hukum pidana dari Universitas Trisakti Abdul Fickar Hadjar menilai hukuman itu tidak adil. Ini karena Habib Rizieq sebelumnya pernah diproses hukum atas perbuatan yang sama, yaitu pelanggaran Undang-Undang (UU) Nomor 6/2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan.
Pada 28 Mei 2021 lalu, Habib Rizieq dijatuhi hukuman denda Rp20 juta subsider 5 bulan kurungan penjara oleh PN Jakarta Timur terkait kasus kerumunan di Megamendung, Jawa Barat. Fickar berpendapat bahwa vonis 4 tahun tersebut harus batal demi hukum. Terlebih, Fickar menambahkan, selama ini banyak pihak yang melakukan pelanggaran serupa HRS, tapi mereka tidak diproses hukum. Maka, jelas bahwa pengadilan dan penguasa telah berbuat dzalim (jahat/tak adil).
Mengapa Habib Rizieq begitu bertubi-tubi ingin dikriminalisasi, dicemarkan nama baiknya dan menjadi sasaran pembunuhan karakter? Menurut Kapitra, Tim Advokasi Gerakan Nasional Pembela Fatwa Majelis Ulama Indonesia, atau GNPFMUI pada waktu itu, setidaknya ada sembilan alasan yang terindikasi pihak Kepolisian mencari-cari alasan, agar Rizieq dapat dijatuhkan nama baiknya:
*Pertama,* adalah, Habib Rizieq adalah tokoh sentral dalam serangkaian aksi bela Islam yang beberapa waktu lalu dilakukan di Jakarta. *Kedua,* Habib Rizieq adalah orang yang memiliki andil besar atas kekalahan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) kalah di Pilgub DKI Jakarta. *Ketiga,* Habib Rizieq ikut dalam mengawal Pengadilan Jakarta Utara, yang memutus Ahok bersalah
*Keempat,* menurut Kapitra, Habib Rizieq sangat istiqomah menolak fitnah dan kriminalisasi terhadap ulama. *Kelima,* beliau sangat fokus menyuarakan atas ketidakadilan dan menolak intervensi pihak pengusaha terhadap Indonesia. “Beliau tidak ingin Indonesia diintervensi oleh para taipan-taipan. *Keenam,* adalah Habib Rizieq selalu setia terhadap rakyat miskin, khususnya pada setiap aksi penggusuran.
*Ketujuh,* Beliau sangat setia terhadap NKRI dan Pancasila sehingga menolak penjajahan dari pihak asing. “Penjajahan itu apakah dalam bentuk ekonomi, atau apapun. *Kedelapan,* Habib Rizieq selalu memotivasi umat Islam melawan terhadap aliran-aliran komunisme, dan menolak Partai Komunis Indonesia (PKI) bisa tumbuh lagi di Indonesia. *Yang kesembilan,* Habib Rizieq sangat ingin menyatukan seluruh umat Islam untuk bangkit dalam segala dimensi, terlebih dalam bidang ekonomi. (Dikutip dari viva.co.id. Selasa, 16 Mei 2017 | 14:34 WIB)
*Dari tulisan ini dapat kita ambil pelajaran:*
*Satu,* peristiwa Ifki telah menjadi mata rantai paling busuk dari rangkaian serangan musuh-musuh Islam terhadap Rasulullah saw., dan peristiwa tersebut merupakan peristiwa paling menyakitkan yang dihadapinya.
*Dua,* tujuan pencernaan nama baik ulama dan tokoh, tidak lain kecuali kriminalisasi terhadap ulama dan tokoh yang tidak sepaham dengan alur penguasa dan pembusukan nama baik, agar umat tidak percaya kepada pewaris para nabi dan tokoh yang lurus mencitai NKRI. Wallahu a’lam.
Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat.
*(Penulis adalah Khadim Korp Da’i An-Nashihah dan Mahasiswa S2 Zawiyah Jakarta)*

