Oleh: Hayat Abdul Latief
Ramadhan telah pergi dari hadapan kita. Pertanyaannya adalah apa kewajiban kita sesudah Ramadhan? Apa yang terjadi sesudah bulan yang penuh dengan kesungguhan, kerja keras dan “rawe-rawe rantas malang-malang putung – segala sesuatu yang merintangi maksud dan tujuan harus disingkirkan.” Apa yang terjadi sesudah Al-Qur’an menjadi bagian hidup kita, sholat dan dan berdiri dihadapan Allah sebagai kelezatan waktu kita, dzikrullah sebagai makanan rohani kita, shiyam, qiyam, taat, dakwah, sedekah tilawah dan amal shaleh atau lainnya? Solusinya adalah Istiqamah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَٰمُوا۟ تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَبْشِرُوا۟ بِٱلْجَنَّةِ ٱلَّتِى كُنتُمْ تُوعَدُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS. Fussilat: 30)
Tafsir QS. Fussilat:30: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata: “Tuhan Kami hanyalah Allah. Tiada sekutu bagiNya”, Kemudian mereka meneguhkan jiwa dan terus beristiqamah dalam beramal shalih serta mengikrarkah ketauhidannya, maka para malaikat rahmat akan mendatangi mereka dengan membawa kabar gembira yang menyenangkan ketika mereka mati, berada di kubur dan dibangkitkan darinya. Selayaknya mereka tidak khawatir tentang apa yang akan mendatangi mereka berupa urusan-urusan akhirat dan tidak bersedih tentang apa yang telah lewat dari mereka berupa urusan-urusan dunia. Dikatakan kepada mereka: “Bergembiralah kalian dengan surga yang dijanjikan untuk kalian di dunia melalui lisan para rasul. Sesungguhnya kalian telah sampai kepadanya”. Ayat ini diturunkan untuk Abu Bakar As-Siddiq yang berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah. Tiada sekutu bagiNya. Dan Muhammad SAW adalah hamba dan utusanNya” Lalu dia beristiqamah (dalam beribadah). Lalu orang-orang musyrik berkata: “Tuhan kami adalah Allah dan para malaikat adalah puteri-puteriNya. Mereka adalah penolong-penolong kami di sisi Allah” Kemudian mereka tidak beristiqamah.” (Tafsir Al-Wajiz – Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah)
Sesungguhnya Istiqamah tidak terealisasi dengan angan-angan belaka, tetapi ada syarat-syarat yang harus dipenuhi:
1. Berdoa dan meminta pertolongan kepada Allah agar kita terus Istiqamah. Hendaknya kita menyadari bahwasanya yang membuat kita rajin beribadah di bulan Ramadhan adalah Allah. Dia sendiri mahakuasa menolongmu terus menerus dalam keadaan Istiqamah. Kekuatan Istiqamah bukan berasal dari diri kita, namun merupakan murni karunia dari Allah Kepada Hamba-hamba-Nya untuk taat. Pengakuan darimu itulah awal mula Istiqamah. Adapun orang yang beranggapan bahwa amal baik yang berasal dari dirinya sendiri maka Allah akan menyerahkan urusannya sepenuhnya kepada orang tersebut. Sedangkan siapa yang yang Allah tidak campur tangan di dalam urusannya pasti orang tersebut binasa. Oleh karena itu Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berdoa,
ولا تكلني إلى نفسي طرفة عين أبدًا
“Dan janganlah Engkau (Ya Allah) serahkan aku pada diriku sekejap mata pun selama-lamanya.” (HR. Abu Dawud)
2. Hendaknya kita menyadari bahwasanya Istiqamah tidak bisa dicapai dengan ongkang-ongkang kaki, melainkan melalui perjuangan, ketekunan, dan ketekunan… berjuang melawan diri sendiri, keinginan, dan setan, tekun dalam melakukan perintah dan melakukan banyak ketaatan, dan bertahan dalam keinginan dan larangan, sampai menjalankan perintah Allah sepenuhnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-‘Ankabuut: 69)
Ditanyakan kepada Imam Ahmad: Kapan seorang hamba menemukan kenyamanan (boleh beristirahat)? Beliau menjawab: Jika dia meletakkan kakinya di surga.
Imam Asy-Syafi’i berkata: Tidaklah pantas bagi seorang mujahid untuk menikmati istirahat, karena kehidupan duniawi ini harus kerja keras sampai dia bertemu dengan Allah. Sesungguhnya Allah tidak menganugerahimu Istiqamah, membuatmu merasakan kelezatanya dan memberikanmu pahalanya, kecuali jika engkau tekun di dalamnya, beramal untuk itu, mengajak orang untuk itu dan berusaha untuk mencapainya.
3. Bergaul dan shuhbah kepada ahli Istiqomah. Kenapa kita mudah menjalankan ketaatan di bulan Ramadhan? Tidak lain dan tidak bukan karena suasananya memang demikian, banyak orang-orang yang taat yang menjadi contoh bagi kita. Keterasingan ada dalam kesendirian.
Sesungguhnya serigala hanya menerkam domba yang terpisah dari kelompoknya.
Tanda Diterimanya Amal
Di antara tanda diterimanya ketaatan adalah ketaatan setelahnya. Dengan demikian, kita harus melanjutkan ketaatan dan menindaklanjuti ibadah. Interaksi terakhir dengan Al-Qur’an bukanlah mengkhatamkanya di bulan Ramadhan, juga bukan dengan qiyam malam terakhir dari malam-malamnya, bukan pula dengan kesalehan dan kedermawanan pada hari terakhirnya. Jika Ramadhan telah berlalu, maka puasa, qiyam, membaca Al-Qur’an, ibadah dan ketaatan tidaklah berakhir. “Siapa yang menyembah Ramadhan, maka ia akan lewat dan pergi dan siapa yang menyembah Allah, maka Allah itu hidup dan tidak mati.”
Allah subhanahu wa ta’ala telah memperingatkan kita jangan sampai seperti Bal’am bin Ba’ura, seorang alim Bani Israil, yang Allah rasakan manisnya iman dan memperlihatkan tanda-tanda-kebesan-Nya, kemudian berbalik dan membeli kesesatan dengan petunjuk dan siksaan dengan pengampunan, keluar darinya ayat-ayat Allah seperti ular yang terlepas dari kulitnya.
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنْ الْغَاوِينَ
“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat.” (QS. Al-A’raf: 175)
Allah subhanahu wa ta’ala memperingatkan jangan sampai kita seperti Ritha Binti Sa’ad, seorang wanita gila yang berada di Mekah. Dia biasa menenun sepanjang hari dengan kuat dan kencang, kemudian pada akhir hari dia akan melepaskannya berkeping-keping, yakni, dia merusak tenunan itu setelah rapi, kuat dan kencang. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
وَلا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنكَاثًا
“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali….(QS. An-Nahl: 92)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan kita agar tidak meninggalkan ketaatan setelah menjadi terbiasa. Beliau bersabda kepada Abdullah bin Amr:
ياعبد الله لا تكن مثل فلان كان يقوم الليل فترك قيام الليل
“Wahai Abdullah, jangan seperti fulan yang biasa shalat malam tetapi lalu (kemudian) meninggalkanya.”
Ibunda Aisyah radhiyallahu’anha pernah ditanya tentang amalan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, beliau berkata:
كان عمله ديمة
“Amalannya berkesinambungan – terus-menerus.” (Muttafaqun ‘Alaihi)
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,
إن أحب الأعمال إلى الله ما دووم عليه وإن قل (رواه مسلم)
“Amal yang paling dicintai Allah adalah yang berkesinambungan, meskipun sedikit.” (HR. Muslim)
Peringatan Al-Qur’an ini berlaku bagi orang yang merasakan manisnya mentaati Allah subhanahu wa ta’ala di bulan Ramadhan, maka dia memelihara kewajiban dan meninggalkan larangan-larangan selama itu, sehingga ketika bulan yang penuh berkah berakhir, dia terlepas dari tanda-tanda kebesaran Allah, dan ‘merusak tenunanya’ sesudah rapi, kuat dan kencang.
Peringatan kepada orang-orang yang memelihara shalat, ketika Ramadhan berakhir, apakah mereka menyia-nyiakannya dan mengikuti syahwat mereka? Peringatan kepada orang-orang yang menjauhi larangan minum, menonton kemungkaran dan mendengarkan lagu-lagu kebatilan, apakah setelah Ramadhan usai, mereka kembali ke sana? Peringatan kepada irang-orang yang memakmurkan masjid-masjid dan terus-menerus membaca Al-Qur’an. Apakah ketika Ramadhan berlalu, mereka meninggalkan masjid-masjid dan meninggalkan Al-Qur’an?
Para ulama telah mengatakan bahwa di antara tanda terbesar penolakan dan tidak diterimanya amal adalah kembalinya seseorang ke perbuatan buruk setelah waktu untuk ketaatan berakhir. Kita semua mohon perlindungan kepada Allah agar dijauhkan dari ketergelinciran.
*Ibadah Sampai Ajal Menjemput*
Islam mengajarkan kita beribadah tidak terputus dan tidak berhenti dengan berlalunya musimnya. Tidaklah satu musim berakhir, kecuali Allah membuka musim lain untuk kita.. Begitu malam terakhir Ramadhan berakhir, pertanda musim haji dimulai, dan musim haji itu adalah di bulan-bulan yang diketahui. Awal dari al-ashru al-ma’lumat, menurut kesepakatan para ulama, adalah awal bulan Syawal. Nabi kita yang mulia mencontohkan dan menyuruh kita untuk berpuasa enam hari di bulan Syawal setelah Ramadhan, sebagaimana tercantum dalam Sahih Muslim dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu’anhu, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
من صام رمضان وأتبعه ستا من شوال فذلك صيام الدهر
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dan mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, maka itulah puasanya selama-lamanya.”
Sebagai penutup tulisan ini, mari kita perhatikan firman Allah subhaanahu wa ta’aalaa,
وَٱعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ ٱلْيَقِينُ
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (Al-Hijr Ayat 99)
Ya Allah kami mohon kepada-Mu, sebagaimana Engkau memberikan kelezatan ibadah di bulan Ramadhan, berikan pula kelezatan sesudahnya, sebagaimana Engkau mendekatkan Al-Qur’an kepada kami di bulan Ramadhan, dekatkanlah kami kepadanya sesudahnya, sebagaimana Engkau giatkan kami shalat malam di bulan Ramadhan, giatkan pula sesudahnya! Aamiin!
Diolah dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah!
*(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)*

