Oleh: Hayat Abdul Latief
Haul (حول) dalam bahasa Arab artinya putaran waktu 1 tahun dalam hitungan kalender Hijriyah. Ini biasanya digunakan dalam istilah zakat, harta wajib dizakati apabila sudah mencapai nisab dan sudah mencapai putaran 1 tahun dalam hitungan kalender Hijriyah.
Berbeda dengan kata عام atau سنة yang menunjukkan tahun tertentu, maka kata haul tidak bisa digunakan untuk hitungan tahun, misalnya،
حول الف أربعمائة واربع وأربعين
Tapi menggunakan,
عام الف أربعمائة واربع وأربعين
Atau
سنة الف أربعمائة واربع وأربعين
artinya: Tahun 1444
Dikutip dari NU Online, Peringatan haul (kata “haul” dari bahasa Arab, berarti setahun) adalah peringatan kematian seseorang yang diadakan setahun sekali dengan tujuan utama untuk mendoakan ahli kubur agar semua amal ibadah yang dilakukannya diterima oleh Allah SWT. Biasanya, haul diadakan untuk para keluarga yang telah meninggal dunia atau para tokoh untuk sekedar mengingat dan meneladani jasa-jasa dan amal baik mereka. Haul yang penting diadakan setiap setahun sekali dan tidak harus tepat pada tanggal tertentu alias tidak sakral sebagaimana kita memperingati hari ulang tahun.
Apakah Amaliah ini, memiliki pijakan dasar atau – dalam bahasa agamanya- dalil yang dijadikan sebagai rujukan? Di bawah ini beberapa rujukan dasar amaliah haul:
1. HR. Al-Baihaqi dari Al-Waqidi;
كان النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يزُورُ قَتْلى أُحُدٍ فى كل حول واذا لقاهم بالشُّعْبِ رفع صوته يقول السلام عليكم بما صبرتم فنِعم عقبى الدر ثم ابو بكر كل حول يفعل مثل ذلك ثم عمر بن الخطاب ثم عثمان .وكانت فاطمة رضي الله عنها تأتيه وتَدعو.وكان سعد بن ابي وقا ص يسلم عليهم ثم يقبل على اصحابه فيقول أَلَاتُسَلِمون على قوم يَرُدُّوْنَ عليكم السلام.
“Adalah Nabi senantiasa berziarah ke makam para syuhada di bukit uhud, setiap tahun sesampainya di sana beliau mengucapkan salam dengan mengeraskan suaranya;
“السلام عليكم بما صبرتم فَنِعْمَ عُقْبَى الدر
“Keselamatan tetap kepadamu berkat kesabaranmu, maka betapa baiknya tempat kesudahanmu itu.” (QS. Al-Ra’ad: 24)
Abu Bakar juga berbuat seperti itu setiap tahun, kemudian Umar, lalu Ustman. Fatimah juga pernah beziarah kebukit Uhud dan berdo’a. Sa’ad bin Abi Waqqash mengucapkan salam, kepada syuhada tersebut kemudian ia mengahadap kepad para shahabatnya lalau berkata, ”Mengapa kamu tidak mengucapkan salam kepada orang-orang yang akan menjawab salammu?”
Dari hadits inilah, maka Al-Musawi berkomenter dalam kitab Nahjul Balaghoh sebagai berikut:
فى مناقب سيد الشهداء حمزة رضي الله عنه للسيد جعفر البرزنجى قل وكان عليه الصلا ة والسلام يأ تى قبور الشهداء بأحد على رأس كل حول.
“Dalam manaqib Sayyid al-Syuhada Hamzah Bin Abi Tholib yang ditulis Sayyid Ja’far al Barjanji, dia berkata Rasulullah mengunjungi makam syuhada’ Uhud pada setiap awal tahun.” (Al Musawi, Al Syarif Al ridho, Nahju Al Balaghoh, (Bairut, Maktabah Al Fikr, tth), hal: 394)
2. Berkaitan dengan membaca kalimat toyibah di kuburan, Ibnu Qayyim Syamsudin bin Abi Abdillah Al Jauziyyah, dalam kitab Al ruh Fil Alkalm ala arwah al amwat wal ahya al dilalati min alkitab wa al sunnah wa al atsar wa aqwal al ulam, ( Beirut, maktabah Dar Al fikr, 1992), hal :33), Rasulullah SAW bersabda,
اذا مات احد كم فلا تحبسوه واسرعوا به الى قبره وليقرأ عند رأسه فا تحة الكتاب ولفظ البيهقى فا تحة البقرة وعند رجليه بخاتمة سورة البقرة فى قبره اخرجه الطبري والبيهقى.
“Jika seorang diantara kalian meningggal maka kalian jangan tahan, cepat cepatlah kalian bawa kekubur dan bacakan diarah kepalanya al-Fatihah, – menurut kalimat al-Baihaqi awal surat al-Baqarah dan ke arah dikakinya akhir surat al-Baqarah. (HR. Thabrani dan Baihaqi dari Ibnu Umar radhiallahu’anhuma)
3. Berkaitan dengan menyebut kebaikan dan jasa yang diperingati dalam amaliah haul, Ibnu Hajar Al-‘Asqalany, dalam kitab syarah Ihya’ Ulumud Din sebagai berikut:
ذكرى يوم الوفا ت لبعض الاولياء والعلماء مما لينهاه الشريعة الغراء حيث انها تستمل غالبا على ثلاثة أ مور منها زيارة القبور والتصدق بالماكل والمشارب وكلاهما غير منهي عنه , ومنها قرائة القرأن والوعظ الدَّيْنى وقد يذكر فيه مناقب المتوفى وذلك مستحسن للحث على سلوك طريقته المحمودة,
“Memperingati hari wafat para Wali dan para Ulama termasuk amal yang tidak dilarang Agama. Ini tiada lain karena peringatan itu biasanya mengandung sedikitnya tiga hal: ziarah kubur, sedekah makanan dan minuman, dan keduanya tidak dilarang agama, sedangkan unsur ketiga, adalah karena ada acara baca al-Quran dan nasihat keagamaan, kadang dituturkan juga manaqib (biografi) orang yang telah meninggal, cara ini baik untuk mendorong orang lain agar mengaikuti jalan terpuji yang telah dilakukan mayit.
Demikianlah amaliah haul yang memiliki dasar pijakan atau dalil. Harus diakui memang tidak semua orang menyukai amaliah ini dan tidak menjadi masalah, karena kecenderungan dan orientasi beragama orang bermacam-macam. Kalau dengan pemeluk agama lain kita harus toleransi, apalagi sesama muslim. Tidak menyukai amaliah haul tidak masalah. Yang menjadi masalah adalah orang yang menyalahkan amaliah ini. Wallahu a’lam.
Selamat Haul Ke-5 Abuya KH. Saefudin Amsir. Semoga Allah mengampuninya, menerima amal kebaikan dan jasa-jasanya terhadap Islam dan kaum muslimin dan menempatkannya dalam keluasan rahmat dan surga-Nya. Aamiin
Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat!
(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)

