Sadar Batasan dalam Hidup

Oleh: Hayat Abdul Latief

Allah SWT berfirman:

فَأَمَّا مَن طَغَىٰ وَءَاثَرَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا فَإِنَّ ٱلْجَحِيمَ هِىَ ٱلْمَأْوَىٰ

“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggalnya.” (An-Nazi’at: 37-39)

Rasulullah SAW bersabda:

اعمار أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ، وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ

“Umur umatku antara 60 hingga 70 tahun, dan sedikit dari mereka yang melewatinya.” (HR. Tirmidzi no. 3550, Ibnu Majah no. 4236)

……..

Dalam kehidupan, manusia sering terjebak dalam ilusi seakan dunia ini tempat tinggal yang abadi. Ambisi, keinginan, dan hawa nafsu sering membuat seseorang lupa bahwa ada batasan yang tidak bisa dilampaui. Islam mengajarkan pentingnya kesadaran akan batasan ini, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an dan sabda Rasulullah SAW.

Peringatan dari Surah An-Nazi’at: “Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia,” (An-Nazi’at: 37-38).

Ayat ini menjadi peringatan bagi manusia agar tidak melewati batas yang telah ditentukan Allah. Kata ṭaghā (طَغَىٰ) dalam ayat ini bermakna melampaui batas dalam keburukan, yaitu ketika seseorang tidak mengenal dirinya dan hidup hanya untuk dunia semata.

Para ulama menjelaskan bahwa sadar batasan bukan hanya tentang umur, tetapi juga tentang tidak berlebihan dalam duniawi dan menjaga keseimbangan. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa orang yang sadar akan keterbatasan hidupnya akan lebih fokus pada amal akhirat dibandingkan kesenangan duniawi yang fana.

Konsekuensi Melampaui Batas

Orang yang hidup melampaui batas dan mengutamakan dunia akan mendapatkan akibatnya di akhirat. Sebagaimana lanjutan ayat dalam Surah An-Nazi’at: “Maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggalnya.” (An-Nazi’at: 39).

Ini menunjukkan bahwa orang yang tidak mengenal batas akan menghadapi konsekuensi berat di akhirat. Dunia bukan tujuan akhir, melainkan hanya tempat persinggahan sementara.

Menyadari batasan hidup juga merupakan bentuk ketaatan kepada Allah. Rasulullah SAW bersabda:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

“Jadilah di dunia ini seperti orang asing atau seorang musafir.” (HR. Bukhari no. 6416).

Konsekuensi dari sadar batasan adalah menghindari sikap berlebihan. Allah SWT juga melarang manusia untuk hidup berlebihan dalam firman-Nya:

وَلَا تُسْرِفُوا۟ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُسْرِفِينَ

“Dan janganlah berlebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebihan.” (Al-A’raf: 31).

Alhasil, kesadaran akan batasan hidup merupakan kunci keselamatan di dunia dan akhirat. Surah An-Nazi’at mengingatkan agar tidak melampaui batas dan lebih mengutamakan dunia, sementara hadits-hadits Rasulullah SAW menegaskan pentingnya mengelola hidup dengan bijak. Para ulama juga menekankan bahwa orang yang sadar batasan akan hidup lebih tenang dan lebih dekat kepada Allah. Wallahu a’lam

Semoga kita semua termasuk orang-orang yang memahami batasan hidup dan memanfaatkannya untuk kebaikan! Aamiin!

(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Alumni Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *