30 HARI BERSAMA RASULULLAH ﷺ: Tahun Ketika Rasulullah ﷺ Kehilangan Dua Tempat Bersandar

30 HARI BERSAMA RASULULLAH ﷺ: Tahun Ketika Rasulullah ﷺ Kehilangan Dua Tempat Bersandar

🌿 *30 HARI BERSAMA RASULULLAH ﷺ*

*Tahun Ketika Rasulullah ﷺ Kehilangan Dua Tempat Bersandar*

Ada masa dalam kehidupan Rasulullah ﷺ ketika kehilangan datang hampir berturut-turut.

Khadijah رضي الله عنها wafat.

Perempuan yang sejak awal berkata, “Allah tidak akan menghinakanmu.” Perempuan yang mempercayai beliau ketika banyak orang mendustakan, yang menenangkan ketika hati beliau bergetar, dan yang mendampingi tahun-tahun paling berat dalam dakwah.

Tidak lama kemudian, Abu Ṭālib juga wafat.

Ia memang tidak menerima risalah Islam hingga akhir hayatnya menurut riwayat sahih, tetapi selama hidupnya ia memberikan perlindungan sosial dan kabilah kepada Rasulullah ﷺ dari tekanan Quraisy.

Dua orang yang selama bertahun-tahun menjadi penopang beliau kini telah tiada.

Periode ini kemudian dikenal dalam literatur sīrah sebagai:

> عَامُ الْحُزْنِ — ‘Ām al-Ḥuzn
“Tahun Kesedihan.”

 

Rasulullah ﷺ pun mengenal duka

Kadang kita mencintai Rasulullah ﷺ dengan membayangkan beliau hanya sebagai sosok yang selalu kuat.

Padahal kekuatan beliau tidak berarti kehidupan beliau bebas dari kehilangan.

Beliau pernah menjadi yatim.

Kehilangan ibu.

Kehilangan kakek.

Kehilangan Khadijah.

Kehilangan Abu Ṭālib.

Kelak beliau juga akan menyaksikan wafatnya anak-anak dan para sahabat yang sangat dicintainya.

Rasulullah ﷺ mengetahui bagaimana rasanya ditinggalkan.

Inilah yang membuat kisah beliau begitu dekat dengan jiwa manusia.

Menjadi manusia beriman tidak berarti kita tidak boleh bersedih.

Menangis tidak berarti tidak ridha kepada Allah.

Dan kehilangan semangat sesaat tidak otomatis berarti iman kita lemah.

Ada luka yang memang membutuhkan waktu.

🌱 Tetapi ada sesuatu yang sangat indah…

Setelah kehilangan dua penopangnya, Rasulullah ﷺ tidak berhenti membawa risalah.

Beliau tetap melangkah.

Bukan karena Khadijah telah tergantikan.

Bukan karena Abu Ṭālib telah dilupakan.

Tetapi karena sebuah amanah tidak selalu berhenti ketika orang yang dahulu membantu kita menjalankannya sudah tidak ada.

Ini pelajaran yang sangat dalam.

Ada masa dalam kehidupan ketika Allah mengizinkan seseorang berjalan bersama kita.

Ia membantu.

Menopang.

Membukakan jalan.

Meyakinkan kita ketika kita ragu.

Tetapi tidak semua orang ditakdirkan menemani perjalanan kita sampai akhir.

Ada yang tugasnya hanya mengantarkan kita sampai satu persimpangan.

Setelah itu Allah memintanya pergi—

dan kita harus belajar melanjutkan perjalanan.

🌿 Jejak Jiwa

Barangkali salah satu bentuk kedewasaan adalah memahami:

kita boleh merindukan seseorang tanpa harus berhenti menjalani kehidupan.

Kita boleh menangisi orang yang pergi.

Kita boleh mengenang masa ketika semuanya terasa lebih mudah karena ia masih ada.

Tetapi jangan mengira bahwa berakhirnya kebersamaan berarti berakhir pula penjagaan Allah.

Manusia yang selama ini menjadi jalan pertolongan dapat pergi.

Tetapi Allah yang mengirimkan pertolongan itu tidak pernah pergi.

Mungkin dahulu Allah menjaga kita melalui seorang ayah.

Seorang ibu.

Pasangan.

Guru.

Sahabat.

Pemimpin.

Atau seseorang yang selalu berkata, “Teruskan, saya mendukungmu.”

Lalu suatu hari ia tidak lagi ada di sisi kita.

Di situlah iman perlahan belajar membedakan:

mana sandaran, dan mana Allah yang menciptakan sandaran.

Manusia adalah jalan.

Allah adalah tujuan.

Manusia dapat pergi.

Allah tetap ada.

❤️ Hati yang Bergetar

Jika hari ini kita sedang kehilangan seseorang, tidak perlu memaksa diri segera melupakannya.

Rasulullah ﷺ pun mengenang orang-orang yang beliau cintai.

Tetapi perlahan belajarlah mengatakan:

> “Ya Allah, dahulu Engkau menjagaku melalui dirinya.
Sekarang ia tidak lagi bersamaku.
Maka ajari aku mengenali cara-Mu menjagaku setelah kepergiannya.”

 

Karena terkadang Allah tidak mengembalikan apa yang telah pergi.

Tetapi Allah membuka jalan baru untuk melanjutkan hidup.

Renungan hari ini

Siapakah orang yang pernah menjadi jalan pertolongan Allah dalam kehidupan kita?

Jika ia masih ada, jangan menunggu kehilangan untuk berterima kasih.

Jika ia telah pergi, doakanlah.

Dan jika kepergiannya masih menyakitkan, ingatlah perjalanan Rasulullah ﷺ:

kehilangan boleh membuat kita berhenti sejenak untuk menangis,
tetapi jangan sampai membuat kita berhenti berjalan.

Sebab setelah ‘Ām al-Ḥuzn, perjalanan Rasulullah ﷺ belum selesai.

Masih ada Ṭā’if.

Masih ada al-Isrā’ wa al-Mi‘rāj.

Masih ada hijrah.

Masih ada Madinah.

Dan masih ada begitu banyak pertolongan Allah yang ketika itu belum terlihat.

Maka jangan menilai seluruh masa depan dari satu musim kehilangan.

Boleh jadi setelah halaman yang paling menyedihkan, Allah sedang menyiapkan bab kehidupan yang sama sekali belum kita bayangkan.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ﷺ

#JejakJiwa #30HariBersamaRasulullah #MaulidNabi #HatiYangBergetar #mahadaly #zawiyahjakarta

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *