30 HARI BERSAMA RASULULLAH ﷺ: Hari ke-9_Ketika Rasulullah ﷺ Memiliki Kesempatan Membalas, tetapi Memilih Harapan

🌿 *30 HARI BERSAMA RASULULLAH ﷺ*
*Hari ke-9_Ketika Rasulullah ﷺ Memiliki Kesempatan Membalas, tetapi Memilih Harapan*
Kemarin kita sampai pada Ṭā’if: Rasulullah ﷺ ditolak dan meninggalkan tempat itu dalam keadaan sangat berduka. Hari ini kita berhenti pada apa yang terjadi sesudahnya.
Karena justru di sinilah keagungan akhlak beliau terlihat.
Rasulullah ﷺ menceritakan bahwa setelah penolakan itu, Jibril عليه السلام datang bersama Malaikat Penjaga Gunung.
Malaikat itu memberi pilihan kepada beliau. Jika Rasulullah ﷺ menghendaki, dua gunung yang mengapit penduduk tersebut dapat ditimpakan kepada mereka.
Bayangkan keadaan hati beliau saat itu.
Baru saja ditolak.
Baru saja diperlakukan dengan buruk.
Dan sekarang, kesempatan untuk membalas berada di hadapannya.
Tetapi Rasulullah ﷺ tidak berkata, “Balaslah mereka.”
Beliau justru berkata:
> بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا
“Justru aku berharap Allah akan mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.”
(HR. al-Bukhārī dan Muslim)
Perhatikan satu kata:
أَرْجُو — “Aku berharap.”
Mereka memberikan luka.
Rasulullah ﷺ membalasnya dengan harapan.
Bukan karena apa yang mereka lakukan dapat dibenarkan.
Bukan pula karena beliau tidak merasakan sakit.
Tetapi beliau mampu melihat sesuatu yang lebih jauh daripada luka hari itu.
Beliau melihat kemungkinan bahwa manusia masih dapat berubah.
🌱 Betapa sulitnya berharap baik kepada orang yang pernah menyakiti kita
Ketika seseorang memperlakukan kita dengan buruk, biasanya kita melihatnya melalui satu peristiwa itu.
Dia yang menyakitiku.
Dia yang menghinaku.
Dia yang mengecewakanku.
Kemudian tanpa sadar kita menganggap bahwa begitulah dirinya selamanya.
Rasulullah ﷺ menunjukkan cara pandang yang jauh lebih luas.
Orang yang hari ini menolak kebenaran belum tentu keturunannya akan melakukan hal yang sama.
Orang yang hari ini belum memahami mungkin suatu saat memahami.
Satu hari yang buruk tidak selalu menjadi akhir cerita seseorang.
🤍 Rahmah bukan berarti membiarkan kezaliman
Ada satu hal yang penting.
Akhlak Rasulullah ﷺ tidak mengajarkan kita untuk membiarkan diri terus-menerus disakiti.
Islam mengenal keadilan.
Kita boleh menjaga jarak.
Kita boleh menetapkan batas.
Kita boleh membela hak.
Tetapi setelah semuanya itu, ada sesuatu yang perlu kita jaga:
jangan sampai luka mengambil alih hati kita.
Karena ada orang yang sudah tidak lagi menyakiti kita secara fisik,
tetapi bertahun-tahun kemudian ia masih menguasai pikiran kita melalui kebencian.
Kita membawa namanya ke mana-mana.
Mengingat perkataannya.
Mengulang kejadian itu.
Berharap hidupnya buruk.
Tanpa sadar, orang itu telah pergi—
tetapi luka yang ditinggalkannya masih tinggal.
Rasulullah ﷺ memilih jalan yang berbeda.
Beliau tidak membiarkan perlakuan buruk orang lain menentukan kualitas hatinya.
❤️ Hati yang Bergetar
Mungkin inilah salah satu doa tersulit:
> “Ya Allah, aku tidak meminta agar Engkau mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan kepadaku itu benar.
Aku hanya meminta: jangan biarkan kesalahan mereka mengubah hatiku menjadi buruk.”
Kita tidak harus kembali dekat dengan semua orang.
Tidak semua hubungan harus dipulihkan.
Tidak semua pintu harus dibuka kembali.
Tetapi kita dapat memilih untuk tidak hidup dengan keinginan melihat orang lain hancur.
Kita dapat melepaskan seseorang tanpa mendoakan keburukannya.
Dan mungkin itulah salah satu bentuk kebebasan jiwa.
🌿 Jejak Jiwa
Ada perbedaan besar antara:
“Aku ingin dia merasakan sakit seperti yang kurasakan.”
dan:
“Aku menyerahkan urusannya kepada Allah, lalu aku memilih melanjutkan hidup.”
Yang pertama membuat luka terus hidup.
Yang kedua perlahan membebaskan hati.
Rasulullah ﷺ sebenarnya memiliki kesempatan untuk membalas.
Tetapi beliau memilih melihat masa depan yang belum terlihat.
Beliau berharap dari keturunan mereka akan lahir orang-orang yang menyembah Allah.
Renungan hari ini
Adakah seseorang yang sampai hari ini masih kita harapkan keburukannya karena pernah menyakiti kita?
Mungkin kita belum mampu memaafkan sepenuhnya.
Tidak apa-apa. Penyembuhan hati memiliki perjalanan.
Tetapi hari ini kita dapat memulai dengan satu langkah kecil:
berhenti mendoakan keburukannya.
Serahkan keadilan kepada Allah.
Kemudian mintalah:
> اللَّهُمَّ أَصْلِحْ قَلْبِي وَاهْدِ قَلْبَهُ
“Ya Allah, perbaikilah hatiku dan berilah petunjuk kepada hatinya.”
Karena salah satu keagungan Rasulullah ﷺ bukan hanya bahwa beliau mampu bertahan ketika disakiti.
Tetapi bahwa orang lain tidak berhasil mengubah kelembutan hatinya menjadi kebencian.
Jangan biarkan orang yang pernah menyakiti kita menentukan akan menjadi manusia seperti apa kita setelahnya.
Di Ṭā’if, Rasulullah ﷺ memiliki alasan untuk marah.
Beliau memiliki kesempatan untuk membalas.
Tetapi beliau memilih berharap.
Dan mungkin itulah salah satu bentuk rahmat yang membuat Allah mengutus beliau sebagai:
> وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. al-Anbiyā’ [21]: 107)
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ﷺ
#JejakJiwa #30HariBersamaRasulullah #MaulidNabi #HatiYangBergetar #RahmatanLilAlamin #mahadaly #zawiyahjakarta
