MUHASABAH: JANGAN TANYA ANAK DAHULU, TANYA DIRI KITA
*MUHASABAH: JANGAN TANYA ANAK DAHULU, TANYA DIRI KITA*
Saya ingin kita berhenti sebentar.
Tidak usah memikirkan suami.
Tidak usah memikirkan mertua.
Tidak usah memikirkan anak tetangga.
Mari pikirkan diri kita.
Tanyakan dalam hati:
Apakah anak saya merasa aman bercerita kepada saya?
Ketika anak saya gagal, apakah saya tempat pertama yang ia cari atau orang pertama yang ia hindari?
Berapa kali minggu ini saya memuji anak saya?
Berapa kali saya membandingkannya?
Kapan terakhir saya memeluk anak saya tanpa alasan?
Pernahkah saya meminta maaf kepadanya?
Dan pertanyaan terakhir:
> Kalau Allah memanggil saya malam ini, kalimat apa dari saya yang paling diingat anak saya?
Apakah:
> “Kamu selalu bikin Mama kecewa!”
atau:
“Nak, apa pun yang terjadi, Mama selalu mendoakanmu.”
======
