Oleh: Hayat Abdul Latief
Seseorang tidak boleh memberikan gambaran pada Allah. Karena setiap gambaran yang dikhayalkan oleh akal manusia maka sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala berbeda dengan gambaran tersebut. Al-Qur’an menyebutkan demikian:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ [الشورى: 11]
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)
Akal manusia yang terbatas tidak mungkin secara aqli dan naqli mengetahui hakikat Allah subhanahu wata’ala dan tidak mungkin dengan tepat memberikan gambaran terhadap-Nya. Setiap orang yang memberikan gambaran Allah pada khayalanya, otomatis Allah adalah sesuatu yang diserupakan. Dan sesuatu yang diserupakan sangat jauh dari kenyataan. Oleh karena demikian Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam melarang seseorang muslim memikirkan diri Allah dan menyuruh memikirkan (tafakur) terhadap ayat-ayat-Nya.
Sebagaimana yang termaktub dalam Mu’jam Ath-Thabrani dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma berkata:
: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: تفكروا في آلاء الله ولا تتفكروا في الله.
“Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda: pikirkanlah nikmat-nikmat Allah, dan jangan kau pikirkan tentang Allah.”
Berkaitan dengan itu banyak keterangan dari ahli ilmu tentang larangan memikirkan hakikat Allah dan anjuran untuk memikirkan ciptaan-Nya. Ibnu Abi Zaid Al-Faironi Al-Maliki dalam Ar-Risalah berkata:
لا يبلغ كنه صفته الواصفون، ولا يحيط بأمره المتفكرون يعتبر المتفكرون بآياته، ولا يتفكرون في ماهية ذاته
“Para pemuji Allah, pujiannya tidak akan sampai kepada hakikat sifat-Nya dan para pemikir tidak akan bisa mengetahui eksistensi-Nya. Para pemikir hanya dapat mengambil pelajaran dari ayat-ayat-Nya, namun tidak dapat merenungkan hakikat diri-Nya.”
Abu Ja’far Al-Thahawi berkata:
لا تبلغه الأوهام، ولا تدركه الأفهام، ولا يشبه الأنام
“Khayalan tidak akan mencapai Allah, akal tidak akan memahami eksistensi-Nya dan manusia tidak dapat membuat penyeruapan terhadap-Nya.”
Mengapa demikian? Dikarenakan metode mengetahui sesuatu harus bdengan tiga cara:
*Pertama,* melihat dan menyaksikan. Melihat dan menyaksikan Allah subhanahu wata’ala tidak mungkin terjadi kepada di dunia ini. Karena teks-teks agama menjelaskan hal itu. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
لا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ [الأنعام:103]
“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am: 103)
Nabi shalallahu’alaihi wasallam bersabda:
تعلمون أنه لن يرى أحد منكم ربه حتى يموت. رواه الترمذي وقال: حديث حسن صحيح
“Kalian mengetahui bahwasanya seorang diantara kalian tidak akan pernah melihat Tuhannya sampai mati.” (HR. At-Tirmidzi, Beliau berkata: Hadits ini Hassan Shahih)
*Kedua,* Menyerupakan sesuatu dengan hal serupa yang telah dilihat oleh seseorang bisa diterima. Namun menyerupakan sesuatu yang dapat dilihat dengan yang tidak dapat dilihat, ini adalah mustahil terhadap Allah subhanahu wa ta’ala. QS. Asy-Syura: 11 menjelaskan keterangan tersebut.
*Ketiga,* seseorang bisa melihat kekuasaan Allah subhanahu wata’ala dengan memikirkan penciptaan langit dan bumi. Jejak-jejak Allah subhanahu wata’ala begitu nampak dalam kejadian diri kita, bumi dan angkasa. Bukti-bukti ilmiah menunjukkan bahwa alam semesta berjalan begitu teratur dan segala sesuatu yang teratur pasti ada yang mengaturnya, Dialah Allah subhanahu wata’ala.
Inilah (tafakur tentang penciptaan langit-bumi dan seisinya) satu-satunya wasilah yang memungkinkan manusia dapat memahami dan meyakini bahwasanya Allah subhanahu wata’ala itu esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia memiliki setiap sifat kesempurnaan yang layak untuk-Nya dan bersih dari setiap kekurangan.
Oleh karena itu, Al-Qur’an mendorong untuk memikirkan kejadian diri manusia, alam dan angkasa, sehingga manusia memahami keagungan Allah subhanahu wata’ala.
أَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوا فِي أَنْفُسِهِمْ [الروم: ٨)
“Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?” (QS. Ar-Rum: 8)
أَوَلَمْ يَنْظُرُوا فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ [الأعراف: 185]
“Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka? Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman sesudah Al Quran itu?” (QS. Al-A’raf: 185)
Singkat kata, tidak boleh bagi seorang muslim untuk menggambarkan bentuk Allah subhanahu wata’ala. Dan siapa yang menyembah bentuk yang digambarkan kepada Allah hakekatnya dia menyembah berhala dan Allah tidak seperti sesuatu. Terapi terhadap orang yang memiliki ciri-ciri di atas, hendaklah dia membuang dan menghentikan untuk memikirkan tentang Allah subhanahu wata’ala, mohon perlindungan kepada-Nya dari syaitan dan ucapkanlah :
لا إله إلا الله ، آمنت بالله
“Tiada yang berhak disembah kecuali Allah. Aku beriman kepada Allah.”
Keterangan di atas menunjukkan bahwa upaya-upaya pembicaraan, diskursus, dan pengetahuan untuk menjelaskan tentang Zat Allah, apalagi mengidentifikasinya, dengan cara apapun dan melalui ilmu apapun, adalah upaya sia-sia dan tidak akan menemukan hasil yang diharapkan, karena keterbatasan akal tidak akan mampu menyingkap hakikat wujud-Nya.
*Mengenai Allah subhanahu wata’ala melalui Kitab Suci*
Untuk mengetahui gambaran yang sempurna tentang Allah adalah melalui kitab suci yang benar-benar suci yakni Al-Qur’an. Dialah yang Maha esa, tempat meminta, tidak beranak dan tidak beranak dan tidak diperanakkan dan tidak ada yang serupa dengan-Nya (surat Al-Ikhlas)
*Teologi Yang Berasal dari Teori Filosofi*
Ilmu yang membicarakan tentang Tuhan disebut teologi. Diskursus yang benar tentang Tuhan harus bersumber dari kitab suci bukan dari filsafat atau teori manusia. Sebagai contoh, trinitas merupakan teori ketuhanan yang berasal dari filsafat manusia yang sudah ada jauh sebelum kekristenan itu ada, yakni doktin: tiga pribadi dalam satu satu pribadi dalam tiga.
Orang Kristen akan berputar-putar memahami Trinitas dengan analogi. Akhirnya mereka tak cenderung paham dan akhirnya menyatakan bahwa Trinitas tidak bisa dipahami, hanya bisa dipercaya saja. Sebuah keimanan buta, tidak bersandar dari Perjanjian Lama dan tidak bersandar pada ajaran nabi Isa ‘alaihis salam.
*Kesimpulan:*
*Satu,* Akal manusia yang terbatas tidak mungkin secara aqli dan naqli mengetahui hakikat Allah subhanahu wata’ala dan tidak mungkin dengan tepat memberikan gambaran terhadap-Nya.
*Dua,* larangan memikirkan hakikat Allah dan anjuran untuk memikirkan ciptaan-Nya.
*Tiga,* Jejak-jejak Allah subhanahu wata’ala begitu nampak dalam kejadian diri kita, bumi dan angkasa. Bukti-bukti ilmiah menunjukkan bahwa alam semesta berjalan begitu teratur dan segala sesuatu yang teratur pasti ada yang mengaturnya, Dialah Allah subhanahu wata’ala.
*Empat,* Diskursus yang benar tentang Tuhan harus bersumber dari kitab suci bukan dari filsafat atau teori manusia. Wallahu a’lam.
Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat.
*(Penulis adalah Khadim Korp Da’i An-Nashihah dan Mahasiswa S2 Zawiyah Jakarta)*

