Oleh: Hayat Abdul Latief

 

Umat Islam ada yang mengidolakan ustadz Abdul Somad, ustadz Adi Hidayat atau bahkan habib Rizieq Syihab. Namun ulama-ulama yang disebutkan di atas tidak lebih alim dari seorang kiayi muda namun pengetahuannya melampaui ulama-ulama yang ada di kota – seolah-olah punya legitimasi untuk mengoreksi ulama-ulama di atas karena kadar keilmuannya di atas rata-rata menurut dirinya.

 

Ilmunya mampu mengobrak-abrik paradigma berfikir dan filsafat keilmuan ulama-ulama ternama. Jarak antara dirinya dan kebenaran seolah-olah tinggal satu jengkal berbeda dengan ulama-ulama yang disebutkan di atas menurutnya jarak kebenaran dengan mereka seperti langit dan bumi.

 

Sekecil apapun yang diucapkan dan dilakukan oleh ulama-ulama di atas baginya laksana matahari terang benderang di siang hari tidak ada yang tersembunyi sehingga dengan lancarnya mempreteli kesalahan-kesalahan tersebut dan tanpa harus minta konfirmasi.

 

Baginya ulama-ulama yang tidak pro-rezim adalah ulama yang pantas ditelanjangi dan dibunuh karakternya. Seluruh yang dilakukan para oposisi adalah salah meskipun ulama.

 

Ia berteman dengan malaikat kiraman katibin yang tahu seluk-peluk dan latar belakang kebaikan dan keburukan setiap orang. Langkahnya mantap seolah-olah didampingi oleh 124.000 para nabi. Analisanya sangat tajam seolah-olah sezaman dengan Aristoteles dan Plato dan filosof Yunani lainnya.

 

Orang-orang yang berbeda pandangan dengannya dianggap sebagai orang yang rendah dan keruh yang dalam bahasa Arab disebut kadarun sebuah istilah plesetan dari kadrun atau kadal gurun.

 

Ayat-ayat Allah dijadikan sebagai tameng dalam perang terbuka untuk membidik dan membunuh sasaran panah beracunnya.

 

Jangan kau ceritakan kepadanya tentang Bal’am bin Ba’ura seorang ulama yang menjadi stempel penguasa yang bahkan berani mendoakan keburukan untuk Nabi Musa dan Bani Israil. tersesat selama 40 tahun bahkan Nabi Musa meninggal dalam masa tersebut.

 

Jangan kau ceritakan kepadanya tentang Qorun seorang hafiz taurat dan paham isinya namun memilih kehidupan hedon daripada kekalnya akhirat.

 

Jangan ceritakan kepadanya tentang orang-orang yang su’ul khotimah karena dia pemegang kunci husnul khotimah.

 

Doaku untuknya – semoga Istiqomah dengan jalan yang dilaluinya namun jangan kaget kalau nanti satu atap dengan Qorun dan Bal’am bin Ba’ura -semoga tidak demikian. Dan Semoga kita tidak ikut-ikutan menjadi Bal’am bin Ba’ura masa kini. Aamiin! Wallahu a’lam.

 

(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *