Oleh: Hayat Abdul Latief

 

Berkaitan dengan syukur dan iman, Al-Qu’ran menyebutkan;

 

مَّا يَفْعَلُ ٱللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِن شَكَرْتُمْ وَءَامَنتُمْ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا

 

“Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nisa: 147)

 

Penjelasannya;

147. Allah tidak akan menghukum kalian jika kalian mau bersyukur dan beriman kepada-Nya. Karena Allah -Ta’ālā- Mahabaik lagi Maha penyayang. Dia hanya menghukum kalian karena dosa-dosa kalian. Maka jikalau kalian memperbaiki amal perbuatan kalian, mensyukuri nikmat-nikmat-Nya, dan beriman kepada-Nya secara lahir dan batin, Dia tidak akan menghukum kalian. Allah Maha Mensyukuri orang yang mau mengakui nikmat-nikmat-Nya, sehingga akan memberi pahala berlimpah kepada mereka atas amalan tersebut, lagi Maha Mengetahui keimanan makhluk-Nya. Dan Dia akan memberikan balasan yang setimpal kepada setiap orang menurut amalnya masing-masing. (Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram)

 

…..

 

Dilansir dari Very Well Mind, Amy E. Keller, PsyD, seorang terapis pernikahan dan keluarga mengungkap merasa bahagia itu membantu membuat hidup lebih berwarna, sehingga membuat seseorang lebih menghargai apa yang dimiliki. Ketika orang bersyukur dengan apa yang mereka terima, maka kesehatan fisik pun bisa membaik. Hasil dari syukur juga menunjukkan penurunan stres, pengurangan rasa sakit, dan peningkatan sistem kekebalan tubuh.

 

…..

 

Bagaimana bersyukur ala Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam? Beliau bersabda,

 

اُنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ

 

“Lihatlah orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu, karena yang demikian itu lebih patut, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu,” (HR Bukhari dan Muslim)

 

Dalam hadis di atas jelaslah bahwa dalam hal keduniaan kita disuruh untuk melihat orang yang levelnya lebih rendah bukan melihat orang yang levelnya lebih tinggi agar kita terdorong untuk pandai bersyukur. Namun hal ini tidak berlaku dalam hal melihat keakhiratan. Dalam hal keakhiratan kita melihat orang yang levelnya lebih tinggi agar termotivasi untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.

 

Prof. Quraisy Shihab menyebutkan syukur mencakup tiga sisi:

 

1. Syukur dengan hati, yaitu kepuasan batin atas anugerah.

 

2. Syukur dengan lidah, dengan mengakui anugerah dan memuji pemberinya.

 

3. Syukur dengan perbuatan, dengan memanfaatkan anugerah yang diperoleh sesuai dengan tujuan penganugerahannya. Wallahu a’lam.

 

Diambil dari berbagai sumber, semoga bermanfaat!

 

(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan

Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *