Oleh: Hayat Abdul Latief
Setelah perjalanan panjang pencarianku terhadap rahasia wabah yang menyelubungi akal pikiranku, tanpa sengaja atau qodarullah akhirnya aku berjumpa dengan Corona dan sempat aku mewawancarainya.
+ : Siapa namamu?
– : Corona!
+ :Siapa yang menciptakanmu?
– :Tuhan namun atas kemauan manusia itu sendiri dan Tuhan mengabulkannya.
+ : Berapa lama engkau tinggal di bumi?
– : Selama manusia menghendaki ada, maka aku tetap eksis.
+ : Mengapa engkau menghilang selama liburan Natal dan Tahun Baru?
– : Saya tidak tertarik terhadap orang yang merayakan Natal dan Tahun Baru. Mereka menyembah Kepalsuan.
+ : Kenapa engkau datang menjelang Romadhon dan liburan Idul Fitri?
– : Saya ingin berterus terang kepadamu, sebenarnya sudah lama ingin mualaf sehingga setiap ada momen keagamaan umat Islam saya selalu mendatanginya. Namun sayang ketika aku ingin mendatangi, mereka malah menjauhiku, mereka mengosongkan tempat ibadah bahkan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi Menjadi sepi, padahal aku ingin haji dan umroh.
+ : Tapi kebanyakan muslim menganggap engkau sentimen datang hanya pada momen besar perayaan kaum muslimin.
– : Terlepas dari rumor Sebenarnya ada 2 keadaan yang bergejolak di dalam jiwa, apakah saya menjadi muallaf atau saya menjadi perpanjangan tangan dari penganut Islamophobia. Membendung dan menghambat kegiatan dan syiar Islam, karena ditengarai hanya ada satu kekuatan yang bisa menghancurkan kaum feodalisme, borjuisme dan kapitalisme. Saya ikut membonceng kepada media dan pemilik modal untuk mengambil keuntungan dari vaksinasi, PCR dan sejenisnya.
+ : Apakah engkau tidak mau hengkang dari bumi ini, khususnya Indonesia?
– : Keberadaan saya tergantung para pemangku kebijakan. Bila mereka memanggil, maka saya siap hadir. Namun apabila mereka menghendaki saya pergi, Saya pun pergi.
Demikian dialog saya dengan Corona di tempat yang sangat rahasia di waktu ketika manusia terlelap memejamkan mata.
*(Khadim Korp Dai An Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)*

