Lebih Baik Berkarya Meskipun Tidak Sempurna Daripada Nyinyir Padahal Tidak Berbuat Apa-apa

 

Oleh: Hayat Abdul Latief
Akhir-akhir ini media massa dan media sosial diwarnai oleh nyinyir dan bully dari para buzzer dan hater gubernur Jakarta. Dari sekian banyak gubernur provinsi Indonesia hanya Anis lah yang mendapat serangan dari pihak yang menanamkan kebencian.
Memang kritik dan saran merupakan bagian dari kebebasan dan demokrasi, namun kalau asasnya adalah kebencian dan kedengkian maka kemudian kritiknya bukan membangun tetapi contra produktif dan pembubuhan karakter.
Berkarya merupakan kewajiban bagi seorang muslim, Selain ibadah tentunya. Bahkan Islam memotivasi umatnya agar memiliki etos kerja yang baik. Tentu hal itu memerlukan manajemen agar pekerjaannya selain ada planning organizing actuating juga perlunya kontrol dan evaluasi. Karena di dalam Islam perlu adanya itqon dalam bekerja sebagaimana disebutkan dalam hadits, Dari Aisyah Radhiyallahu Anha, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda
 إن اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ
“Allah ʽazza wa jalla menyukai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu amal secara itqan.” (HR. Imam At–Tabrânî, dalam al-Muʽjam al-Awsat, dan Imam Baihaqi dalam Sya’bu al-Îmân,)
Selain itqon, juga perlu adanya Ihsan dalam bekerja. Dari Abu Al Asy’ats dari Syaddad bin Aus dia berkata,
dari Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, beliau bersabda:
 إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ، وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ، وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ، فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ
“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan supaya selalu bersikap baik terhadap setiap sesuatu, oleh karena itu apabila salah seorang kalian hendak membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang terbaik. Dan hendaklah salah seorang di antara kalian menajamkan mata pisaunya dan membuat nyaman hewan sembelihannya.” (HR. Imam Muslim dalam  Sahîhnya)
Berkarya dituntut untuk mengevaluasi agar kemungkinan-kemungkinan salah dan gagal bisa teratasi. Meski demikian berkarya lebih baik meskipun terdapat kekurangan dari pada mengganggu orang yang bekerja dengan nyinyiran dan bully padahal pelakunya belum berbuat apa-apa. Dalam pepatah disebutkan anjing menggonggong kafilah berlalu tokoh sejarah memang selalu mendapatkan gangguan rintangan bahkan cacian tapi mereka fokus dengan karya nyata dan membalas semua Bulian dengan prestasi dan prestise.
Semasa hidupnya Rasulullah cukup menghabiskan waktu 23 tahun dalam membangun peradaban yang gemilang dengan pencapaian yang sangat fantastis yang belum pernah diperoleh oleh tokoh sejarah manapun. Sehingga tidak berlebihan kalau Michael Hart mencatat dalam bukunya, Rasulullah sebagai orang yang berada di urutan pertama dalam tokoh-tokoh yang sangat berpengaruh di dunia. Michael Hart tetap berada dalam pendiriannya meskipun analisisnya ditentang oleh penulis sejarah lainnya.
Tentu setiap gerak-gerik individu akan dicatat oleh sejarah apalagi publik figur dan memegang jabatan publik pasti sangat berkesan dengan perilakunya. Apakah ada jaminan kalau kita hidup di zaman nabi Nuh membela dan berpihak kepadanya. Apakah ada jaminan ketika kita hidup di zaman nabi Ibrahim kita setia menemani perjuangannya. Apakah ada jaminan ketika kita hidup di zaman nabi Musa kita berpihak kepadanya atau malah membebek kepada Firaun dan Apakah ada jaminan ketika kita hidup di zaman nabi Muhammad berjalan dibawah Panji beliau atau jangan-jangan kita berjalan dibelakang Abu Jahal.
Sejarah selalu berulang, tokohnya boleh berbeda, tempat dan waktunya boleh tidak sama tapi pola pola kepemimpinan mungkin mirip, meskipun tidak dikatakan sama persis. Al-Quran menceritakan Qobil, umat nabi Nuh, Namrudz, Jalut, Firaun, Abu lahab dan Abu Jahal sebagai toko yang selalu mendapat kutukan dari langit maupun dari bumi. Manusia sesudahnya mengenal bahwa mereka adalah tokoh-tokoh antagonis yang menyulap cahaya menjadi kegelapan.
Itulah gunanya Al-Quran menceritakan tokoh tokoh antagonis untuk dijadikan sebagai pelajaran dan tidak ditiru karena akan menjadi perusak peradaban dan juga perusak sunatullah yang Allah sudah gariskan dan tokoh protagonis dijadikan sebagai tauladan karena mereka berkarya, berbuat dan bekerja sesuai dengan rencana langit yang mandatnya langsung dari Allah subhanahu wa ta’alaa
Isi kandungan Al-Quran selain berisi tauhid, ibadah, akhlak, sosial janji dan ancaman juga didalamnya terdapat kisah-kisah umat-umat terdahulu agar dijadikan sebagai pelajaran. Bahkan Al-Quran membagi fase-fase sejarah umat manusia dengan para nabi atau tokoh protagonis di zamannya. Secara tidak langsung, Al-Quran membagi sejarah manusia dengan fase nabi Adam, false nabi Nuh, fase nabi Ibrahim fase nabi Daud dan Sulaiiman, fase nabi Musa, nabi Isa dan diakhiri dengan fase nabi Muhammad sampai hari kiamat.
Alhasil, berkarya meskipun tidak sempurna adalah lebih baik daripada mengganggu orang bekerja dengan nyinyiran dan bully padahal pembenci belum berbuat apa-apa. Bukankah tokoh sejarah protagonis selalu mendapatkan ancaman, gangguan dan hambatan dari tokoh antagonis. Namun kemudian sejarah mencatat tokoh antagonis adalah sampah-sampah peradaban yang tidak boleh ditiru oleh umat manusia sesudahnya. Wallahu a’lam.
Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat!
*(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)*

 

Oleh: Hayat Abdul Latief

 

Akhir-akhir ini media massa dan media sosial diwarnai oleh nyinyir dan bully dari para buzzzer dan heater gubernur Jakarta. Dari sekian banyak gubernur provinsi Indonesia hanya Anis lah yang mendapat serangan dari pihak yang menanamkan kebencian.

Memang kritik dan saran merupakan bagian dari kebebasan dan demokrasi, namun kalau asasnya adalah kebencian dan kedengkian maka kemudian kritiknya bukan membangun tetapi contra produktif dan pembubuhan karakter.

 

Berkarya merupakan kewajiban bagi seorang muslim, Selain ibadah tentunya. Bahkan Islam memotivasi umatnya agar memiliki etos kerja yang baik. Tentu hal itu memerlukan manajemen agar pekerjaannya selain ada planning organizing actuating juga perlunya kontrol dan evaluasi. Karena di dalam Islam perlu adanya itqon dalam bekerja sebagaimana disebutkan dalam hadits, Dari Aisyah Radhiyallahu Anha, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda

 

إن اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ

 

“Allah ʽazza wa jalla menyukai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu amal secara itqan.” (HR. Imam At–Tabrânî, dalam al-Muʽjam al-Awsat, dan Imam Baihaqi dalam Sya’bu al-Îmân,)

 

Selain itqon, juga perlu adanya Ihsan dalam bekerja. Dari Abu Al Asy’ats dari Syaddad bin Aus dia berkata,

dari Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, beliau bersabda:

 

إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ، وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ، وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ، فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ

 

“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan supaya selalu bersikap baik terhadap setiap sesuatu, oleh karena itu apabila salah seorang kalian hendak membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang terbaik. Dan hendaklah salah seorang di antara kalian menajamkan mata pisaunya dan membuat nyaman hewan sembelihannya.” (HR. Imam Muslim dalam Sahîhnya)

 

Berkarya dituntut untuk mengevaluasi agar kemungkinan-kemungkinan salah dan gagal bisa teratasi. Meski demikian berkarya lebih baik meskipun terdapat kekurangan dari pada mengganggu orang yang bekerja dengan nyinyiran dan bully padahal pelakunya belum berbuat apa-apa. Dalam pepatah disebutkan anjing menggonggong kafilah berlalu tokoh sejarah memang selalu mendapatkan gangguan rintangan bahkan cacian tapi mereka fokus dengan karya nyata dan membalas semua Bulian dengan prestasi dan prestise.

 

Semasa hidupnya Rasulullah cukup menghabiskan waktu 23 tahun dalam membangun peradaban yang gemilang dengan pencapaian yang sangat fantastis yang belum pernah diperoleh oleh tokoh sejarah manapun. Sehingga tidak berlebihan kalau Michael Hart mencatat dalam bukunya, Rasulullah sebagai orang yang berada di urutan pertama dalam tokoh-tokoh yang sangat berpengaruh di dunia. Michael Hart tetap berada dalam pendiriannya meskipun analisisnya ditentang oleh penulis sejarah lainnya.

 

Tentu setiap gerak-gerik individu akan dicatat oleh sejarah apalagi publik figur dan memegang jabatan publik pasti sangat berkesan dengan perilakunya. Apakah ada jaminan kalau kita hidup di zaman nabi Nuh membela dan berpihak kepadanya. Apakah ada jaminan ketika kita hidup di zaman nabi Ibrahim kita setia menemani perjuangannya. Apakah ada jaminan ketika kita hidup di zaman nabi Musa kita berpihak kepadanya atau malah membebek kepada Firaun dan Apakah ada jaminan ketika kita hidup di zaman nabi Muhammad berjalan dibawah Panji beliau atau jangan-jangan kita berjalan dibelakang Abu Jahal.

 

Sejarah selalu berulang, tokohnya boleh berbeda, tempat dan waktunya boleh tidak sama tapi pola pola kepemimpinan mungkin mirip, meskipun tidak dikatakan sama persis. Al-Quran menceritakan Qobil, umat nabi Nuh, Namrudz, Jalut, Firaun, Abu lahab dan Abu Jahal sebagai toko yang selalu mendapat kutukan dari langit maupun dari bumi. Manusia sesudahnya mengenal bahwa mereka adalah tokoh-tokoh antagonis yang menyulap cahaya menjadi kegelapan.

 

Itulah gunanya Al-Quran menceritakan tokoh tokoh antagonis untuk dijadikan sebagai pelajaran dan tidak ditiru karena akan menjadi perusak peradaban dan juga perusak sunatullah yang Allah sudah gariskan dan tokoh protagonis dijadikan sebagai tauladan karena mereka berkarya, berbuat dan bekerja sesuai dengan rencana langit yang mandatnya langsung dari Allah subhanahu wa ta’alaa

 

Isi kandungan Al-Quran selain berisi tauhid, ibadah, akhlak, sosial janji dan ancaman juga didalamnya terdapat kisah-kisah umat-umat terdahulu agar dijadikan sebagai pelajaran. Bahkan Al-Quran membagi fase-fase sejarah umat manusia dengan para nabi atau tokoh protagonis di zamannya. Secara tidak langsung, Al-Quran membagi sejarah manusia dengan fase nabi Adam, false nabi Nuh, fase nabi Ibrahim fase nabi Daud dan Sulaiiman, fase nabi Musa, nabi Isa dan diakhiri dengan fase nabi Muhammad sampai hari kiamat.

 

Alhasil, berkarya meskipun tidak sempurna adalah lebih baik daripada mengganggu orang bekerja dengan nyinyiran dan bully padahal pembenci belum berbuat apa-apa. Bukankah tokoh sejarah protagonis selalu mendapatkan ancaman, gangguan dan hambatan dari tokoh antagonis. Namun kemudian sejarah mencatat tokoh antagonis adalah sampah-sampah peradaban yang tidak boleh ditiru oleh umat manusia sesudahnya. Wallahu a’lam.

 

Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat!

 

*(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)*

 

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *