Oleh: Hayat Abdul Latief
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)
Dalam mengomentari ayat di atas, Ibnu Katsir berkata, “Orang yang paling baik perkataannya adalah yang mengajak hamba Allah ke jalan-Nya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 12: 240). Demikian pula Al Alusi berkata, “Yang dimaksud ayat tersebut adalah orang yang berdakwah untuk mentauhidkan Allah dan taat kepada-Nya. Ayat ini mencakup setiap orang yang mengajak ke jalan Allah (termasuk da’i dan muadzin). Demikian pendapat Al Hasan Al Bashri, Maqotil dan mayoritas ulama.” (Ruhul Ma’ani, 18: 198 – Asy Syamilah)
Dakwah berarti kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil orang lain untuk beriman dan taat kepada Allah SWT, sesuai dengan garis akidah, syariat dan akhlak Islam. Secara bahasa, dakwah merupakan masdar (kata benda) dari kata kerja da’a yad’u yang artinya “panggilan”, “seruan” atau “ajakan. Orang yang berdakwah disebut dai (juru dakwah), sedangkan obyek dakwah disebut mad’u.
Nabi Muhammad SAW mencontohkan dakwah kepada umatnya dengan berbagai cara melalui hal, lisan, tulisan dan perbuatan. Rasulullah SAW memulai dakwahnya dari istri, keluarga, dan teman-teman karibnya hingga raja-raja yang berkuasa pada saat itu. Di antara raja-raja yang mendapat surat atau risalah Nabi SAW adalah kaisar Heraklius dari Byzantium, Mukaukis dari Mesir, Kisra dari Persia (Iran) dan Raja Najasyi dari Habasyah (Ethiopia).
*Dakwah Bil Hal*
Metode dakwah bil hal adalah sarana yang sangat penting dalam menyampaikan pesan dakwah serta mengarahkan manusia pada keislaman dengan memberikan perilaku baik yang ada pada diri seorang da’i. Perilaku baik tersebut tercermin dari perilakunya yang terpuji, berbudi pekerti luhur, dan akhlaknya yang bersih sehingga da‟i dijadikan sebagai panutan dan teladan yang baik .
Dakwah Islam bertujuan memberikan bimbingan dan pembinaan yang bersifat akidah, ibadah, akhlak, dan mu’amalah dalam rangka meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT secara vertikal, serta hubungan antar manusia dan alam sekitar secara horisontal. Dakwah juga bertujuan untuk memberikan pembinaan yang bersifat amaliah yang meliputi bidang-bidang ekonomi, pendidikan, rumah tangga, sosial, kesehatan, budaya, dan politik guna memperoleh kemaslahatan dunia yang diridhai Allah SWT, agar tujuan dakwah bisa tercapai diperlukan aktifitas atau proses penyebaran ajaran Islam baik dilakukan secara individu maupun kelompok.
Juga dakwah bertujuan mewujudkan nilai-nilai Islam yang diharapkan maka dibutuhkan dakwah yang tidak hanya bentuk lisan semata, tetapi diperlukan sebuah gerakan nyata atau lebih dikenal dengan dakwah bil hal. Konsep dakwah Islam dengan metode bil hal sejatinya lebih diarahkan pada upaya mengatualisasikan nilai-nilai ajaran Islam. Seluruh komponen harus diaktualisasikan dalam kehidupan sosial kemanusiaan, bukan hanya dipahami sebagai cara penyampaian ajaran secara verbal, non verbal, melainkan sebagai wujud penerapan Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin.
Memberikan teladan yang baik, saling menolong dan mengayomi merupakan konsep dakwah bil hal yang harus dikedepankan karena aktivitas dakwah saat ini dipahami dengan bentuk lisan semata. Keberadaan aktivitas dakwah dengan tindakan nyata tersebut diharapkan mampu mempengaruhi serta mendorong mad’u untuk berubah sehingga akan terbentuk suasana yang harmonis dengan nilai-nilai keislaman. Dakwah bil hal yang diwujudkan dengan perilaku menolong dalam konsep Islam merupakan bagian dari kewajiban setiap muslim maupun muslimah untuk mengamalkan ajaran yang terkandung dalam Al-qur’an maupun Hadist, oleh karena itu umat Islam mempunyai peran sangat penting dalam menumbuhkan sikap menolong terhadap sesama.
*Dakwah Bil Kalam*
Orang yang berdiam diri tidak menggunakan lisannya untuk mengajak kebaikan dan melarang keburukan maka oleh ulama disebut Setan Yang Bisu. Dalam ajaran islam tidak dibenarkan seorang muslim masa bodoh , acuh tak acuh atau tidak mengambil sikap terhadap apa yang terjadi di sekitarnya yang menyangkut kemaslahatan dan madharat bagi masyarakat umum secara luas dan kaum muslimin khususnya.
Memanfaatkan lisan dengan tujuan berdakwah merupakan perpanjangantangan dan menyambung lidah Rasulullah SAW. Sebagai contoh ayat Al-Quran yang diturunkan kepada beliau yang berupa dakwah pada hakekatnya juga perintah kepada umatnya untuk melakukan hal yang sama.
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ
“Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlash: 1-4)
اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125)
*Dakwah Bil Qalam*
Menulis merupakan aktifitas yang banyak mendatangkan manfaat. Bahkan Rasulullah SAW pun mendorong umatnya untuk pandai menulis. Di samping bermanfaat bagi ilmu pengetahuan, menulis juga bisa jadi media dakwah. Terdapat satu metode dakwah yang kurang akrab dan dikenal luas di tengah masyarakat yakni dakwah bil qalam /kitabah atau secara tulisan.
Dakwah bil kitabah atau dakwah melalui tulisan juga sering diidentikan dengan dakwah bil qalam (DBQ) atau dakwah menggunakan pena. Kata “Qalam” merujuk kepada firman Allah SWT:
نۤ ۚوَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُوْنَۙ
“Nun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan.” (QS Al-Qolam :1).
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia,Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1-5)
Dakwah bil qalam yaitu dakwah melalui tulisan yang dilakukan dengan keahlian di berbagai media, baik media cetak seperti buku dan media elektronik. Dakwah bil qalam jangkauannya lebih luas. Dapat dibaca kapan saja dan di mana saja sehingga objek dakwah bisa menikmati sajian dakwah dengan lebih fleksibel.
Diambil dari berbagai sumber semoga bermanfaat!
*(Dipresentasikan Pada Pelatihan Dakwah tanggal 13-2-2022 di Lembaga Dakwah Zawiyah Jakarta)*

