Oleh: Hayat Abdul Latief

 

Jalan yang ditempuh oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam adalah jalan dakwah yang juga telah dirintis oleh para nabi-nabi sebelumnya. Sebagai umat beliau kita dituntut untuk mengikuti jalan yang beliau tempuh yaitu jalan dakwah. Perhatikan firman Allah subhanahu wa ta’ala berikut:

 

قُلْ هَٰذِهِۦ سَبِيلِىٓ أَدْعُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِى ۖ وَسُبْحَٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ

 

“Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik ” (QS. Yusuf: 108)

 

Jalan Dakwah yang ditempuh oleh Rasulullah adalah mengajak manusia kepada Allah dengan hujjah yang nyata, dakwah yang didasari atas argumen yang kuat, atas ilmu yang kokoh dan atas bashirah yang terang benderang. Kebenaran Islam laksana matahari di siang bolong yang tidak berawan, tidak mendung dalam cuaca yang cerah. Tidak ada yang menutupi kebenaran Islam kecuali akan hancur olehnya, tidak ada yang bisa membendung laju dakwah Islam kecuali akan tertabrak olehnya dan tidak ada yang bisa memadamkan cahaya Allah kecuali Allah akan menyempurnakan cahaya-Nya.

 

Jalan dakwah merupakan estafet jalan para nabi, yakni mengajak manusia kepada Allah subhanahu wa ta’ala bukan mengajak kepada kelompok atau fanatisme golongan, jalan dakwah yang tidak lekang oleh waktu, tidak pupus oleh zaman dan tidak luntur oleh perubahan. Seorang dai meskipun sendiri namun percayalah selalu didukung oleh seluruh ruh para nabi. Dakwah yang mengajak kepada golongan, kelompok dan fanatisme buta akan menghilangkan ruh dakwah yang bersifat global yaitu mengajak manusia untuk taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

 

Dakwah merupakan solusi masalah keumatan. Umat yang rusak dan bangsa yang berjalan kepada kehancuran perlu adanya orang-orang yang mengingatkan mereka. Apabila dibiarkan maka azab Allah akan menimpa kepada seluruhnya meliputi pelaku kejahatan atau orang yang dianggap baik, dengan alasan orang yang dianggap baik tidak memberikan peringatan kepada pelaku kejahatan. Sebuah permisalan yang sangat indah dalam hadis berikut: Dari An Nu’man bin Basyir rahiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالْوَاقِعِ فِيهَا كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ ، فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلاَهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا ، فَكَانَ الَّذِينَ فِى أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ الْمَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ فَقَالُوا لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِى نَصِيبِنَا خَرْقًا ، وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا . فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا ، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيعًا

 

“Perumpamaan orang yang mengingkari kemungkaran dan orang yang terjerumus dalam kemungkaran adalah bagaikan suatu kaum yang berundi dalam sebuah kapal. Nantinya ada sebagian berada di bagian atas dan sebagiannya lagi di bagian bawah kapal tersebut. Yang berada di bagian bawah kala ingin mengambil air, tentu ia harus melewati orang-orang di atasnya. Mereka berkata, “Andaikata kita membuat lubang saja sehingga tidak mengganggu orang yang berada di atas kita.” Seandainya yang berada di bagian atas membiarkan orang-orang bawah menuruti kehendaknya, niscaya semuanya akan binasa. Namun, jika orang bagian atas melarang orang bagian bawah berbuat demikian, niscaya mereka selamat dan selamat pula semua penumpang kapal itu.” (HR. Bukhari no. 2493).

 

Umat punya kewajiban mengikuti jalan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam yaitu berdakwah, sebagai upaya untuk melestarikan ajaran Islam yang mata rantainya tidak boleh terputus semenjak Allah mengutus para nabi sampai hari kiamat. Oleh sebab demikian maka umat Akhir zaman ini bisa disebut umat terbaik apabila mereka mengajak kepada kebaikan melarang kemungkaran sebagaimana yang disebutkan dalam ayat berikut:

 

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ ۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَكْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ

 

“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.” (Q.S. Ali ‘Imran: 110)

 

Diantara tujuan dakwah adalah menghilangkan syirik, mempertuhankan, mengagungkan dan mengangkat wali (pelindung, pemimpin dan pemutus urusan) selain dari Allah subhanahu wa ta’ala. Menyembah Allah dan tidak mensekutukan-Nya merupakan hak Allah terhadap hamba-hamba-Nya sebagaimana yang tertera dalam hadits berikut:

 

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ – رضي الله عنه – قَالَ: كُنْتُ رِدْفَ رَسُولِ اللّهِ صلى الله عليه و سلم عَلَى حِمَارٍ يُقَالُ لَهُ عُفَيْرٌ. فَقَالَ: يَا مُعَاذُ! أَتَدْرِي مَا حَقُّ اللّهِ عَلَى الْعِبَادِ وما حقُّ العبادِ عَلَى الله, قُلْتُ: الله وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: فَإِنَّ حَقَّ اللّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوا اللّهِ وَلاَ يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً. وَحَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ لاَ يُعَذِّبَ مَنْ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئاً. قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللّهِ! أَفَلاَ أُبَشِّرُ النَّاسَ, قَالَ: «لاَ تُبَشِّرْهُمْ. فَيَتَّكِلُوا. رواه البخارى و مسلم

 

“Dari Mu’adz bin Jabal berkata, aku dibonceng oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam di atas keledai namanya ‘ufair, maka Rasulullah bertanya: “Wahai Mu’adz! Tahukah kamu apa hak Allah atas hamba-Nya dan apa hak hamba atas Allah?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Rasulullah bersabda: “Hak Allah yang harus dipenuhi hamba-Nya adalah hendaknnya mereka meyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun. Sedangkan hak hamba dari Allah adalah bahwa Allah tidak akan menyiksanya bagi siapa yang tidak menyekutukannya.” Aku berkata: ‘”Apakah boleh aku kabarkan kepada orang lain (hal ini)?” Rasulullah bersabda: “Jangan kau kabarkan hal ini kepada mereka, karena mereka akan menggantungkan dengan hal ini saja.” (HR. Bukhari-Muslim) Keterangan: Para perawi hadits meriwayatkan bahwa Mu’adz Bin Jabal ketika mau meninggal dunia menyampaikan hadits ini karena takut menyembunyikan ilmu. Wallahu a’lam.

 

Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat.

 

*(Penulis adalah Direktur Korp Da’i An-Nashihah dan Pelajar Zawiyah Jakarta)*

 

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *