Oleh: Hayat Abdul Latief

 

Allah telah menciptakan manusia dalam keadaan fitrah yang bersih terbebas dari kotoran kekafiran dan dari kebiasaan buruk. Allah juga menyediakan agama yang sesuai dengan fitrah manusia yakni Islam, agama disisi Allah yang Allah tidak menerima agama selain darinya. Oleh karena itu Allah menyuruh manusia agar menghadapkan wajah kepada agama yang hanif ini. firman-Nya,

 

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

 

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum: 30)

 

Tafsir QS. Ar-Rum: 30: Allah memerintahkan Rasulullah dan umatnya untuk menghadapkan wajah kepada Allah dengan berpegang teguh di atas agama-Nya. Allah mengkhususkan wajah karena penghadapan wajah merupakan hasil dari penghadapan hati, dan keduanya membutuhkan usaha dari badan. Dan teguhlah di atas agama Islam, ia merupakan agama Allah yang manusia diciptakan Allah dengan agama Islam sejak kelahiran mereka, maka janganlah merubah fitrah yang telah Allah tetapkan bagi hamba-Nya itu. Namun teguhlah di atas agama yang agung dan jalan yang dapat mengantarkan kepada keridhaan Allah. Akan tetapi mayoritas hamba tidak mengetahui keagungan agama yang benar ini. Abu Hurairah berkata, Rasulullah bersabda: “Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Namun kedua orangtuanya-lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Sebagaimana hewan yang dilahirkan oleh hewan yang terpotong telinganya, apakah kalian melihat pada anaknya itu ada yang terpotong telinganya?” Kemudian Rasulullah membaca: (فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّه). (HR. Imam Al-Bukhari dan Muslim. Dalam shahih al-Bukhari 8/372 no. 4775, kitab tafsir surat ar-Rum, bab لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّه. Dan dalam Shahih Muslim 4/2047, kitab qadar, bab makna “Setiap anak dilahirkan di atas fitrah…). (Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah – Markaz Ta’dzhim al-Qur’an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur’an Universitas Islam Madinah)

 

*Hidup Normal Sesuai Dengan Fitrah*

 

Semenjak kecil memang oleh orang tuanya, Gilbert (bukan nama sebenarnya) disiapkan sebagai biarawan, dipersiapkan untuk menjadi pelayan dalam agama Katolik. Demikian juga dengan Naty (bukan nama sebenarnya) disiapkan oleh orang tuanya menjadi biarawati. Semenjak pandangan pertama muda-mudi yang hidup di gereja ini ini entah mengapa ada sesuatu di dalam hati mereka ketertarikan satu sama lain. Bahkan setiap rasa rindu itu menggebu-gebu mereka saling bertanya tentang kabar melalui telepon. Karena rasa cinta itulah yang kemudian mereka memberanikan diri untuk mengundurkan diri dari pelayanan dan kehidupan di gereja dan pada akhirnya mereka menikah. Mereka memang melanggar janji suci gereja tapi apakah mereka melanggar fitrahnya?

 

Islam hadir untuk kemaslahatan manusia dan Islam merupakan agama yang sesuai dengan fitrah manusia. Sehingga Islam merupakan agama yang paling cepat perkembangannya di dunia. Apa rahasianya? Tidak lain dan tidak bukan karena Islam merupakan agama yang sesuai dengan fitrah manusia. Di bawah ini ini bukti Islam sebagai agama yang sesuai dengan fitrah:

 

1. Ajaran tauhid. Merupakan fitrah manusia cenderung kepada tauhid, beriman kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa, menafikan sekutu bagi-Nya. Islam menyeru kepada ajaran tauhid yang diterima oleh akal sehat dan fitrah yang lurus tersebut. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

 

لَوْ كَانَ فِيهِمَآ ءَالِهَةٌ إِلَّا ٱللَّهُ لَفَسَدَتَا ۚ فَسُبْحَٰنَ ٱللَّهِ رَبِّ ٱلْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ

 

“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.” (QS. Al-Anbiya: 22 )

 

2. Menikah. Merupakan fitrah manusia yaitu laki-laki dan perempuan hidup tentram dalam bingkai rumah tangga. Islam menganjurkan pernikahan dan tidak menyukai praktek kerahiban (membujang atau tidak menikah). Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

 

وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

 

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Rum: 21)

 

3. Usaha dan Kepemilikan. Merupakan fitrah manusia menyukai kerja dan kepemilikan, Islam membolehkan usaha atau bekerja yang penting halal dan membolehkan kepemilikan dengan cara cara yang disyariatkan misalnya jual beli dan seterusnya. Islam juga melarang usaha yang buruk seperti riba yang merupakan usaha tanpa bekerja, suap, mencuri dan merampok.

 

4. Kemudahan. Merupakan fitrah manusia tidak suka dibebani kecuali sesuai dengan kemampuannya. Islam dibangun di atas kemudahan. Bagi orang yang sakit musafir dan wanita yang menyusui yang mengkhawatirkan terhadap keselamatan anaknya boleh tidak berpuasa di bulan Ramadhan. Bagi yang tidak mendapatkan air atau terhalang menggunakannya karena penyakit maka dibolehkan tayamum sebagai ganti wudhu dan mandi wajib.

 

5. Ilmu Pengetahuan. Merupakan fitrah manusia ingin mengetahui apa yang belum diketahui. Berkenaan dengan itu, Islam menyuruh untuk memperhatikan penciptaan langit dan bumi untuk mendapatkan rahasia-rahasia yang terdapat di dalam keduanya. Allah subhanahu wa ta’ala,

 

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ

 

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal.” (QS. Ali ‘Imran: 190)

 

Islam juga mendorong untuk tholabul Ilmi sampai akhir hayat, sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Hadits.

 

6. Menolak Perbudakan. Merupakan fitrah manusia mencintai kemerdekaan. Islam berusaha keras untuk menjaga kemerdekaan dan menolak perbudakan. Betapa indahnya Islam yang menjadikan kafaroh atau penebus dosa dengan cara memerdekakan budak.

 

7. Membela Diri. Merupakan fitrah manusia cinta kekuatan untuk beladiri dan melawan kesewenang-wenangan. Islam menyuruh umatnya agar mampu membela diri. Meski demikian Islam melarang memulai dan menyulut permusuhan. “Musuh Jangan dicari bila ketemu musuh Jangan lari”, demikian kata-kata dari para bijak bestari.

 

8. Persamaan Derajat antar-manusia. Merupakan fitrah manusia ingin sama dengan yang lain. Manusia menghendaki persamaan derajat dan dan tidak suka terhadap kesewenangan – merasa unggul karena unsur bangsa, warna kulit, status sosial, nasab dan hartanya. Islam telah menetapkan dasar persamaan. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam,

 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَلَا إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ، أَلَا لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ وَلَا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ وَلَا لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ وَلَا أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلَّا بِالتَّقْوَى

 

“Wahai sekalian umat manusia, ketahuilah sesungguhnya Tuhanmu satu (esa). Nenek moyangmu juga satu. Ketahuilah, tidak ada kelebihan bangsa Arab terhadap bangsa selain Arab (Ajam), dan tidak ada kelebihan bangsa lain (Ajam) terhadap bangsa Arab. Tidak ada kelebihan orang yang berkulit merah (puith) terhadap yang berkulit hitam, tidak ada kelebihan yang berkulit hitam dengan yang berkulit merah (putih), kecuali dengan taqwanya”. (HR. Ahmad, 22978).

 

Karena Islam agama yang sesuai dengan fitrah maka tidak heran kalau Islam merupakan agama yang paling pesat perkembangannya di barat dan di belahan bumi lainnya. Manusia memasuki Islam dengan gelombang yang besar dan berbondong-bondong.

 

Diolah dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah!

 

*(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)*

 

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *