Multazam – ملتزم

Ka’bah adalah titik pertemuan umat Islam sedunia, bangunannya merupakan susunan batu berbentuk kubus. Kendati demikian hampir di setiap titik dari bangunan ini sarat akan makna, seolah tak ada habisnya untuk diperbincangkan dan ditelaah. Salah satunya adalah multazam.

Mengenai letak posisi Multazam, di dalam kitab Musnad Ibnu Abi Syaibah tertulis beberapa pendapat ulama, sahabat dan tabi’in tentang letak posisi Multazam. Ada yang berpendapat bahwa Multazam berada di antara pintu Kakbah dan Hajar Aswad sebagaimana pendapat dari Ibnu Abbas, Syaibani, Mujahid, Muhammad bin Abdurrahman Al Abdi, dan Hanzhalah. Ada pula yang berpendapat bahwa letak Multazam itu berada di belakang Ka’bah, sebagaimana pendapat dari Waki’, Sufyan, Abu Ishaq, Ma’an bin Isa, Hamid bin Abdirrahman, dan Abu Bakar bin Abdirrahman. Terkait dengan letak Multazam terdapat suatu riwayat yang masyhur (yang banyak diketahui) dari Ibnu Abbas yang menyatakan letak Multazam berada di antara pintu Ka’bah dan Hajar Aswad.

Tempat ini merupakan tempat yang mustajab untuk memanjatkan doa kepada Allah. Begitu istimewanya sehingga tidak heran tempat ini diburu oleh jemaah haji dan umrah setelah mengerjakan tawaf. Tidak mudah untuk mencapai tempat ini karena dipenuhi oleh jemaah yang melakukan tawaf dan berusaha mencapainya. Jemaah haji dan umrah berdoa dengan penuh kekhusyukkan dengan air mata bercucuran. Apalagi menyentuh Multazam di musim haji sangat tidak mudah, penuh dengan perjuangan. Hanya pertolongan dan anugrah Allah seseorang dapat menikmati kemurahan-Nya di Multazam. Dan terkabulnya doa itu tetap menjadi otoritas penuh Allah SWT karena Allah SWT yang paling mengetahui hal-hal yang baik bagi hamba-hamba-Nya. Kita hanya berikhtiar maksimal untuk memenuhi apa yang baik dalam memanjatkan doa tersebut. Seyogyanya orang yang berdoa jangan sampai mengganggu orang lain dengan memperpanjang doanya. Sebagaimana tidak diperkenankan berdesak-desakan dan menyakiti orang-orang hanya karena itu. Dikala melihat ada kesempatan dan kelonggaran, berdoa (di tempat itu). Kalau tidak ada, cukuplah berdoa ketika thawaf dan (dalam) sujud shalat.
Uniknya, banyak jemaah haji yang suka nyeleneh, habis berdoa untuk kepentingan sendiri, kadang diantara mereka ada jemaah yang menghubungi keluarga lewat HP untuk ikut berdoa. Banyak tempat yang diyakini orang sebagai tempat yang mustajab dimana jika orang berdoa di tempat tersebut maka doanya pasti dikabulkan.

Hal ini diasarkan pada hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan al-Baihaki dari Ibn Abbas yang artinya: “Antara rukun Hajar Aswad (sudut tempat terdapatnya Hajar Aswad) dan pintu Ka’bah disebut Multazam. Tidak ada orang yang meminta sesuatu di multazam melainkan Allah mengabulkan permintaan itu.”

Dari segi bahasa, multazam berasal dari bahasa Arab dari kata lazima-yalzamu yang berarti tetap, pasti, dan wajib. Kemudian membentuk kata multazam yang
berarti “yang diminta pertanggungjawabkan”.

Cara berdoa di Multazam:

1. Pertama
Memulai dengan bismillah, lalu memuji Allah. “Maka bertasbihlah dengan memuji Rabb-mu dan mohonlah ampun kepada-Nya.” (an-Nashr 3). Memulai dengan mengembalikan kekuasaan dan kebesaran pada Allah SWT.

2. Kedua
Bershalawat dan salam kepada Nabi karena di samping hal ini adalah perintah Allah dalam Al-Qur’an juga apa yang diriwayatkan sahabat dari Anas bin Malik, “Tidaklah seseorang berdoa kecuali antara dia dan langit ada hijab, sampai dia bershalawat kepada Nabi”.

3. Ketiga
Menyebut nama-nya, asmaul husna, dengan lembut dan santun karena dengan mengenal nama dan sifat-Nya (asma wa shifah) kita akan mengenal dan merasa dekat dengan Zat yang akan kita seru. Hanya kedekatan yang membuka peluang makbul “Dan Allah memiliki asmaul husna maka berdoalah dengan menyebut asmaa-ul husna itu.” (QS al-A’raaf 180).

4. Keempat
Menyampaikan apa yang diinginkan dengan penuh harap baik dengan doa yang ada dalam Al quran, hadis, maupun formulasi sendiri, misalnya, “Allahummakfinii bihalaalika an haraamika, wa aghninii bifadhlika ‘amman siwaaka.” (Ya Allah berilah saya rezeki yang halal, bukan yang haram. Dan kekayaaan (rezeki yang melimpah) yang Engkau ridhai bukan yang Engkau murkai) – HR Turmudzi.

5. Kelima
Berprasangka baik terhadap Allah bahwa Allah akan mengabulkan doa-doa kita. Tentu jika kita ingin didengar dan dikabul doa maka kita selalu berupaya untuk mendekat melalui amal-amal saleh yang kita kerjakan sehari-hari. Menjauhi perbuatan buruk yang dapat mengganggu kabulnya doa tersebut.

Amru bin Syu’aib menceritakan dari ayahnya, “Aku pernah melakukan thawaf bersama Abdullah bin Amr bin Ash, dan ketika kami sampai ke belakang Kakbah, aku berkata, ‘Tidakkah engkau memohon perlindungan kepada Allah dari api neraka?’ Abdullah lalu mengucapkan, ‘Aku berlindung kepada Allah dari api neraka’. Kemudian dia berlalu dan menyentuh Hajar Aswad, selanjutnya dia berdiri antara Rukun (Hajar Aswad) dan pintu (Kakbah), lalu mendekatkan dada, kedua tangan dan pipinya kepada rukun itu, kemudian dia berkata, ‘beginilah aku melihat Rasulullah SAW melakukannya’.”
Berdasarkan riwayat tersebut, Rasulullah SAW menempelkan dada dan tangan seraya berdoa. Dan karena itulah dinamai sebagai Multazam yang juga berarti tempat yang didekatkan atau ditempelkan.
Makna iltizamuhu (merapatkannya) yaitu orang yang berdoa menaruh dada, wajah, lengan dan kedua tangannya di atasnya dan berdoa kepada Allah apa yang mudah baginya dari apa yang dia inginkan. Dan diperbolehkan merapatkannya ketika memasuki ka’bah (kalau mudah untuk masuk ke dalamnya).
Berdoa di Multazam juga diperbolehkan melaksanakannya sebelum thawaf wada’, dan pada waktu kapan saja.

Cara berdoa di multazam selanjutnya adalah menyampaikan apa yang diinginkan, baik menggunakan bahasa sendiri ataupun menggunakan doa-doa yang dicontohkan oleh Rasulullah.

Disunahkan berdoa di Multazam sambil menempelkan tangan, dada dan pipi ke Multazam sesuai dengan hadist Nabi saw
Multazam atau place of clinging dalam Bahasa Inggris, adalah bagian dari Ka’bah yang mulia diantara hajar aswad dan pintu ka’bah. Makna iltizamuhu (merapatkannya) yaitu orang yang berdoa menaruh dada, wajah, lengan dan kedua tangannya di atasnya dan berdoa kepada Allah apa yang mudah baginya dari apa yang dia inginkan. Dan disana tidak ada doa khusus yang seorang muslim berdoa di tempat itu. Dan diperbolehkan merapatkannya ketika memasuki ka’bah (kalau mudah untuk masuk ke dalalmnya), diperbolehkan melaksanakannya sebelum thawaf wada’, dan pada waktu kapan saja.

Dari Abdurrahman bin Sofwan berkata: “Ketika Rasulullah SAW menaklukkan Mekkah, saya mengatakan: “Saya akan memakai pakaianku, dahulu rumahku di jalan. Saya akan melihat apa yang dilakukan Rasulullah SAW . Maka saya berangkat dan melihat Nabi SAW keluar dari Ka’bah. Beliau dan para shahabat keluar dari ka’bah dan mereka menyentuh bait (Ka’bah) dari pintu sampai di Hittim. Mereka menaruh pipinya di bait (ka’bah) sedangkan Rasulullah SAW di tengah-tengah mereka.” HR.Abu Dawud dan Ahmad

Dan dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya berkata: “Saya (menunaikan) thawaf bersama Abdullah, ketika sampai di belakang ka’bah, saya berkata: “Apakah kita tidak berlindung?” (Beliau) berkata: “Kita berlindung dengan (Nama) Allah dari neraka.” Ketika telah lewat, saya menyentuh hajar (aswad), dan berdiri diantara rukun (hajar aswad) dan pintu (ka’bah). Maka (beliau) menaruh dada, wajah, lengan dan kedua tangannya begini dan membentangkan lebar keduanya. Kemudian berkata: “Beginilah saya melihat Rasulullah SAW melakukannya. HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah

Menurut Atiq bin Ghaits Al-Biladi dalam Fadhail Makkah wa Hurmat al-Bayt al-Haram
Multazam juga menjadi tempat yang dipilih Rasulullah SAW untuk menunaikan shalat. Seorang Quraisy pernah mendengar Saib bertanya, ‘’Dimanakah engkau melihat Rasulullah SAW melakukan shalat? Lalu dia menunjuk ke Ka’bah, dekat rukun (sudut) yang sebelah kiri, yang termasuk di dalamnya hijir Ismail, kira-kira empat atau lima hasta.’’

Ibnu Taimiyah berkata: “Kalau dia ingin mendatangi multazam –yaitu antara hajar aswad dan pintu ka’bah- dan dia menaruh dada, wajah, lengan dan kedua tangannya dan berdoa kepada Allah Ta’ala keperluannya, dia (diperbolehkan) melakukan itu. Hal itu boleh dilakukan sebelum thawaf wada’, karena (posisi) penempelan ini tidak ada bedanya waktu wada’ (perpisahan) maupun yang lainnya. Dan para shahabat juga melakukan hal itu ketika memasuki Mekkah. Kalau dia mau membaca doa yang ada tuntunannya dari Ibnu Abbas RA

اللهمَّ إني عبدك وابن عبدك وابن أمتك حملتني على ما سخرتَ لي مِن خلقك وسيرتَني في بلادك حتى بلغتَني بنعمتِك إلى بيتِك وأعنتَني على أداء نسكي فإنْ كنتَ رضيتَ عني فازدَدْ عني رضا وإلا فمِن الآن فارضَ عني قبل أنْ تنآى عن بيتك داري فهذا أوان انصرافي إنْ أذنتَ لي غير مستبدلٍ بك ولا ببيتِك ولا راغبٍ عنك ولا عن بيتِك اللهمَّ فأصحبني العافيةَ في بدني والصحةَ في جسمي والعصمة في ديني وأحسن منقلبي وارزقني طاعتك ما أبقيتَني واجمع لي بين خيري الدنيا والآخرة إنك على كل شيء قدير

“Ya Allah, Tuhan kami, sesungguhnya saya adalah hambaMu dan anak dari hambaMu, anak budak-Mu. Engkau bawa kami dengan apa yang telah Engkau jalankan kepadaku dari makhlukMu. Dan Engkau jalankan diriku dari negeriMu sehingga Engkau sampaikan dengan nikmatMu ke rumahMu. Dan Engkau bantu kami agar dapat menunaikan manasikku. Kalau sekiranya Engkau rido kepada diriku, maka tambahkanlah kepada diriku keridoanMu. Kalau sekiranya (belum), maka dari sekarang (berikanlah) keredoan kepada diriku sebelum meninggalkan rumahMu (menuju) rumahku. Ini adalah waktu kepergianku, jikalau Engkau mengizinkan kepadaku tanpa (ada rasa) menggantikan dari diriMu, juga rumahMu, dan (tidak ada perasaan) benci kepadaMu dan pada rumahMu. Ya Allah, Tuhanku. Sertakanlah kepada diriku kesehatan pada badanku, dan kesehatan di tubuhku serta jangalah agamaku, dan perbaikilah tempat kembaliku, berikanlah rezki (dengan) ketaatan kepadaMu selagi saya (masih) hidup. Dan gabungkanlah untuk diriku kebaikan dunia dan akhirat. Sesungguhnya Engkau terhadap sesuatu Maha Mampu.

Rasulullah SAW juga pernah memanjatkan doa khusus di Multazam, ”Ya Allah yang memelihara Al Bait al Atieq (Ka’bah) merdekakanlah kami, bapak-bapak kami, ibu-ibu kami, saudara-saudara kami dan anak-anak kami dari belenggu api neraka Wahai Yang Mahamurah, Yang Mahamulia, Yang Mahautama, Yang Maha Pengarunia, Yang Maha Pemberi Kebakan. Ya Allah jadikanlah segala urusan kami mendatangkan kebajikan, jauh dari segala kehinaan dunia dan siksa akhirat.”

”Ya Allah, aku ini hamba-Mu dan anak hamba-mu yang sedang berdiri di bawah rumah-mu di Multazam, aku menghadap dan bersimpuh di hadapan-Mu. Aku mengharapkan rahmat-Mu, takut akan siksa-Mu, wahai Pemberi Kebajikan. Ya Allah aku memohon kepada-Mu terimalah zikir-ku (pada-Mu), hilangkanlah dosa-dosaku, lancarkanlah urusanku sucikanlah hatiku, sinarilah kuburku, ampunilah dosaku dan aku mohon pada-Mu berikanlah derajat tinggi di surga.” (HR Ahmad bin Hanbal atau Imam Hanbali).
Kalau sekiranya berdiri di sisi pintu Ka’bah dan berdoa disana tanpa menempelkan di ka’bah, maka hal itu (juga) baik. Majmu’ Fatawa, 26/142, 143.

Nabi Adam AS pun pernah memanjatkan doa khusus di Multazam. Menurut Abdullah bin Abi Sulaiman – maula bani Makhzum – ketika Adam diturunkan dia ber-thawaf di Baitullah sebanyak tujuh putaran. Lalu shalat dua rakaat di hadapan pintu Ka’bah.

Lalu, Adam mendatangi Multazam dan berdoa, ‘’Ya Allah engkau mengetahui rahasia dan terang-teranganku, maka terimalah permohonan maafku. Engkau mengetahui apa-apa yang ada dalam jiwaku, maka ampunilah dosa-dosaku. Engkau mengetahui kebutuhanku, maka berikanlah permintaanku…’’ Menurut riwayat itu, Allah SWT mengabulkan doa Nabi Adam AS itu.

Selain sebagai tempat mustajab, Multazam mengandung keunikan tersendiri dari aspek sejarah. Menurut Ibnu Qayyim Al Jauzy, Multazam adalah dinding yang hancur ketika Rasulullah naik ke langit pada peristiwa Mi’raj dan ketika itu Kakbah hendak mengikutinya, namun ada dinding yang rusak sampai akhirnya Kakbah pun menetap di bumi. Dinding yang rusak inilah disebut Multazam. Namun berdasarkan Hadis sahih yang diriwayatkan oleh Bukhari, saat peristiwa Isra’ dan Mi’raj, Kakbah tidak hancur atau rusak, namun yang rusak adalah sebagian batu saja yang melekat pada Kakbah.

Wallahu a’lam

Diolah dari berbagai sumber

Badrah Uyuni

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *