Oleh: Hayat Abdul Latief
Tempat Rasulullah SAW beristirahat sehabis dikejar-kejar penduduk Thaif adalah kebun kurma. Lahan perkebunan itu milik kedua anak Rabi’ah; Utbah dan Syaibah. Nabi merasa enggan menemui keduanya. Mungkin karena lelah, masih merasakan sakit dari luka-luka akibat serangan penduduk Thaif. Namun Utbah dan Syaibah ternyata merasa iba kepada tamu di kebunnya itu. Keduanya lantas mengirimkan budaknya kepada Rasulullah dan pendampingnya yang sedang berteduh di bawah pohon kurma. Budak itu bernama Addas. Tangannya membawa beberapa anggur dan kurma untuk disuguhkan kepada beliau shalallahu ‘alaihi wasallam. Sesampainya di sana, Addas memberikan amanat tuannya itu kepada beliau. Setelah mengucapkan terima kasih, Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersiap memakan sajian itu dengan terlebih dahulu mengucapkan bismillah. Mendengar kata-kata itu, Addas tampak terkejut. Kepada Nabi Muhammad, dia mengatakan, belum pernah ada penduduk Thaif dan sekitarnya yang pernah mengucapkan kalimat demikian.
“Siapa namamu?” Tanya Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam
“Addas!” Sahut budak tersebut.
“Di mana negeri asalmu?” Tanya beliau
“Saya dari Ninawa!” Jawab Addas.
“Kota nabi yang saleh, Yunus bin Matta!” ujar Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam. Kali ini, jantung Addas seperti terguncang. Bagaimana bisa tamu misterius ini mengetahui soal Nabi Yunus?
“Dia adalah saudaraku. Dia itu seorang nabi yang Allah utus untuk menyampaikan risalah kepada kaum di sana. Aku pun seorang nabi.” Kata Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam
Dari kejauhan, rupanya Utbah dan Syaibah menyaksikan perilaku budak mereka itu. Mereka lantas berteriak, memanggil Addas pulang. “Mengapa kamu berbuat demikian, mencium kaki orang itu?” tanya Utbah kepada Addas setengah membentak.
“Lelaki itu merupakan manusia terbaik di bumi ini. Dia mengisahkan kepadaku tentang seorang nabi yang diutus kepada kaum kami. Dia menceritakan kisah yang hanya diketahui oleh seorang nabi!” Jawab Addas.
“Siapa yang kau maksud?”
“Yunus bin Matta!” Katanya.
“Lantas?”
“Lelaki itu juga mengatakan, dia pun seorang nabi yang diutus oleh Allah.” Ujar budak tersebut berterusterang.
“Bukankah kamu seorang penganut Kristen?” Tanya Utbah lagi.
“Benar!”
“Tetaplah kamu dalam agama Kristen! Jangan mau tertipu oleh perkataan lelaki tadi!” Jawab Utbah ketus. (Menyadari Addas tak kembali, Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam dan pendampingnya lalu melanjutkan perjalanan kembali). Menurut sumber lain, Addas mendapat hidayah ditengah penduduk Thaif yang membenci dan mengusir kedatangan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.
*Kisah Nabi Yunus dalam Al-Qur’an*
Yunus termasuk salah satu Nabi yang kisahnya diceritakan berkali-kali dalam Al-Qur’an. Bahkan, namanya diabadikan menjadi salah satu surah. Allah menceritakan kisah Nabi Yunus sebanyak empat kali dalam kitab-Nya tersebut. Nabi Yunus disebutkan berasal dari Palestina atau saat itu disebut sebagai negeri Syam. Allah memerintahkan Nabi Yunus untuk menyeru penduduk Ninawa agar menyembah-Nya. Kota Ninawa sendiri terletak di Mosul, Irak.
1. QS. Yunus ayat 98:
فَلَوْلَا كَانَتْ قَرْيَةٌ ءَامَنَتْ فَنَفَعَهَآ إِيمَٰنُهَآ إِلَّا قَوْمَ يُونُسَ لَمَّآ ءَامَنُوا۟ كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ ٱلْخِزْىِ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَمَتَّعْنَٰهُمْ إِلَىٰ حِينٍ
“Maka mengapa tidak ada (penduduk) suatu negeri pun yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Ketika mereka (kaum Yunus) itu beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai waktu tertentu.”
2. QS. Al-Anbiya’ ayat 87-88:
وَذَا النُّوْنِ اِذْ ذَّهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ اَنْ لَّنْ نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادٰى فِى الظُّلُمٰتِ اَنْ لَّآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنْتَ سُبْحٰنَكَ اِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظّٰلِمِيْنَ
فَاسْتَجَبْنَا لَهٗۙ وَنَجَّيْنٰهُ مِنَ الْغَمِّۗ وَكَذٰلِكَ نُـْۨجِى الْمُؤْمِنِيْنَ
“Dan (ingatlah kisah) Zun Nun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap, ‘Tidak ada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh aku termasuk orang-orang yang zalim. Maka Kami kabulkan (doa)nya dan Kami selamatkan dia dari kedukaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.”
3. QS. Ash-Shaffat ayat 139-148:
وَإِنَّ يُونُسَ لَمِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ
إِذۡ أَبَقَ إِلَى ٱلۡفُلۡكِ ٱلۡمَشۡحُونِ
فَسَاهَمَ فَكَانَ مِنَ ٱلۡمُدۡحَضِينَ
فَٱلۡتَقَمَهُ ٱلۡحُوتُ وَهُوَ مُلِيمٌ
فَلَوۡلَآ أَنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلۡمُسَبِّحِينَ
لَلَبِثَ فِى بَطۡنِهِۦٓ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ فَنَبَذۡنَٰهُ بِٱلۡعَرَآءِ وَهُوَ سَقِيمٌ وَأَنۢبَتۡنَا عَلَيۡهِ شَجَرَةً مِّن يَقۡطِينٍ
وَأَرۡسَلۡنَٰهُ إِلَىٰ مِاْئَةِ أَلۡفٍ أَوۡ يَزِيدُونَ فَـَٔامَنُواْ فَمَتَّعۡنَٰهُمۡ إِلَىٰ حِينٍ
“Dan sungguh, Yunus benar-benar termasuk salah seorang Rasul, (ingatlah) ketika dia lari, ke kapal yang penuh muatan, kemudian dia ikut diundi ternyata dia termasuk orang-orang yang kalah (dalam undian). Maka dia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela. Maka sekiranya dia tidak termasuk orang yang banyak berzikir (bertasbih) kepada Allah, niscaya dia akan tetap tinggal di perut (ikan itu) sampai hari kebangkitan. Kemudian Kami lemparkan dia ke daratan yang tandus, sedang dia dalam keadaan sakit. Kemudian untuk dia Kami tumbuhkan sebatang pohon dari jenis labu. Dan Kami utus dia kepada seratus ribu (orang) atau lebih, sehingga mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu tertentu.”
4. QS. Al-Qalam ayat 48-50:
فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تَكُنْ كَصَاحِبِ الْحُوتِ إِذْ نَادَىٰ وَهُوَ مَكْظُومٌ لَوْلَا أَنْ تَدَارَكَهُ نِعْمَةٌ مِنْ رَبِّهِ لَنُبِذَ بِالْعَرَاءِ وَهُوَ مَذْمُومٌ فَاجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَجَعَلَهُ مِنَ الصَّالِحِينَ
“Maka bersabarlah engkau (Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah engkau seperti (Yunus) orang yang berada dalam (perut) ikan ketika dia berdoa dengan hati sedih. Sekiranya dia tidak segera mendapat nikmat dari Tuhannya, pastilah dia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela. Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang yang saleh.”
Beberapa pelajaran dari perjalanan dakwah nabi Muhammad dan nabi Yunus ‘alaihisumas salam:
1. Para nabi merupakan satu-kesatuan sebagai utusan Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka disebut bersaudara dalam menjalankan amanat-Nya.
2. Selalu bersabar dalam menyeru kepada kebaikan.
3. Mendoakan kebaikan kepada orang yang mendzalimi kita.
4. Memperbanyak dzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
5. Berserah diri dan memohon ampunan kepada Allah.
6. Tidak mengambil keputusan saat sedang emosi dan selalu muhasabah apabila datang teguran dari Allah subhanahu wa ta’ala.
Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah!
(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)

