Rezeki yang Hilang dari Dalam Rumah

Rezeki yang Hilang dari Dalam Rumah

Rezeki yang Hilang dari Dalam Rumah

Banyak orang mengira bahwa masalah rezeki selalu berkaitan dengan sedikitnya penghasilan. Padahal, tidak sedikit rumah yang penghasilannya bertambah, tetapi ketenangannya berkurang. Rumah semakin besar, namun penghuninya semakin jarang berbicara dari hati ke hati. Makanan semakin beragam, tetapi rasa syukur semakin menipis. Fasilitas anak semakin lengkap, tetapi kedekatan keluarga justru semakin renggang.

Karena itu, rezeki dalam Islam tidak cukup dipahami sebagai uang, harta, atau kepemilikan. Rezeki adalah segala sesuatu yang Allah berikan dan dengannya kehidupan menjadi baik. Kesehatan adalah rezeki. Pasangan yang setia adalah rezeki. Anak yang saleh adalah rezeki. Waktu yang bermanfaat adalah rezeki. Hati yang tenang, keluarga yang rukun, dan kemampuan menikmati yang sederhana juga merupakan rezeki.

Persoalannya, rezeki tidak selalu hilang dengan cara dicabut bendanya. Kadang benda itu masih ada, tetapi kenikmatannya menghilang. Harta masih banyak, tetapi hati tidak pernah merasa cukup. Rumah masih utuh, tetapi kasih sayang sudah tidak terasa. Anak-anak masih berada di sekitar orang tua, tetapi hubungan batin telah jauh.

Inilah yang dapat disebut sebagai rezeki yang hilang dari dalam rumah.

Kehidupan Sempit Tidak Selalu Berarti Miskin

Allah berfirman:

«وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا
“Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh baginya kehidupan yang sempit.”
QS. Ṭāhā [20]: 124»

Allah tidak mengatakan bahwa orang yang berpaling dari petunjuk-Nya pasti tidak memiliki harta. Allah menyebut bahwa ia akan mengalami ma‘īsyatan ḍankā, kehidupan yang sempit, menyesakkan, dan melelahkan.

Al-Baghawī menukil penjelasan bahwa ada orang yang memiliki keluasan dunia dan banyak harta, tetapi tetap menjalani kehidupan yang sempit karena buruk sangkanya kepada Allah. Sa‘īd ibn Jubayr bahkan menjelaskan:

«يَسْلُبُهُ الْقَنَاعَةَ حَتَّى لَا يَشْبَعَ
“Dicabut darinya qanaah sehingga ia tidak pernah merasa kenyang.”»

Inilah salah satu bentuk kehilangan rezeki yang paling berat. Bukan kehilangan uang, tetapi kehilangan rasa cukup.

Seseorang dapat mempunyai rumah, tetapi tidak merasa nyaman di dalamnya. Ia dapat mempunyai pasangan, tetapi hanya melihat kekurangannya. Ia dapat mempunyai anak, tetapi hanya membandingkan mereka dengan anak orang lain. Ia dapat memperoleh banyak penghasilan, tetapi selalu merasa tertinggal.

Di sinilah kita memahami bahwa kemiskinan tidak selalu berada di rekening. Kadang kemiskinan berada di dalam hati.

Kisah Nabi Adam: Nikmat yang Banyak, Satu Larangan yang Menggoda

Kisah Nabi Adam ‘alaihissalām memberikan pelajaran besar tentang rezeki dan ketidakpuasan.

Allah telah menjamin seluruh kebutuhan Adam di surga:

«إِنَّ لَكَ أَلَّا تَجُوعَ فِيهَا وَلَا تَعْرَىٰ ۝ وَأَنَّكَ لَا تَظْمَأُ فِيهَا وَلَا تَضْحَىٰ
“Sesungguhnya engkau tidak akan kelaparan di sana, tidak pula telanjang. Engkau tidak akan merasa haus dan tidak pula ditimpa panas matahari.”
QS. Ṭāhā [20]: 118–119»

Makanan tersedia. Pakaian tersedia. Minuman tersedia. Tempat perlindungan tersedia.

Namun setan tidak mengarahkan perhatian Adam kepada seluruh nikmat yang telah tersedia. Ia justru mengarahkannya kepada satu pohon yang dilarang:

«هَلْ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَا يَبْلَىٰ
“Maukah aku tunjukkan kepadamu pohon keabadian dan kerajaan yang tidak akan binasa?”
QS. Ṭāhā [20]: 120»

Begitulah cara setan bekerja dalam kehidupan keluarga. Ia membuat manusia melupakan banyak nikmat karena sibuk memikirkan satu hal yang belum dimiliki.

Rumah sendiri tidak lagi terasa indah setelah melihat rumah orang lain. Pasangan sendiri tidak lagi dihargai setelah melihat kehidupan rumah tangga orang lain di media sosial. Anak sendiri tidak lagi disyukuri karena dibandingkan dengan anak orang lain. Penghasilan sendiri terasa tidak berarti karena standar hidup terus dinaikkan oleh pandangan terhadap orang lain.

Setan tidak selalu harus mengambil nikmat dari rumah kita. Cukup baginya membuat kita tidak lagi melihatnya sebagai nikmat.

Iman dan Takwa Membuka Pintu Keberkahan

Allah berfirman:

«وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami bukakan bagi mereka keberkahan dari langit dan bumi.”
QS. Al-A‘rāf [7]: 96»

Ayat ini menggunakan kata لَفَتَحْنَا, “Kami bukakan”. Seolah-olah keberkahan memiliki pintu. Pintu itu dapat terbuka dengan iman dan takwa, dan dapat tertutup karena pendustaan, kemaksiatan, serta kezaliman.

Al-Baghawī menjelaskan bahwa keberkahan dari langit dan bumi pada asalnya mencakup hujan dan tumbuhan. Al-Biqā‘ī memaknainya sebagai kebaikan yang kokoh dan menetap.

Dari sini kita memahami bahwa barakah tidak selalu berarti jumlah yang besar. Barakah adalah kebaikan yang menetap, meluas, mencukupi, dan menumbuhkan manfaat.

Penghasilan sederhana yang mencukupi kebutuhan bisa lebih berkah daripada penghasilan besar yang habis untuk utang, gengsi, dan konflik. Rumah kecil yang dipenuhi salam dapat lebih berkah daripada rumah luas yang dipenuhi bentakan. Waktu yang sedikit tetapi penuh amal dapat lebih berkah daripada waktu panjang yang dihabiskan tanpa arah.

Negeri yang diberkahi dibangun dari rumah-rumah yang menjaga iman dan takwa.

Syukur Mengikat Nikmat yang Ada

Allah berfirman:

«لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Sungguh, jika kalian bersyukur, pasti Aku akan menambah kalian.”
QS. Ibrāhīm [14]: 7»

Al-Baghawī menafsirkan syukur sebagai iman dan ketaatan. Artinya, syukur tidak berhenti pada ucapan alhamdulillāh.

Syukur mencakup tiga hal:

1. Hati mengakui bahwa nikmat berasal dari Allah.
2. Lisan memuji Allah atas nikmat tersebut.
3. Anggota badan menggunakan nikmat dalam ketaatan.

Karena itu, seseorang belum sepenuhnya bersyukur atas keluarga jika lisannya terus melukai keluarganya. Ia belum sepenuhnya bersyukur atas harta jika hartanya digunakan untuk maksiat. Ia belum sepenuhnya bersyukur atas kesehatan jika tubuhnya tidak digunakan untuk ibadah.

Para ulama mengatakan:

«الشُّكْرُ قَيْدُ الْمَوْجُودِ، وَصَيْدُ الْمَفْقُودِ
“Syukur adalah pengikat nikmat yang telah ada dan pemburu nikmat yang belum ada.”»

Nikmat pasangan dapat lepas ketika terus direndahkan. Nikmat anak dapat rusak ketika hanya dibandingkan. Nikmat kesehatan dapat hilang ketika tidak dijaga. Nikmat harta dapat lenyap ketika digunakan tanpa amanah.

Salah satu cara melatih syukur dalam keluarga adalah mengingat kembali apa yang dahulu pernah dimohonkan kepada Allah.

Dahulu seseorang berdoa agar diberi pasangan. Setelah menikah, pasangan justru menjadi orang yang paling sering dikeluhkan. Dahulu seseorang memohon keturunan. Setelah diberi anak, anak dianggap sebagai sumber kelelahan semata. Dahulu seseorang memohon pekerjaan. Setelah mendapatkannya, ia hanya melihat tekanan dan lupa bahwa pekerjaan itu pernah menjadi doa.

Yang dahulu kita minta dengan air mata jangan sampai hari ini berubah menjadi bahan keluhan.

Kisah Nabi Musa dan Bani Israil: Syukur Dimulai dengan Mengingat

Sebelum Allah menyampaikan janji tambahan nikmat, Nabi Musa ‘alaihissalām diperintahkan untuk mengingatkan kaumnya:

«اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
“Ingatlah nikmat Allah atas kalian.”
QS. Ibrāhīm [14]: 6»

Mereka diminta mengingat bagaimana Allah menyelamatkan mereka dari kekejaman Fir‘aun.

Ini menunjukkan bahwa syukur dimulai dari ingatan. Banyak orang tidak bersyukur bukan karena tidak mempunyai nikmat, tetapi karena tidak pernah berhenti untuk mengenalinya.

Keluarga perlu memiliki kebiasaan mengingat nikmat:

– Bagaimana Allah menyelamatkan dari sakit.
– Bagaimana Allah membuka pekerjaan.
– Bagaimana Allah memberi anak.
– Bagaimana Allah menyatukan dua keluarga.
– Bagaimana Allah menjaga dari musibah yang tidak diketahui.

Rumah yang dipenuhi ingatan terhadap nikmat akan lebih sulit dikuasai oleh keluhan.

*Istighfar sebagai Jalan Pemulihan Rezeki*

Allah berfirman melalui kisah Nabi Nuh ‘alaihissalām:

«فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ۝ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا ۝ وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ
“Mohonlah ampun kepada Tuhan kalian. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia menurunkan hujan yang lebat kepada kalian dan memperbanyak harta serta anak-anak kalian.”
QS. Nūḥ [71]: 10–12»

Al-Qurṭubī menegaskan bahwa istighfar di sini bukan sekadar ucapan, melainkan permohonan ampun dengan keikhlasan iman, tobat, dan meninggalkan dosa.

Karena itu, istighfar bukan mantra untuk memperoleh uang. Istighfar adalah jalan kembali kepada Allah.

Kadang yang menghalangi keberkahan bukan kurangnya kerja keras, melainkan adanya dosa yang dipelihara:

– penghasilan yang tidak halal;
– utang yang sengaja ditunda;
– hak waris yang ditahan;
– kezaliman kepada pasangan;
– hubungan dengan orang tua yang rusak;
– lisan yang terus menyakiti;
– maksiat yang dinormalisasi di dalam rumah.

Istighfar yang benar menyentuh tiga arah:

1. Memohon ampun kepada Allah.
2. Berhenti dari kesalahan.
3. Mengembalikan hak manusia.

Rumah kadang tidak membutuhkan tambahan uang terlebih dahulu. Rumah membutuhkan keberanian untuk berkata: “Ya Allah, kami telah salah. Ampuni dan perbaiki kami.”

Kisah Umar ibn al-Khaṭṭāb dan Istisqā’

Al-Qurṭubī menukil kisah bahwa Umar ibn al-Khaṭṭāb pernah keluar bersama kaum Muslimin untuk memohon hujan. Beliau memperbanyak istighfar. Ketika ditanya mengapa tidak tampak berdoa meminta hujan, beliau menjelaskan bahwa ia telah meminta hujan melalui jalan yang disebut Allah dalam QS. Nūḥ [71]: 10–12.

Pelajarannya, istighfar adalah salah satu sebab syar‘i datangnya rahmat Allah.

Namun istighfar tidak menggantikan ikhtiar. Orang tetap harus bekerja, mencari pengobatan, menyusun anggaran, menyelesaikan utang, memperbaiki komunikasi, dan menata kembali kehidupan.

Doa tidak meniadakan usaha, dan usaha tidak boleh membuat manusia melupakan Allah.

Kisah Al-Hasan Al-Baṣrī

Diriwayatkan dalam tafsir bahwa beberapa orang datang kepada al-Hasan al-Baṣrī dengan persoalan yang berbeda.

Ada yang mengadukan kekeringan. Beliau berkata: “Beristighfarlah kepada Allah.”

Ada yang mengadukan kemiskinan. Beliau berkata: “Beristighfarlah kepada Allah.”

Ada yang memohon keturunan. Beliau berkata: “Beristighfarlah kepada Allah.”

Ada yang mengadukan kebun yang kering. Beliau kembali berkata: “Beristighfarlah kepada Allah.”

Ketika ditanya mengapa jawabannya sama, beliau membaca QS. Nūḥ [71]: 10–12.

Kisah ini tidak berarti bahwa setiap persoalan cukup diselesaikan tanpa ikhtiar teknis. Pesannya adalah bahwa manusia jangan hanya memperbaiki keadaan di luar dirinya, tetapi juga memperbaiki hubungannya dengan Allah.

*Sedekah: Harta yang Ditanam, Bukan Dibuang*

Allah berfirman:

«مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ
“Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai; pada setiap tangkai terdapat seratus biji.”
QS. Al-Baqarah [2]: 261»

Allah memilih perumpamaan benih. Benih terlihat kecil, dilepaskan dari tangan, ditanam, lalu menghilang di dalam tanah. Namun setelah itu ia tumbuh berlipat ganda.

*Sedekah bukan harta yang hilang. Sedekah adalah harta yang ditanam.*

Tetapi Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa sedekah dapat rusak karena:

«الْمَنِّ وَالْأَذَى
mengungkit pemberian dan menyakiti penerima.»

Allah berfirman:

«قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى
“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diikuti tindakan menyakiti.”
QS. Al-Baqarah [2]: 263»

Sedekah tidak boleh menyelamatkan perut seseorang dengan cara melukai kehormatannya.

Di dalam rumah tangga pun prinsip ini berlaku. Memberi nafkah tidak membolehkan seseorang mengungkit setiap pemberian. Orang tua tidak sepatutnya terus-menerus merendahkan anak dengan biaya pendidikan yang telah dikeluarkan. Suami tidak boleh menjadikan nafkah sebagai alat untuk menekan istri. Pemberian yang berubah menjadi alat kekuasaan dapat kehilangan ruh kebaikannya.

*Takwa dalam Konflik Membuka Jalan Keluar*

Allah berfirman:

«وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
QS. Al-Ṭalāq [65]: 2–3»

Ayat rezeki ini sangat terkenal. Namun sering dilupakan bahwa ayat tersebut turun dalam konteks perceraian, masa idah, nafkah, tempat tinggal, saksi, serta perlindungan hak perempuan.

Artinya, takwa yang dimaksud bukan hanya banyak berzikir. Takwa dalam konteks ini berarti:

– tidak menjatuhkan talak secara serampangan;
– tidak menahan nafkah;
– tidak mengusir perempuan karena marah;
– tidak menggunakan anak sebagai alat balas dendam;
– tidak menyebarkan aib pasangan;
– tidak melanggar hak hanya karena cinta telah berkurang.

Allah menjanjikan jalan keluar kepada orang yang tetap menjaga batas-Nya ketika sedang marah dan kecewa.

Takwa diuji bukan hanya ketika rumah tangga harmonis. Takwa justru tampak ketika seseorang memiliki kesempatan untuk menzalimi, tetapi ia memilih untuk tetap adil.

*Jalan Keluar Tidak Selalu Berarti Kembali Seperti Semula*

Dalam konteks QS. Al-Ṭalāq, makhraj dapat berarti banyak hal.

Kadang jalan keluar adalah rujuk dan berdamai. Kadang jalan keluar adalah perpisahan yang tertib tanpa kezaliman. Kadang jalan keluar adalah hadirnya mediator, terbukanya pekerjaan, pulihnya ketenangan, atau terlindunginya anak-anak.

Jalan keluar dari Allah tidak selalu mengembalikan bentuk lama. Terkadang Allah menyelamatkan iman, martabat, dan masa depan seseorang melalui bentuk baru kehidupan.

*Kehidupan yang Baik: Rezeki yang Sesungguhnya*

Allah berfirman:

«مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً
“Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, sungguh Kami akan memberinya kehidupan yang baik.”
QS. Al-Naḥl [16]: 97»

Para mufasir memberikan beberapa makna untuk ḥayāh ṭayyibah:

– rezeki halal;
– qanaah;
– hidup dalam ketaatan;
– manisnya ibadah;
– dan surga.

Al-Ṭabarī menguatkan makna qanaah. Ibn al-Qayyim menjelaskan bahwa kehidupan yang baik adalah kehidupan hati, kenikmatan dan kegembiraannya karena iman, mengenal Allah, mencintai-Nya, kembali kepada-Nya, dan bertawakal kepada-Nya.

Karena itu, kehidupan baik tidak selalu identik dengan kemewahan. Orang yang jauh dari Allah pun dapat memiliki rumah besar, kendaraan mahal, pakaian indah, dan makanan lezat.

Namun ada hal-hal yang tidak otomatis dapat dibeli dengan harta:

– ketenangan;
– rasa cukup;
– kejujuran;
– kesetiaan;
– kemampuan memaafkan;
– hati yang hidup;
– dan manisnya dekat kepada Allah.

Kemewahan berada di sekitar manusia. Kehidupan yang baik tumbuh di dalam dirinya.

*Jangan Menjual Prinsip Demi Keuntungan Sesaat*

Sebelum menyebut ḥayāh ṭayyibah, Allah berfirman:

«وَلَا تَشْتَرُوا بِعَهْدِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا
“Janganlah kalian menukar perjanjian Allah dengan harga yang sedikit.”
QS. Al-Naḥl [16]: 95»

Banyak keluarga bertambah hartanya, tetapi untuk mendapatkannya mereka mengorbankan:

– kejujuran;
– waktu bersama;
– hak pasangan;
– pendidikan anak;
– kesehatan;
– dan ketenangan.

Secara ekonomi terlihat bertambah, tetapi secara hakiki rezekinya berkurang.

Yang ada di tangan manusia akan habis. Yang disimpan di sisi Allah akan kekal.

*Rezeki Juga Harus Dikelola*

Allah berfirman:

«وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَىٰ عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ
“Janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan jangan pula mengulurkannya secara berlebihan.”
QS. Al-Isrā’ [17]: 29»

Ayat ini melarang dua penyakit keuangan:

– bakhil;
– boros.

Bakhil berarti menahan harta dari haknya. Boros berarti mengeluarkan harta tanpa arah dan ukuran.

Di dalam rumah, bakhil dapat berupa menahan nafkah padahal mampu, mengabaikan kesehatan, mempersulit pendidikan, atau menjadikan uang sebagai alat pengendalian.

Boros dapat berbentuk belanja karena gengsi, utang konsumtif, pesta di luar kemampuan, pembelian impulsif, atau meningkatnya gaya hidup setiap kali pendapatan naik.

Banyak keluarga merasa rezekinya kurang, padahal masalahnya bukan selalu pada pemasukan. Bisa jadi ada kebocoran yang tidak pernah diperiksa.

Sebelum meminta tambahan rezeki, periksalah ke mana rezeki yang sudah ada mengalir.

Kelapangan dan Kesempitan Sama-Sama Ujian

Allah berfirman:

«إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّهُ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا
“Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat keadaan hamba-hamba-Nya.”
QS. Al-Isrā’ [17]: 30»

Kelapangan bukan selalu tanda kemuliaan. Kesempitan bukan selalu tanda kehinaan.

Kekayaan dapat menjadi nikmat, ujian, bahkan istidrāj. Kemiskinan dapat menjadi ujian, perlindungan, teguran, atau sebab peningkatan derajat.

Karena itu, tidak layak menilai keberagamaan seseorang hanya dari keadaan ekonominya.

*Rezeki adalah amanah, bukan sertifikat keridaan Allah.*

Jangan Membuat Anak Merasa sebagai Beban

Allah melanjutkan:

«وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ
“Janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepada kalian.”
QS. Al-Isrā’ [17]: 31»

Ayat ini secara langsung melarang pembunuhan anak karena takut miskin. Namun pesan moralnya juga mendidik agar ketakutan ekonomi tidak membuat orang tua menzalimi anak.

Anak jangan terus-menerus dibuat merasa sebagai beban. Jangan biarkan mereka mendengar ucapan seperti:

– “Sejak ada kamu, hidup kami susah.”
– “Biaya sekolahmu membuat kami miskin.”
– “Kamu hanya menambah masalah.”

Anak mungkin tidak dibunuh tubuhnya, tetapi harga diri, rasa aman, dan harapannya dapat terluka.

Allah mengingatkan bahwa Dia memberi rezeki kepada anak dan orang tua.

Ini bukan alasan untuk meninggalkan perencanaan. Orang tua tetap harus bertanggung jawab terhadap kesehatan, pendidikan, pengasuhan, dan kemampuan keluarga. Namun jangan sampai kekhawatiran akan masa depan berubah menjadi kezaliman terhadap anak yang sedang tumbuh.

*Belajar dari Para Salaf: Rezeki Tidak Diukur dari Kemewahan*

Para salaf memahami bahwa kekayaan terbesar adalah ketenangan hati.

Diriwayatkan bahwa sebagian orang saleh berkata:

«“Seandainya para raja mengetahui kenikmatan yang kami rasakan dalam kedekatan kepada Allah, niscaya mereka akan memerangi kami untuk mendapatkannya.”»

Ibn al-Qayyim juga menukil perkataan:

«“Sesungguhnya di dunia terdapat surga. Barang siapa tidak memasukinya, ia tidak akan memasuki surga akhirat.”»

Yang dimaksud adalah surga iman, zikir, cinta kepada Allah, tawakal, dan ketenteraman bersama-Nya.

Syaikh al-Islam Ibn Taymiyyah, ketika menghadapi penjara dan tekanan, pernah berkata bahwa surganya berada di dalam dadanya. Penjara tidak dapat merampas ketenangan orang yang hatinya hidup bersama Allah.

Kisah-kisah ini mengajarkan bahwa hidup baik tidak bergantung sepenuhnya pada keadaan luar. Hati yang dipenuhi iman dapat tetap lapang dalam keadaan sempit. Sebaliknya, hati yang jauh dari Allah dapat tetap gelisah di tengah kemewahan.

*Tanda-Tanda Rezeki Mulai Hilang dari Rumah*

Rezeki mulai kehilangan keberkahannya ketika:

– penghasilan bertambah, tetapi ibadah berkurang;
– rumah semakin mewah, tetapi konflik semakin tajam;
– makanan semakin banyak, tetapi syukur semakin sedikit;
– anak semakin difasilitasi, tetapi adabnya diabaikan;
– harta bertambah, tetapi utang juga membesar;
– pasangan saling menyembunyikan keuangan;
– nafkah dijadikan alat kekuasaan;
– sedekah diikuti ungkitan;
– media sosial membuat keluarga terus membandingkan;
– Al-Qur’an dibaca, tetapi tidak dijadikan pedoman.

Sebaliknya, rezeki diberkahi ketika:

– mendekatkan kepada Allah;
– mencukupi kebutuhan;
– membawa ketenangan;
– memperbaiki hubungan;
– menumbuhkan sedekah;
– melahirkan qanaah;
– dan menghadirkan manfaat bagi orang lain.

*Bagaimana Mengembalikan Rezeki ke Dalam Rumah?*

Pertama, kembalikan Al-Qur’an sebagai petunjuk, bukan sekadar bacaan.

Kedua, periksa kehalalan penghasilan dan cara membelanjakannya.

Ketiga, hidupkan budaya syukur. Sebut nikmat, jangan hanya mengulang keluhan.

Keempat, perbanyak istighfar yang disertai perubahan.

Kelima, selesaikan hak manusia: utang, nafkah, waris, dan permintaan maaf.

Keenam, biasakan sedekah tanpa menyakiti dan tanpa mengungkit.

Ketujuh, kelola harta secara seimbang: tidak bakhil dan tidak boros.

Kedelapan, jaga keadilan dalam konflik keluarga.

Kesembilan, berhenti membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain.

Kesepuluh, didik seluruh anggota keluarga untuk mengenali bahwa ketenangan, kesehatan, iman, dan kebersamaan adalah rezeki yang sangat besar.

*Penutup*

Masalah sebagian keluarga bukan tidak mempunyai rezeki, tetapi tidak lagi mengenali rezeki yang telah Allah berikan.

Kita terlalu sibuk mengejar apa yang belum dimiliki sampai lupa menikmati apa yang sudah ada. Kita meminta tambahan penghasilan, tetapi lupa memperbaiki cara menggunakan penghasilan. Kita meminta rumah yang lebih luas, tetapi belum memperluas hati. Kita meminta anak yang lebih baik, tetapi belum memperbaiki keteladanan. Kita meminta ketenangan, tetapi masih memelihara dosa, kebencian, dan kezaliman.

Rezeki yang sesungguhnya bukan hanya sesuatu yang masuk ke dalam rumah. Rezeki adalah kemampuan menikmati pemberian Allah dengan iman, syukur, qanaah, dan ketaatan.

Rumah yang diberkahi bukan rumah yang tidak memiliki masalah. Rumah yang diberkahi adalah rumah yang setiap masalahnya membuat penghuninya kembali kepada Allah.

«Petunjuk menjaga arah. Takwa membuka keberkahan. Syukur mengikat nikmat. Istighfar memulihkan kerusakan. Sedekah menumbuhkan kebaikan. Keadilan menjaga rumah. Qanaah menghidupkan hati.»

Semoga Allah tidak hanya melapangkan rezeki kita, tetapi juga memberkahinya. Semoga Allah menjaga rumah-rumah kita dari kehidupan yang sempit, dari hati yang tidak pernah puas, dan dari harta yang menjauhkan kita dari-Nya.

Wallāhu a‘lam bi al-ṣawāb.

#zawiyahjakarta

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *