Oleh: Hayat Abdul Latief

 

Menjadi Wali Allah bisa dikatakan mudah, bisa juga dikatakan sulit. Dikatakan mudah, karena asalkan beriman, menurut Al-Qur’an, pasti Wali Allah. Firman-Nya,

 

ٱللَّهُ وَلِىُّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ يُخْرِجُهُم مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ ۖ وَٱلَّذِينَ كَفَرُوٓا۟ أَوْلِيَآؤُهُمُ ٱلطَّٰغُوتُ يُخْرِجُونَهُم مِّنَ ٱلنُّورِ إِلَى ٱلظُّلُمَٰتِ ۗ أُو۟لَٰٓئِكَ أَصْحَٰبُ ٱلنَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَٰلِدُونَ

 

“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 257)

 

Allah adalah Wali orang-orang yang beriman. Menurut Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, Allah adalah penolong dan penyelamat orang-orang mukmin. Dia memelihara, memberi taufik dan memenuhi kebutuhan mereka dengan karuniaNya. Dia mengeluarkan mereka dari gelapnya kekufuran, kebingungan dan kebodohan menuju cahaya hidayah, keimanan dan ilmu pengetahuan.” (Tafsir Al-Wajiz)

 

Dikatakan sulit, karena indikasi Wali-wali Allah, menurut Al-Qur’an, tidak takut terhadap sesuatu yang belum terjadi dan tidak bersedih terhadap sesuatu yang telah terjadi. Firman-Nya,

 

أَلَآ إِنَّ أَوْلِيَآءَ ٱللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

 

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Yunus: 62)

 

Berkaitan dengan rasa takut tentu selalu menyertai kita. Sebagai bisnisman, kita tentu takut merugi. Sebagai publik figur, tentu kita takut kehilangan popularitas. Sebagai orang tua, tentu kita mengkhawatirkan nasib anak-anak kita. Sebagai wali murid, kita mengkhawatirkan pendidikan anak-anak kita. Demikian juga kesedihan selalu menyertai kita. Sedih karena ditinggal kekasih. Sedih karena dagangan rugi. Sedih karena tidak dihargai. Sedih karena kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Sedih karena kehilangan sesuatu dan seterusnya.

 

Menggabungkan 2 ayat tentang Wali Allah di atas, beriman saja tidak cukup, namun disertai dengan tidak takut terhadap sesuatu yang belum terjadi dan tidak sedih terhadap sesuatu yang telah terjadi.

 

Berikut ini, cara agar menjadi Wali Allah menurut Syaikh Prof. Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil (professor fakultas syari’ah Universitas Qashim – Saudi Arabia): “Barangsiapa yang mengumpulkan 9 perkara dalam dirinya, niscaya Allah akan menjamin keamanan untuknya pada hari kiamat, tiada rasa takut dan kesedihan padanya, yaitu;

 

1. Siapa yang berserah diri kepada Allah,

 

2. Beriman kepada-Nya,

 

3. Senantiasa berbuat kebajikan karena-Nya,

 

4. Senantiasa mengikuti petunjuk-Nya,

 

5. Beramal sholeh untuk menggapai ridho-Nya,

 

6. Senantiasa membuat perbaikan,

 

7. Mendirikan shalat karena Allah,

 

8. Menafkahkan hartanya di jalan Allah baik dalam keadaan sembunyi maupun secara terang-terangan siang dan malam tanpa menyebut-nyebutnya.

 

9. Tidak mencaci orang karena infaknya.

 

Sungguh mereka inilah yang termasuk wali Allah.” (Li Yaddabbaru Ayatih)

 

Wallahu a’lam. Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah!

 

(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)

 

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *