Oleh: Hayat Abdul Latief

 

Munasabatul Qur’an (مناسبة القرآن) terdiri dari 2 kata. Munasabah (المناسبة) artinya hulbungan atau korelasi. Menurut Imam As-Suyuthi, kata munâsabah (المناسبة) secara etimologi (bahasa) berarti al-musyaakalah (المشاكلة: keserupaan) dan al-muqaarabah (المقاربة: kedekatan).

 

Sedangkan pengertian Al-Qur’an (القرآن) adalah:

 

كلام الله المعجز المنزل على محمد صلى الله عليه وسلم بواسطة جبريل منجما المتعبد بتلاوته

 

“Firman Allah subhanahu wata’ala yang penuh dengan mu’jizat, yang diturunkan kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan perantara Jibril ‘alaihis sallam berangsur-angsur, membacanya dinilai ibadah.”

 

Kata المعجز secara bahasa artinya melemahkan. Benar memang Al-Qur’an melemahkan pembicaraan selain darinya baik dari sisi keindahan bahasa, dari sisi pemberitaan gaib dari sisi kesesuaian dengan ilmu pengetahuan dan seterusnya.

 

Munasabatul Qur’an menurut terminologi (istilah), bagus sekali apa yang didefinisikan oleh Mannâ’ Al-Qaththân, yaitu sisi keterkaitan antara beberapa ungkapan di dalam satu ayat, atau antara ayat pada beberapa ayat, atau antara sûrah di dalam Al-Qur’ân.

 

Mengetahui munaasabah ini sangat bermanfaat dalam memahami keserasian antara makna, kejelasan, keterangan, keteraturan susunan kalimatnya dan keindahan gaya bahasa. Az-Zarkasyi menyebutkan bahwa manfaat munâsabah adalah menjadikan sebagian pembicaraan berkaitan dengan sebagian lainnya, sehingga hubungan menjadi kuat, bentuk susunannya menjadi kukuh dan bersesuaian bagian-bagiannya laksana sebuah bangunan yang amat kokoh. Qadhî Abu Bakar Ibn Al-‘Arobi menjelaskan bahwa mengetahui sejauh mana hubungan antara ayat satu dengan yang lain sehingga semuanya menjadi seperti satu kata yang maknanya serasi dan susunannya teratur merupakan ilmu besar.

 

Para ulama yang menekuni ilmu munaasabah Al-Qur’ân mengemukakan keserasian yang dimaksud, setidak-tidaknya hubungan itu meliputi;

 

1. Hubungan antara satu surat dengan surat sebelumnya. Satu surat berfungsi menjelaskan surat sebelumnya. Misalnya, di dalam surat Al-Fâtihah ayat 6 disebutkan:

 

ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ

 

“Tunjukilah kami jalan yang lurus”.

 

Lalu dijelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 2, bahwa jalan yang lurus itu adalah mengikuti petunjuk Al-Qur’ân, sebagaimana disebutkan:

 

ذَٰلِكَ ٱلْكِتَٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

 

“Kitab (Al-Qur’ân) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”.

 

2. Hubungan antara nama surat dengan isi atau tujuan surat. Nama surat biasanya diambil dari suatu masalah pokok di dalam satu surat. Misalnya surat An-Nisa (perempuan) karena di dalamnya banyak menceritakan tentang persoalan perempuan.

 

3. Hubungan antara ayat pertama dengan ayat terakhir dalam satu surat. Misalnya surat Al-Mu’minûn dimulai dengan:

 

قَدْ أَفْلَحَ ٱلْمُؤْمِنُونَ

 

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman”. (QS. Al-Mu’minun: 1)

 

Kemudian diakhiri dengan:

 

إِنَّهُۥ لَا يُفْلِحُ ٱلْكَٰفِرُونَ

 

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung”. (QS. Al-Mu’minun: 117)

 

4. Hubungan antara satu ayat dengan ayat yang lain dalam satu surat. Misalnya kata muttaqîn di dalam surat Al-Baqarah ayat 2, dijelaskan pada ayat berikutnya mengenai ciri-ciri orang-orang yang bertaqwa.

 

5. Hubungan antara kalimat lain dalam satu ayat. Misalnya dalam surat Al-Fâtihah ayat 1:

 

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ

 

“Segala puji bagi Allah”, lalu dijelaskan pada kalimat berikutnya:

 

رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

 

“Tuhan semesta alam”.

 

6. Hubungan antara faashilah dengan isi ayat. Misalnya di dalam surat Al-Ahzâb ayat 25 disebutkan:

 

…. وَكَفَى ٱللَّهُ ٱلْمُؤْمِنِينَ ٱلْقِتَالَ ۚ

 

“Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan”.

 

وَكَانَ ٱللَّهُ قَوِيًّا عَزِيزًا

 

“Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa”.

 

7. Hubungan antara penutup surat dengan awal surat berikutnya. Misalnya penutup surat Al-Wâqi’ah:

 

فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيْمِ

 

“Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang Maha besar”.

 

Lalu surat berikutnya, yaitu surat Al-Hadîd ayat 1:

 

سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۖ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ

 

“Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah), dan Dia-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

 

Demikian munaasabah dalam Al-Qur’an ada hubungan saling berkaitan sehingga semuanya menjadi seperti satu kata yang maknanya serasi dan susunannya teratur. Itulah keindahan uslub (struktur bahasa) al-Qur’an dan keindahan uslub itu tidak membawa manfaat banyak, apabila si pembaca al-Qur’an tidak menghubungkan dan tidak menyelaraskan antara perilakunya dengan isi kandungan Al-Qur’an.

 

Sebagai contoh, ketika membaca satu ayat Al-Quran, maka bertanyalah pada diri, apa hubungan ayat ini dengan saya, dengan kelurga saya dan kehidupan saya? Ketika ayat itu berbicara tentang pujian, tanyakan; apakah aku, keluargaku, kehidupanku dan bangsaku termasuk yg juga layak dipuji? Jika ayat itu berbicara ttg celaan, tanyakan; apakah aku, keluargaku, hidupku dan bangsaku terbebas dari celaan itu?

 

Pembaca Al-Qur’an dikatakan sukses, kalau mengkaitkan isi kandungan Al-Qur’an dengan dirinya, bukan menunjuk hidung pihak lain yang berada di luar dirinya, sehingga seolah-olah Al-Qur’an diturunkan untuk dirinya sebagai alat cermin terhadap kehidupannya. Wallahu a’lam.

 

Diambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat.

 

*(Penulis adalah Khadim Korp Da’i An-Nashihah dan Mahasiswa S2 Zawiyah Jakarta)*

 

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *