Oleh: Hayat Abdul Latief

 

Satu di antara tiga amal yang pahalanya mengalir terus meskipun orangnya sudah meninggal dunia adalah ilmu yang bermanfaat. Sebagaimana sabda rasulullah berikut:

 

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

 

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

 

Termaktub dalam Diwan Asy-Syafi’i , Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i rahimahullaah mengatakan,

 

كُلُّ الْعُلُوْمِ سِوَى الْقُرْآنِ مَشْغَلَةٌ،

إِلَّا الْـحَدِيْثَ وَ علم الْفِقْه فِي الدِّيْنِ،

اَلْعِلْمُ مَا كَانَ فِيْهِ قَالَ حَدَّثَنَا،

وَمَا سِوَى ذَاكَ وَسْوَاسُ الشَّيَاطِيْنِ.

 

“Seluruh ilmu selain Al-Qur-an hanyalah menyibukkan, kecuali ilmu hadits dan fiqih dalam rangka mendalami ilmu agama. Ilmu adalah yang tercantum di dalamnya: ‘Qaalaa, had-datsanaa (telah menyampaikan hadits kepada kami)’. Adapun selain itu hanyalah waswas (bisikan) syaitan.

 

Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang bisa membawa pemiliknya agar selalu taat kepada Allah SWT dan diamalkan oleh orang lain baik ketika shahibul ilmu itu hidup atau setelah wafat. Firman-Nya:

 

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ )

 

“Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para Ulama, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Fathir: 28)

 

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah berkata: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah dan benar-benar takut adalah para Ulama yang mereka paham betul tentang hakekat Allah Ta’ala, karena ketika pengetahuan kepada Yang Maha Agung dan Maha Kuasa sudah sempurna dan bekal ilmu tentang-NYA sudah memadai maka perasaan takut kepada-NYA akan semakin besar..”

 

Bagaimana dengan ilmu yang terlaknat alias tidak bermanfaat? Ilmu yang tidak bermanfaat, menurut Sheikh Abdurrahman bin Naashir As-Sa’di Rah. Alaihi di kitab Majmu’ Al-Fawaaid wa Iqtinaashil Awaabid (faidah ke-33, cet. Daar Ibnul Jauzi tahun 1424) sebagai berikut,

 

1. Ilmu yang mendatangkan madharat atau bahaya, seperti ilmu sihir, ilmu cara menipu dan sejenisnya. Firman Allah,

 

فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ ۚ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ ۚ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ ۚ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

 

“Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 102)

 

2. Belajar ilmu dunia namun lupa kewajiban agama seperti menghadiri shalat berjamaah. Pria sejati itu kesibukan duniawinya tidak melupakan kewajibannya terhadap agama.

 

رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ() لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

 

“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah dan (dari) mendirikan shalat dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (Q.S. An-Nuur [24]: 37-38).

 

3. Ilmu Al Qur’an dan Sunnah yang tidak diamalkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

لاتزول قدما عبد يوم القيامة حتى يسأل عن عمره فيما أفناه ، وعن علمه فيما فعل ، وعن ماله من أين اكتسبه وفيما أنفقه ، وعن جسمه فيما أبلاه

 

“Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang ilmunya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan serta tentang badannya untuk apa ia gunakan.” (Diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dari Abu Barzah al-Aslam dalam Sunan at-Tirmidzi no. 2418, kitab Shifat al-Qiyamah. Beliau berkata, ‘Hadits hasan shahih’)

 

4. Sibuk belajar sains dan teknologi tetapi berpaling dari ilmu agama.

 

يَعْلَمُوْنَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۖ وَهُمْ عَنِ الْاٰخِرَةِ هُمْ غٰفِلُوْنَ ﴿الروم : ۷﴾

 

“Mereka mengetahui yang lahir (tampak) dari kehidupan dunia; sedangkan terhadap (kehidupan) akhirat mereka lalai.” (QS. Ar Rum: 7)

 

*Ringkasan dari pembahasan ini:*

 

*Satu,* ilmu bermanfaat merupakan satu diantara amalan yang pahalanya terus mengalir meskipun pemiliknya sudah meninggal dunia.

 

*Dua,* ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membawa pelakunya takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala, kemudian diamalkan oleh orang lain ketika shahibul Ilmi hidup atau sudah meninggal dunia.

 

*Tiga,* ilmu yang terlaknat atau tidak bermanfaat adalah ilmu yang mendatangkan madharat, ilmu agama yang tidak diamalkan dan sibuk mengejar ilmu dunia kemudian melupakan ilmu akhirat.

 

Diolah dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat.

 

*(Penulis adalah Direktur Korp Da’i An-Nashihah dan Mahasiswa S2 Zawiyah Jakarta)*

 

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *