MENJADI MUSLIMAH YANG BERILMU, BERANI, DAN BERAKHLAK DI TENGAH MASYARAKAT

Kajian Akhlak, Keteguhan Iman, dan Tazkiyatun Nafs

MENJADI MUSLIMAH YANG BERILMU, BERANI, DAN BERAKHLAK DI TENGAH MASYARAKAT

Menjadi Perempuan yang Teguh dalam Prinsip, Lembut dalam Sikap, dan Luas dalam Manfaat

Kajian Akhlak, Keteguhan Iman, dan Tazkiyatun Nafs

MENJADI MUSLIMAH YANG BERILMU, BERANI, DAN BERAKHLAK DI TENGAH MASYARAKAT

Menjadi Perempuan yang Teguh dalam Prinsip, Lembut dalam Sikap, dan Luas dalam Manfaat

Oleh: Dr. Badrah Uyuni, M.A.

—

Pendahuluan: Muslimah Tidak Cukup Hanya Menjadi Baik untuk Dirinya Sendiri

Ada perempuan yang memiliki banyak ilmu, tetapi sulit menerima nasihat.

Ada perempuan yang sangat berani menyampaikan pendapat, tetapi kurang menjaga perasaan orang lain.

Ada pula perempuan yang dikenal lembut dan santun, tetapi tidak berani menyampaikan kebenaran ketika melihat ketidakadilan.

Ketiganya mengingatkan kita bahwa kepribadian seorang Muslimah memerlukan keseimbangan.

Ilmu diperlukan agar seseorang memahami kebenaran.

Keberanian diperlukan agar ia mampu mempertahankan kebenaran.

Akhlak diperlukan agar kebenaran itu disampaikan dan diamalkan dengan cara yang baik.

Ketiga unsur tersebut tidak seharusnya dipisahkan.

Ilmu tanpa akhlak dapat melahirkan kesombongan.

Keberanian tanpa ilmu dapat berubah menjadi tindakan gegabah.

Keberanian tanpa akhlak dapat melahirkan kekerasan dalam perkataan dan sikap.

Sementara akhlak yang hanya dipahami sebagai sikap menyenangkan semua orang dapat membuat seseorang kehilangan keberanian untuk menegakkan keadilan.

Karena itu, seorang Muslimah perlu membangun keseimbangan antara kejernihan berpikir, keteguhan prinsip, dan kemuliaan perilaku.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”

(QS. Al-Ḥujurāt [49]: 13)

Ayat ini mengajarkan bahwa ukuran kemuliaan manusia bukan kekayaan, keturunan, jabatan, atau popularitas.

Kemuliaan berkaitan dengan ketakwaan.

Ketakwaan tidak hanya tercermin dalam hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga dalam kejujuran, keadilan, amanah, kepedulian, dan tanggung jawab terhadap sesama.

Dalam kehidupan masyarakat, Muslimah memiliki peran yang sangat penting.

Ia dapat menjadi pendidik dalam keluarga, pembimbing dalam majelis taklim, penggerak kegiatan sosial, pengurus organisasi, pemimpin lembaga, maupun anggota masyarakat yang menghadirkan kebaikan melalui tindakan sederhana.

Tidak semua Muslimah harus memiliki jabatan.

Tidak semua harus menjadi penceramah.

Tidak semua harus tampil di hadapan banyak orang.

Namun, setiap Muslimah memiliki kesempatan untuk menjadi sumber kebaikan sesuai kemampuan dan amanahnya.

Muslimah yang kuat bukan hanya perempuan yang mampu menghadapi dunia, tetapi perempuan yang mampu menjaga nilai-nilai agamanya ketika menghadapi dunia.

1. Muslimah Berilmu: Menjadikan Pengetahuan sebagai Cahaya Kehidupan

Islam memberikan kedudukan yang tinggi kepada ilmu.

Wahyu pertama yang diturunkan kepada Rasulullah SAW dimulai dengan perintah membaca.

ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.”

(QS. Al-ʿAlaq [96]: 1)

Perintah tersebut menunjukkan pentingnya aktivitas membaca, belajar, dan membangun pengetahuan dalam kehidupan manusia.

Allah SWT juga berfirman:

يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ

“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”

(QS. Al-Mujādilah [58]: 11)

Ayat ini menunjukkan kemuliaan iman dan ilmu.

Namun, ilmu yang dimuliakan dalam Islam tidak seharusnya berhenti pada kebanggaan intelektual.

Ilmu perlu membimbing manusia menuju ketakwaan dan amal yang benar.

Belajar Agama Bukan Sekadar Mengumpulkan Pengetahuan

Dalam kehidupan majelis taklim, seseorang mungkin telah mengikuti pengajian selama bertahun-tahun.

Ia mengenal banyak ustadz dan ustadzah.

Ia telah mendengarkan berbagai pembahasan tentang fikih, tafsir, hadis, dan akhlak.

Namun, pertanyaan yang perlu diajukan adalah:

Apakah ilmu tersebut telah membentuk cara berpikirnya?

Apakah ia semakin berhati-hati dalam menilai orang lain?

Apakah ia semakin mampu membedakan informasi yang benar dan keliru?

Apakah ia semakin rendah hati ketika berbeda pendapat?

Apakah ia semakin bertanggung jawab terhadap perkataannya?

Sebab ilmu yang bermanfaat bukan sekadar ilmu yang dapat diulang kembali dalam percakapan.

Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membantu manusia mengambil keputusan yang benar dan memperbaiki perilakunya.

Muslimah Berilmu Tidak Mudah Terpengaruh

Di tengah masyarakat digital, informasi agama tersebar dengan sangat cepat.

Ceramah pendek, kutipan hadis, potongan video, dan pesan keagamaan dapat diterima setiap hari melalui telepon genggam.

Keadaan ini memberikan peluang besar untuk belajar.

Namun, ia juga membawa tantangan.

Tidak semua kutipan yang beredar memiliki sumber yang jelas.

Tidak semua potongan ceramah menggambarkan maksud pembicara secara utuh.

Tidak semua pendapat yang disampaikan dengan penuh keyakinan memiliki dasar ilmiah yang kuat.

Karena itu, Muslimah berilmu harus memiliki sikap kritis yang disertai adab.

Allah SWT berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ

“Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau ketahui.”

(QS. Al-Isrā’ [17]: 36)

Ayat ini mengingatkan pentingnya tanggung jawab terhadap pengetahuan.

Seorang Muslimah perlu belajar bertanya:

Dari mana informasi ini berasal?

Apakah dalilnya benar?

Apakah penjelasannya sesuai dengan konteks?

Apakah saya telah memahami persoalannya secara utuh?

Apakah informasi ini layak disebarkan?

Perempuan yang berilmu bukan perempuan yang merasa mengetahui segala sesuatu, tetapi perempuan yang memahami kapan harus berbicara, kapan harus belajar, dan kapan harus mengatakan bahwa dirinya belum mengetahui.

2. Muslimah Berani: Teguh Mempertahankan Kebenaran

Keberanian sering dipahami sebagai kemampuan berbicara lantang, menghadapi banyak orang, atau menunjukkan kekuatan.

Padahal keberanian moral memiliki makna yang lebih mendalam.

Keberanian moral adalah kemampuan mempertahankan kebenaran dan keadilan meskipun menghadapi tekanan, risiko sosial, atau ketidaksetujuan orang lain.

Dalam kehidupan sehari-hari, keberanian semacam ini tidak selalu tampak dalam tindakan besar.

Terkadang ia muncul dalam keputusan sederhana.

Berani menolak ajakan bergunjing.

Berani tidak mengikuti permusuhan kelompok.

Berani meminta maaf.

Berani mengakui kesalahan.

Berani membela seseorang yang diperlakukan tidak adil.

Berani menyampaikan nasihat kepada sahabat dengan cara yang baik.

Keberanian Bukan Berarti Kehilangan Kelembutan

Sebagian orang menganggap bahwa perempuan yang berani adalah perempuan yang selalu berbicara keras.

Sebaliknya, perempuan yang lembut dianggap tidak memiliki keberanian.

Pandangan tersebut terlalu sederhana.

Kelembutan dan keberanian bukan dua sifat yang saling bertentangan.

Seorang Muslimah dapat berbicara dengan santun sekaligus mempertahankan prinsipnya.

Ia dapat menghormati orang lain tanpa harus menyetujui setiap pendapatnya.

Ia dapat menjaga persaudaraan tanpa membenarkan kezaliman.

Allah SWT berfirman:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوا۟ قَوَّٰمِينَ بِٱلْقِسْطِ شُهَدَآءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰٓ أَنفُسِكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri.”

(QS. An-Nisā’ [4]: 135)

Ayat ini mengajarkan bahwa keadilan membutuhkan keteguhan.

Tidak mudah berlaku adil ketika persoalan menyangkut diri sendiri, keluarga, sahabat, atau kelompok yang kita cintai.

Namun, justru dalam keadaan demikian kejujuran moral diuji.

Berani Berbeda Tanpa Merasa Paling Benar

Di lingkungan majelis taklim, terkadang muncul perbedaan pendapat mengenai kegiatan, kepengurusan, atau persoalan keagamaan.

Perbedaan tersebut tidak harus berubah menjadi permusuhan.

Seorang Muslimah yang matang secara moral mampu menyampaikan pendapat dengan jelas, tetapi tetap menghormati orang lain.

Ia tidak harus mengikuti semua keputusan apabila terdapat alasan yang kuat untuk berbeda.

Namun, ia juga tidak menganggap setiap perbedaan sebagai bukti bahwa dirinya lebih benar.

Keberanian yang baik selalu disertai kerendahan hati.

Berani menyampaikan kebenaran adalah kemuliaan. Namun, bersedia menerima kebenaran dari orang lain merupakan kemuliaan yang tidak kalah penting.

3. Muslimah Berakhlak: Ketika Ilmu dan Keberanian Dihiasi Kelembutan

Akhlak merupakan salah satu inti pembinaan manusia dalam Islam.

Rasulullah SAW merupakan teladan utama dalam kehidupan seorang Muslim.

Allah SWT berfirman:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.”

(QS. Al-Qalam [68]: 4)

Ayat ini menunjukkan kedudukan akhlak Rasulullah SAW yang sangat mulia.

Dalam kehidupan sehari-hari, akhlak tidak hanya terlihat ketika seseorang sedang beribadah atau berada di tempat pengajian.

Akhlak justru sering diuji dalam keadaan yang tidak menyenangkan.

Ketika pendapat kita ditolak.

Ketika orang lain memperoleh keberhasilan.

Ketika kita menerima kritik.

Ketika seseorang melakukan kesalahan.

Ketika kita memiliki kekuasaan untuk mengambil keputusan.

Ketika kita berhadapan dengan orang yang berbeda pandangan.

Dalam keadaan seperti itulah kualitas akhlak seseorang menjadi semakin nyata.

Akhlak Bukan Sekadar Berbicara Manis

Seseorang dapat berbicara dengan lembut, tetapi masih menyimpan niat untuk merugikan orang lain.

Sebaliknya, seseorang mungkin berbicara tegas karena sedang mencegah tindakan yang membahayakan.

Karena itu, akhlak tidak cukup dinilai dari nada suara atau penampilan lahiriah.

Akhlak juga berkaitan dengan kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan ketulusan.

Rasulullah SAW bersabda:

مَا كَانَ الرِّفْقُ فِى شَىْءٍ إِلَّا زَانَهُ

“Tidaklah kelembutan terdapat pada sesuatu melainkan akan menghiasinya.”

(HR. Muslim, no. 2594)

Hadis ini mengajarkan pentingnya kelembutan dalam kehidupan.

Namun, kelembutan bukan berarti membiarkan kesalahan.

Menegur dengan santun merupakan bentuk akhlak.

Menolak kezaliman dengan cara yang benar juga merupakan bagian dari akhlak.

Akhlak yang baik bukan hanya membuat orang lain nyaman bersama kita, tetapi juga membuat mereka merasa aman dari kezaliman dan keburukan kita.

4. Belajar dari Khadijah: Kekuatan, Kesetiaan, dan Kebijaksanaan

Sejarah Islam memberikan banyak teladan perempuan yang memiliki ilmu, keberanian, dan kemuliaan akhlak.

Salah satunya adalah Sayyidah Khadijah binti Khuwailid RA.

Beliau dikenal sebagai perempuan yang memiliki kedudukan terhormat dan kemampuan dalam perdagangan.

Namun, kemuliaannya tidak hanya terletak pada keadaan sosial dan ekonominya.

Khadijah RA juga dikenal karena keteguhan iman dan dukungannya kepada Rasulullah SAW.

Ketika Rasulullah menerima wahyu pertama dan pulang dalam keadaan takut, Khadijah memberikan ketenangan serta mengingatkan beliau tentang sifat-sifat mulianya.

Dalam riwayat al-Bukhārī tentang permulaan wahyu, Khadijah menyebutkan bahwa Rasulullah menjaga hubungan kekeluargaan, membantu orang yang membutuhkan, memuliakan tamu, dan menolong mereka yang mengalami kesulitan.

Peristiwa ini mengandung pelajaran mendalam.

Khadijah tidak hanya memberikan dukungan emosional.

Beliau juga menunjukkan kejernihan penilaian dan keteguhan dalam menghadapi keadaan yang belum pernah dialami sebelumnya.

Dari Khadijah, kita belajar bahwa perempuan yang kuat tidak harus kehilangan kelembutan.

Ia dapat menjadi penopang keluarga sekaligus pribadi yang memiliki keyakinan dan keberanian.

Pelajaran bagi Muslimah Masa Kini

Dalam keluarga, perempuan dapat menjadi sumber ketenangan.

Dalam masyarakat, ia dapat menjadi penggerak kebaikan.

Dalam organisasi, ia dapat menjadi pengambil keputusan yang amanah.

Dalam kehidupan keagamaan, ia dapat menjadi pendukung perjuangan ilmu dan dakwah.

Namun, semua peran tersebut membutuhkan kejujuran, kebijaksanaan, dan keikhlasan.

Kekuatan seorang Muslimah tidak hanya diukur dari kemampuannya memimpin, tetapi juga dari kemampuannya menghadirkan ketenangan, menjaga amanah, dan meneguhkan orang lain dalam kebaikan.

5. Belajar dari Aisyah: Keilmuan dan Keberanian Intelektual

Sayyidah Aisyah RA merupakan salah satu tokoh perempuan paling penting dalam sejarah transmisi ilmu Islam.

Beliau meriwayatkan banyak hadis dan menjadi rujukan dalam berbagai persoalan agama.

Para sahabat dan generasi setelahnya memperoleh pengetahuan melalui riwayat dan penjelasan beliau.

Ketokohan Aisyah menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam pengembangan dan penyebaran ilmu.

Dalam tradisi keilmuan Islam, Aisyah juga dikenal memberikan penjelasan dan koreksi terhadap sejumlah pemahaman yang menurutnya memerlukan pelurusan.

Hal ini menunjukkan pentingnya keberanian intelektual yang didasarkan pada pengetahuan.

Berilmu Berarti Berani Bertanya

Dalam kehidupan majelis taklim, terkadang ada jamaah yang enggan bertanya karena merasa malu.

Ada yang khawatir pertanyaannya dianggap terlalu sederhana.

Ada pula yang tidak berani meminta penjelasan karena takut dianggap membantah ustadzah.

Padahal bertanya dengan adab merupakan bagian penting dari proses belajar.

Seorang Muslimah tidak perlu merasa rendah diri ketika belum memahami suatu persoalan.

Ia juga tidak perlu berpura-pura mengetahui sesuatu yang sebenarnya belum dipahami.

Dari keteladanan keilmuan Aisyah, kita dapat mengambil pelajaran bahwa perempuan dapat menjadi penuntut ilmu, pengajar, dan rujukan pengetahuan bagi masyarakat.

Ilmu tidak tumbuh dari sikap merasa selalu benar, tetapi dari kesediaan untuk terus belajar, bertanya, memeriksa, dan memperbaiki pemahaman.

6. Belajar dari Ummu Salamah: Kebijaksanaan dalam Menghadapi Persoalan

Ummu Salamah RA dikenal sebagai salah satu istri Rasulullah SAW yang memiliki kebijaksanaan.

Dalam peristiwa Hudaibiyah, ketika para sahabat mengalami kesulitan menerima keadaan setelah perjanjian, Ummu Salamah memberikan saran kepada Rasulullah SAW agar beliau terlebih dahulu melaksanakan tindakan yang diperintahkan kepada para sahabat.

Rasulullah mengikuti saran tersebut, dan para sahabat kemudian meneladani tindakan beliau.

Kisah ini diriwayatkan dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī.

Peristiwa tersebut memberikan pelajaran penting tentang kecerdasan sosial dan kebijaksanaan dalam kepemimpinan.

Terkadang sebuah persoalan tidak cukup diselesaikan melalui perintah yang diulang-ulang.

Ia membutuhkan keteladanan, pemahaman terhadap keadaan psikologis orang lain, dan tindakan yang tepat.

Pelajaran bagi Pengurus Majelis Taklim

Ketika menghadapi jamaah yang berbeda pendapat, pengurus tidak harus langsung memberikan teguran keras.

Ketika terjadi perselisihan, pemimpin perlu memahami akar persoalan.

Ketika jamaah sulit menerima perubahan, pendekatan yang bijaksana sering kali lebih efektif daripada tekanan.

Muslimah yang berilmu dan berakhlak tidak hanya mengetahui apa yang benar, tetapi juga mempertimbangkan cara terbaik untuk menghadirkan kebenaran tersebut.

7. Belajar dari Asma’ binti Abu Bakar: Keteguhan dan Pengorbanan

Asma’ binti Abu Bakar RA merupakan salah satu sahabiyah yang dikenal memiliki keteguhan.

Dalam peristiwa hijrah Rasulullah SAW, beliau berperan membantu persiapan perjalanan.

Riwayat al-Bukhārī menyebutkan keterlibatan Asma’ dalam menyiapkan bekal perjalanan dan penggunaan ikat pinggangnya sehingga dikenal dengan julukan Dhāt al-Niṭāqayn.

Kisah ini menunjukkan bahwa perjuangan Islam juga melibatkan kontribusi perempuan melalui tindakan nyata.

Keberanian tidak selalu berarti tampil di hadapan banyak orang.

Terkadang keberanian terlihat dalam kesediaan membantu, menanggung kesulitan, dan menjaga amanah.

Keberanian dalam Kehidupan Sehari-hari

Seorang ibu yang terus mendidik anaknya dalam keadaan sulit sedang menjalankan amanah besar.

Seorang ustadzah yang tetap membimbing jamaah meskipun menghadapi keterbatasan juga sedang berjuang.

Seorang perempuan yang menolak tindakan tidak adil dengan cara yang benar menunjukkan keberanian moral.

Seorang pengurus yang jujur dalam mengelola dana kegiatan menunjukkan keteguhan amanah.

Tidak semua perjuangan terlihat besar di mata manusia.

Namun, amal yang dilakukan dengan benar dan ikhlas memiliki nilai di sisi Allah.

8. Menjaga Prinsip di Tengah Tekanan Kelompok

Dalam artikel sebelumnya, kita telah membahas bahaya ikut-ikutan ketika solidaritas kelompok mengalahkan kebenaran.

Persoalan tersebut sangat relevan bagi Muslimah yang aktif dalam majelis taklim dan organisasi sosial.

Manusia membutuhkan kebersamaan.

Namun, kebersamaan tidak boleh menghilangkan kemampuan berpikir dan bertanggung jawab.

Ketika Semua Orang Melakukan Kesalahan

Bayangkan sebuah kelompok sedang membicarakan keburukan seseorang.

Sebagian jamaah ikut tertawa.

Sebagian menambahkan cerita.

Sebagian lainnya hanya diam.

Seorang Muslimah yang memiliki keberanian moral dapat memilih untuk tidak ikut terlibat.

Ia dapat mengalihkan pembicaraan.

Ia dapat mengingatkan dengan santun.

Atau jika keadaan tidak memungkinkan, ia dapat meninggalkan pembicaraan tersebut.

Tindakan ini mungkin tampak sederhana.

Namun, tidak selalu mudah dilakukan ketika seseorang takut kehilangan penerimaan sosial.

Allah SWT berfirman:

وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.”

(QS. Al-Mā’idah [5]: 2)

Ayat ini mengajarkan bahwa kesetiaan kepada kelompok harus tetap dibatasi oleh prinsip kebenaran.

Tidak Semua Perbedaan Berarti Permusuhan

Seorang Muslimah yang berbeda pendapat tidak otomatis menjadi lawan.

Ia mungkin memiliki informasi yang berbeda.

Ia mungkin melihat persoalan dari sudut pandang lain.

Ia mungkin sedang berusaha mencegah keputusan yang merugikan.

Karena itu, perbedaan perlu dihadapi dengan keterbukaan dan musyawarah.

Kebersamaan yang matang bukan kebersamaan yang menghapus perbedaan, melainkan kebersamaan yang mampu mengelola perbedaan tanpa kehilangan persaudaraan.

9. Menjaga Lisan: Ukuran Kedewasaan Seorang Muslimah

Lisan merupakan salah satu amanah yang sangat penting.

Melalui lisan, seseorang dapat menyampaikan ilmu, memberikan nasihat, menghibur orang yang sedang sedih, dan mendamaikan perselisihan.

Namun, melalui lisan pula seseorang dapat menyakiti, memfitnah, menghina, dan merusak hubungan sosial.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”

(HR. al-Bukhārī dan Muslim)

Hadis ini mengajarkan pentingnya pengendalian diri dalam berbicara.

Tidak semua yang kita ketahui perlu disampaikan.

Tidak semua kesalahan orang lain perlu diumumkan.

Tidak semua kabar yang kita dengar perlu diteruskan.

Tiga Pertanyaan Sebelum Berbicara

Sebelum menyampaikan sesuatu, seorang Muslimah dapat membiasakan tiga pertanyaan:

Apakah benar?

Jangan menyampaikan informasi yang belum jelas kebenarannya.

Apakah perlu?

Tidak semua informasi yang benar harus disampaikan kepada setiap orang.

Apakah disampaikan dengan cara yang baik?

Kebenaran yang disampaikan tanpa hikmah dapat menimbulkan luka dan penolakan yang sebenarnya dapat dihindari.

Ketiga pertanyaan tersebut membantu kita menjaga komunikasi.

Dalam kehidupan digital, prinsip ini juga berlaku terhadap pesan WhatsApp, komentar media sosial, dan berbagai bentuk komunikasi lainnya.

Muslimah yang berakhlak bukan hanya menjaga perkataan ketika bertemu orang lain, tetapi juga menjaga tulisan ketika tidak berhadapan langsung dengan mereka.

10. Menghindari Hasad dan Persaingan Tidak Sehat

Salah satu ujian kehidupan sosial adalah melihat orang lain memperoleh keberhasilan.

Ada teman yang dipercaya menjadi ketua organisasi.

Ada ustadzah yang semakin dikenal.

Ada majelis taklim yang berkembang.

Ada jamaah yang memperoleh rezeki lebih banyak.

Ada perempuan yang berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi.

Semua keadaan tersebut dapat menimbulkan berbagai perasaan.

Seseorang dapat merasa terinspirasi.

Namun, ia juga dapat merasa iri.

Dalam Islam, kedengkian yang tercela perlu dihindari.

Allah SWT mengajarkan agar manusia memohon perlindungan dari kejahatan orang yang dengki.

وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

“Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.”

(QS. Al-Falaq [113]: 5)

Mengubah Perbandingan Menjadi Inspirasi

Ketika melihat orang lain berhasil, kita tidak harus merasa kalah.

Keberhasilan orang lain tidak otomatis mengurangi kesempatan kita memperoleh kebaikan.

Jika seorang teman memiliki ilmu lebih luas, kita dapat termotivasi untuk belajar.

Jika sebuah majelis memiliki kegiatan yang bermanfaat, kita dapat mengambil pelajaran dari pengelolaannya.

Jika seorang ustadzah mampu membimbing banyak jamaah, kita dapat bersyukur karena semakin banyak masyarakat memperoleh ilmu.

Inilah sikap hati yang perlu dibangun.

Muslimah yang matang tidak menjadikan keberhasilan orang lain sebagai ancaman, tetapi sebagai pengingat bahwa kesempatan berbuat baik sangat luas.

11. Berani Mengakui Kesalahan dan Meminta Maaf

Salah satu tanda kedewasaan moral adalah kemampuan mengakui kesalahan.

Namun, hal ini tidak selalu mudah.

Manusia sering merasa perlu mempertahankan citra dirinya.

Ia takut dianggap lemah.

Takut kehilangan penghormatan.

Takut dianggap tidak mampu.

Karena itu, sebagian orang memilih mencari alasan ketika melakukan kesalahan.

Padahal keberanian mengakui kekeliruan justru dapat memperkuat kepercayaan.

Dalam kehidupan majelis taklim, seorang pengurus mungkin mengambil keputusan yang kurang tepat.

Seorang ustadzah mungkin keliru menyampaikan informasi.

Seorang jamaah mungkin terburu-buru menilai orang lain.

Keadaan tersebut tidak harus berubah menjadi konflik berkepanjangan.

Kesalahan dapat menjadi kesempatan belajar apabila disikapi dengan jujur.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلْمُتَطَهِّرِينَ

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.”

(QS. Al-Baqarah [2]: 222)

Ayat ini mengingatkan bahwa manusia memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri.

Meminta Maaf Tidak Mengurangi Kemuliaan

Seorang pemimpin yang meminta maaf tidak otomatis kehilangan wibawa.

Seorang guru yang mengoreksi penjelasannya tidak otomatis kehilangan kehormatan.

Seorang pengurus yang mengakui kekeliruan tidak otomatis menjadi tidak layak dipercaya.

Sebaliknya, sikap tersebut dapat menunjukkan tanggung jawab dan kerendahan hati.

Orang yang kuat bukan orang yang tidak pernah salah, tetapi orang yang memiliki keberanian untuk memperbaiki kesalahannya.

12. Menjadi Muslimah yang Bermanfaat bagi Masyarakat

Ilmu dan akhlak tidak seharusnya berhenti pada perbaikan diri sendiri.

Keduanya juga perlu menghadirkan manfaat bagi orang lain.

Allah SWT berfirman:

وَٱلْمُؤْمِنُونَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ

“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar.”

(QS. At-Tawbah [9]: 71)

Ayat ini memberikan landasan penting tentang tanggung jawab sosial laki-laki dan perempuan beriman.

Keduanya memiliki peran dalam membangun kehidupan yang baik.

Peran Muslimah dalam Keluarga

Seorang Muslimah dapat menjadi pendidik yang menanamkan kejujuran, tanggung jawab, kasih sayang, dan kedisiplinan.

Pendidikan keluarga tidak hanya berlangsung melalui nasihat.

Anak-anak juga belajar dari perilaku orang dewasa.

Ketika orang tua terbiasa meminta maaf, anak belajar tentang kerendahan hati.

Ketika orang tua menjaga perkataan, anak belajar tentang penghormatan.

Ketika orang tua berlaku adil, anak belajar tentang tanggung jawab moral.

Peran Muslimah dalam Majelis Taklim

Majelis taklim dapat menjadi ruang pemberdayaan masyarakat.

Selain pembelajaran agama, majelis dapat mengembangkan kegiatan sosial, pendidikan keluarga, pendampingan masyarakat, dan penguatan literasi.

Ustadzah dan pengurus memiliki kesempatan untuk membimbing jamaah menjadi pribadi yang lebih mandiri, peduli, dan bertanggung jawab.

Peran Muslimah dalam Organisasi

Perempuan yang aktif dalam organisasi dapat memberikan kontribusi melalui kepemimpinan, pengelolaan program, pengembangan pendidikan, dan pelayanan masyarakat.

Namun, jabatan perlu dipahami sebagai amanah.

Kepemimpinan bukan sekadar kesempatan memperoleh penghormatan.

Kepemimpinan adalah tanggung jawab untuk menghadirkan keadilan dan manfaat.

Peran Muslimah di Ruang Digital

Media sosial dapat menjadi sarana dakwah yang luas.

Melalui tulisan, video, dan berbagai bentuk komunikasi digital, seorang Muslimah dapat menyebarkan pengetahuan yang bermanfaat.

Namun, dakwah digital juga memerlukan tanggung jawab.

Jangan menjadikan popularitas sebagai ukuran utama keberhasilan.

Jangan menyebarkan informasi agama tanpa memeriksa sumbernya.

Jangan membangun pengaruh melalui penghinaan terhadap kelompok lain.

Dan jangan menjadikan perbedaan pendapat sebagai kesempatan mempermalukan orang.

Dakwah yang baik bukan hanya membuat pesan tersebar luas, tetapi juga menjaga agar pesan tersebut benar, bermanfaat, dan disampaikan dengan akhlak.

13. Tujuh Karakter Muslimah yang Berilmu, Berani, dan Berakhlak

Untuk membangun kepribadian yang seimbang, terdapat tujuh karakter yang perlu dilatih.

Pertama: Tawaduk dalam Ilmu

Semakin banyak belajar, semakin sadar bahwa masih banyak yang belum diketahui.

Ia tidak mudah merendahkan orang lain.

Ia bersedia bertanya dan menerima koreksi.

Kedua: Teguh dalam Prinsip

Ia tidak mudah mengikuti kesalahan hanya karena dilakukan banyak orang.

Ia mampu mempertahankan kebenaran dengan cara yang baik.

Ketiga: Santun dalam Perkataan

Ia menjaga lisan dari ghibah, fitnah, penghinaan, dan ucapan yang tidak diperlukan.

Ia memilih kata-kata yang membawa manfaat.

Keempat: Adil dalam Penilaian

Ia tidak membenarkan kesalahan hanya karena dilakukan teman sendiri.

Ia juga tidak menolak kebenaran hanya karena disampaikan orang yang berbeda kelompok.

Kelima: Ikhlas dalam Pengabdian

Ia berusaha melakukan kebaikan karena Allah, bukan semata-mata karena pujian atau penghargaan manusia.

Keenam: Peduli terhadap Sesama

Ia memperhatikan kebutuhan orang lain dan berusaha membantu sesuai kemampuannya.

Ia tidak hanya memikirkan keberhasilan dirinya sendiri.

Ketujuh: Terus Memperbaiki Diri

Ia menyadari bahwa pembinaan akhlak merupakan proses sepanjang kehidupan.

Ia tidak merasa telah mencapai kesempurnaan.

Ia terus belajar, bertaubat, dan memperbaiki kebiasaan.

Ketujuh karakter ini tidak terbentuk dalam satu hari.

Ia membutuhkan latihan, keteladanan, kesabaran, dan pertolongan Allah SWT.

14. Majelis Taklim sebagai Sekolah Akhlak dan Kepemimpinan Muslimah

Majelis taklim memiliki potensi besar untuk membentuk Muslimah yang berilmu dan berkarakter.

Namun, pembinaan tersebut perlu dilakukan secara sadar.

Pengajian tidak cukup hanya menyampaikan informasi agama.

Jamaah juga perlu dibimbing untuk menerapkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya, setelah kajian tentang ghibah, jamaah diajak memperbaiki budaya komunikasi.

Setelah kajian tentang hasad, jamaah diajak belajar menghargai keberhasilan orang lain.

Setelah kajian tentang amanah, pengurus diajak meningkatkan transparansi dan tanggung jawab.

Setelah kajian tentang ukhuwah, jamaah diajak memperbaiki hubungan yang sedang mengalami perselisihan.

Dengan cara demikian, majelis taklim menjadi ruang pembentukan karakter.

Ustadzah sebagai Teladan

Seorang ustadzah tidak hanya mengajarkan akhlak melalui ceramah.

Ia juga mengajarkannya melalui perilaku.

Bagaimana ia memperlakukan jamaah yang berbeda pendapat.

Bagaimana ia menyikapi kritik.

Bagaimana ia menghormati ustadzah lain.

Bagaimana ia mengakui kesalahan.

Bagaimana ia memperlakukan jamaah yang kurang mampu.

Bagaimana ia menjaga hubungan dengan pengurus dan masyarakat.

Semua itu merupakan bagian dari pendidikan akhlak.

Jamaah sering belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat daripada dari apa yang hanya mereka dengar.

Karena itu, keteladanan menjadi unsur penting dalam keberhasilan dakwah.

Ustadzah yang baik bukan hanya mampu membuat jamaah memahami kebaikan, tetapi juga membantu mereka melihat bagaimana kebaikan itu diwujudkan dalam kehidupan.

15. Muhasabah Jejak Jiwa: Sudahkah Kita Menjadi Muslimah yang Lebih Baik?

Marilah kita memeriksa diri melalui beberapa pertanyaan.

Pertama. Apakah ilmu yang saya pelajari membuat saya semakin rendah hati?

Kedua. Apakah saya berani menyampaikan kebenaran meskipun berbeda dari pendapat kelompok?

Ketiga. Apakah saya mampu menerima nasihat tanpa langsung merasa tersinggung?

Keempat. Apakah saya menjaga lisan ketika sedang marah atau kecewa?

Kelima. Apakah saya mampu merasa bahagia melihat keberhasilan perempuan lain?

Keenam. Apakah saya berbuat baik meskipun tidak mendapat perhatian atau penghargaan?

Ketujuh. Apakah saya mampu mengakui kesalahan dan meminta maaf?

Kedelapan. Apakah kehadiran saya membuat lingkungan menjadi lebih damai?

Kesembilan. Apakah saya menggunakan ilmu untuk memperbaiki diri atau untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain?

Kesepuluh. Jika hari ini saya meninggalkan suatu majelis atau organisasi, apakah orang-orang akan mengenang manfaat dan kebaikan saya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan untuk membuat kita merasa telah sempurna.

Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa setiap manusia masih memiliki ruang untuk bertumbuh.

16. Renungan Jejak Jiwa: Jangan Hanya Menjadi Muslimah yang Dikagumi, Jadilah Muslimah yang Membawa Manfaat

Ibu-ibu yang dirahmati Allah,

Dalam kehidupan ini, kita mungkin ingin dikenal sebagai perempuan yang baik.

Kita ingin dihormati.

Kita ingin dipercaya.

Kita ingin memiliki ilmu.

Kita ingin mampu memberikan pengaruh positif.

Semua keinginan tersebut dapat diarahkan kepada kebaikan.

Namun, jangan sampai keinginan untuk dikagumi lebih besar daripada keinginan untuk menjadi pribadi yang benar-benar bermanfaat.

Jangan sampai kita lebih sibuk membangun citra sebagai perempuan salehah daripada memperbaiki keadaan hati.

Jangan sampai kita merasa bangga karena banyak orang mendengarkan nasihat kita, tetapi kita sendiri sulit menerima nasihat.

Jangan sampai kita dikenal sebagai perempuan yang berani berbicara, tetapi belum mampu menjaga perkataan.

Jangan sampai kita memiliki banyak ilmu, tetapi masih mudah merendahkan orang lain.

Dan jangan sampai kita aktif dalam berbagai kegiatan sosial, tetapi melupakan tanggung jawab terhadap orang-orang terdekat.

Sebab kemuliaan seorang Muslimah tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa luas orang mengenalnya.

Ada perempuan yang tidak dikenal masyarakat luas, tetapi menjadi sumber ketenangan bagi keluarganya.

Ada ibu yang tidak pernah berbicara di hadapan banyak orang, tetapi berhasil menanamkan akhlak mulia kepada anak-anaknya.

Ada jamaah yang tidak memiliki jabatan, tetapi selalu hadir membantu ketika orang lain membutuhkan.

Ada ustadzah yang tidak mengejar popularitas, tetapi dengan sabar membimbing masyarakat selama bertahun-tahun.

Mereka mungkin tidak selalu memperoleh penghargaan manusia.

Namun, pengabdian yang dilakukan dengan ikhlas tetap memiliki nilai di sisi Allah.

Karena itu, jangan hanya bertanya:

“Apakah orang lain menghormati saya?”

Tanyakan pula:

“Apakah saya telah memperlakukan orang lain dengan hormat?”

Jangan hanya bertanya:

“Apakah orang lain mengetahui ilmu saya?”

Tanyakan pula:

“Apakah ilmu saya telah memperbaiki akhlak saya?”

Jangan hanya bertanya:

“Apakah saya memiliki pengaruh di masyarakat?”

Tanyakan pula:

“Apakah pengaruh saya membawa masyarakat kepada kebaikan?”

Dan jangan hanya bertanya:

“Apakah saya telah menjadi perempuan yang kuat?”

Tanyakan pula:

“Apakah kekuatan saya digunakan untuk melindungi, membantu, dan menegakkan keadilan?”

Sebab kekuatan yang paling indah adalah kekuatan yang tidak melahirkan kesombongan. Ilmu yang paling bermanfaat adalah ilmu yang melahirkan kerendahan hati. Dan akhlak yang paling mulia adalah akhlak yang tetap terjaga ketika manusia menghadapi ujian.

17. Doa Memohon Ilmu, Keteguhan, dan Akhlak yang Baik

Di antara doa yang diajarkan Al-Qur’an adalah:

رَّبِّ زِدْنِى عِلْمًا

“Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.”

(QS. Ṭāhā [20]: 114)

Doa ini mengingatkan bahwa manusia harus terus belajar.

Kita juga memohon keteguhan hati:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi.”

(QS. Āli ʿImrān [3]: 8)

Dan Rasulullah SAW mengajarkan doa memohon akhlak yang baik:

اللَّهُمَّ اهْدِنِى لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِى لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ

“Ya Allah, tunjukilah aku kepada akhlak yang paling baik. Tidak ada yang dapat menunjukkan kepada akhlak yang paling baik kecuali Engkau.”

(HR. Muslim, no. 771; bagian dari doa yang lebih panjang)

Ketiga doa ini dapat menjadi pengingat bahwa ilmu, keteguhan, dan akhlak memerlukan usaha manusia sekaligus pertolongan Allah.

Penutup: Jadilah Muslimah yang Kehadirannya Membawa Kebaikan

Menjadi Muslimah yang berilmu, berani, dan berakhlak bukan berarti menjadi manusia yang tidak pernah salah.

Bukan berarti harus selalu memiliki jawaban atas setiap persoalan.

Bukan berarti harus selalu tampil memimpin.

Dan bukan berarti harus memperoleh pengakuan dari semua orang.

Menjadi Muslimah yang berilmu berarti terus belajar dan menggunakan pengetahuan secara bertanggung jawab.

Menjadi Muslimah yang berani berarti mampu mempertahankan kebenaran tanpa kehilangan adab.

Menjadi Muslimah yang berakhlak berarti menjaga hubungan dengan Allah dan memperlakukan sesama manusia dengan kejujuran, keadilan, kasih sayang, serta tanggung jawab.

Ketiganya perlu berjalan bersama.

Ilmu menjadi petunjuk.

Keberanian menjadi kekuatan untuk mengamalkan petunjuk.

Akhlak menjadi keindahan dalam pelaksanaannya.

Marilah kita menjadikan majelis taklim sebagai tempat membangun ketiga kualitas tersebut.

Semoga setiap pengajian membuat kita semakin memahami agama.

Semoga setiap nasihat membuat kita semakin rendah hati.

Semoga setiap perbedaan pendapat mengajarkan kedewasaan.

Semoga setiap ujian melatih kesabaran.

Dan semoga setiap amanah menjadi kesempatan memperluas manfaat.

Kita mungkin tidak mampu mengubah seluruh masyarakat sekaligus.

Namun, kita dapat memulai dari diri sendiri.

Dari cara kita berbicara.

Dari cara kita memperlakukan keluarga.

Dari cara kita menghormati tetangga.

Dari cara kita menyikapi perbedaan.

Dari cara kita menjalankan amanah.

Dan dari keberanian kita memilih kebenaran meskipun tidak selalu mudah.

Jadilah Muslimah yang ilmunya menerangi, keberaniannya melindungi, dan akhlaknya menenangkan.

—

HIKMAH JEJAK JIWA

Jadilah perempuan yang terus belajar, karena ilmu akan membimbing langkahmu.

Jadilah perempuan yang berani mempertahankan kebenaran, karena tidak semua yang dilakukan banyak orang adalah benar.

Jadilah perempuan yang lembut hatinya, karena keteguhan tidak harus melahirkan kekerasan.

Jadilah perempuan yang rendah hati, karena semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar tanggung jawabnya.

Jadilah perempuan yang bermanfaat, karena kemuliaan hidup bukan hanya tentang apa yang kita peroleh, tetapi juga tentang kebaikan yang kita berikan.

Tidak perlu menjadi Muslimah yang paling dikenal. Berusahalah menjadi Muslimah yang paling tulus menjalankan amanahnya.

Tidak perlu selalu menjadi yang paling didengar. Berusahalah menjadi pribadi yang perkataannya membawa kebaikan.

Dan tidak perlu merasa telah menjadi yang terbaik. Teruslah belajar menjadi lebih baik di hadapan Allah.

—

JEJAK JIWA

Merawat Hati, Menjernihkan Pikiran, Memperindah Akhlak.

Dr. Badrah Uyuni, M.A.

Rujukan Utama

Al-Qur’an

– QS. Al-Ḥujurāt [49]: 13 — Kemuliaan berdasarkan ketakwaan.
– QS. Al-ʿAlaq [96]: 1–5 — Perintah membaca dan belajar.
– QS. Al-Mujādilah [58]: 11 — Kedudukan orang beriman dan berilmu.
– QS. Al-Isrā’ [17]: 36 — Tanggung jawab terhadap pengetahuan.
– QS. An-Nisā’ [4]: 135 — Menegakkan keadilan.
– QS. Al-Qalam [68]: 4 — Kemuliaan akhlak Rasulullah.
– QS. Al-Mā’idah [5]: 2 — Kerja sama dalam kebajikan.
– QS. Al-Falaq [113]: 5 — Bahaya kedengkian.
– QS. At-Tawbah [9]: 71 — Tanggung jawab sosial laki-laki dan perempuan beriman.
– QS. Al-Baqarah [2]: 222 — Keutamaan taubat.
– QS. Ṭāhā [20]: 114 — Doa memohon tambahan ilmu.
– QS. Āli ʿImrān [3]: 8 — Doa memohon keteguhan hati.

Hadis dan Sirah

– Al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb Badʾ al-Waḥy — Kisah Khadijah RA pada permulaan wahyu.
– Al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Shurūṭ — Peristiwa Hudaibiyah dan nasihat Ummu Salamah RA.
– Al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, riwayat tentang Asma’ binti Abu Bakar dan persiapan hijrah.
– Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, no. 2594 — Keutamaan kelembutan.
– Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, no. 771 — Doa memohon akhlak yang baik.
– Al-Bukhārī dan Muslim — Hadis berkata baik atau diam.

Literatur Pendukung

– Al-Ghazālī. Iḥyāʾ ʿUlūm al-Dīn — Pembinaan akhlak dan penyucian jiwa.
– Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah. Madārij al-Sālikīn — Pembinaan spiritual dan perjalanan jiwa.
– Sayeed, A. (2013). Women and the Transmission of Religious Knowledge in Islam. Cambridge University Press. https://doi.org/10.1017/CBO9781139381871
– Sayeed, A. (2011). Muslim women’s religious education in early and classical Islam. Religion Compass, 5(3), 94–103. https://doi.org/10.1111/j.1749-8171.2011.00263.x

Catatan: Kisah para sahabiyah disajikan sebagai keteladanan berdasarkan riwayat sejarah dan hadis. Uraian penerapannya dalam kehidupan Muslimah kontemporer merupakan refleksi pendidikan dan dakwah, bukan bagian langsung dari teks riwayat.

========
Ma’had Aly Zawiyah Jakarta kembali membuka Penerimaan Mahasantri Baru untuk Program Non-Formal:
S1 Ilmu Fiqih – Durasi 4 Tahun
S2 Ilmu Fiqih & Ushul Fiqih – Durasi 2 Tahun
Kuliah setiap Sabtu & Ahad
Pukul 07.15 – 15.30 WIB
Jakarta Timur (offline & full interaksi)
—
Lokasi: Gedung Yayasan Terpadu Shibghatullah
Jl. Budi Harapan No. 40, Cipinang Melayu, Jakarta Timur
Kontak: Ci Mia – +62 812-1037-5150

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *