RASULULLAH ﷺ DAN FILSAFAT KESEDIHAN: Ketika Allah Tidak Selalu Menghilangkan Luka, tetapi Menunjukkan Jalan untuk Melewatinya

*RASULULLAH ﷺ DAN FILSAFAT KESEDIHAN*
*Ketika Allah Tidak Selalu Menghilangkan Luka, tetapi Menunjukkan Jalan untuk Melewatinya*
الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على سيدنا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Ketika kita memperingati Maulid Nabi Muhammad ﷺ, biasanya kita berbicara tentang kelahiran beliau, perjuangan beliau, mukjizat beliau, atau kemuliaan akhlak beliau.
Tetapi hari ini saya ingin mengajak kita mengenal Rasulullah ﷺ dari sisi yang sangat manusiawi.
Rasulullah ﷺ juga pernah bersedih.
Beliau pernah kehilangan.
Beliau pernah ditolak.
Beliau pernah ditinggalkan orang-orang yang sangat dicintainya.
Beliau pernah dihina.
Beliau pernah menyaksikan sahabat-sahabatnya disakiti.
Beliau pernah pergi berdakwah dengan membawa harapan, lalu pulang dengan tubuh dan hati yang terluka.
Karena itu, mungkin salah satu alasan kita begitu mencintai Rasulullah ﷺ adalah karena beliau tidak hanya mengajarkan kepada kita bagaimana hidup ketika semuanya baik-baik saja.
Beliau juga menunjukkan bagaimana seorang hamba berjalan bersama Allah ketika hatinya sedang terluka.
—
Al-Qur’an Mengenal Kesedihan Manusia
Menarik sekali bahwa Al-Qur’an tidak hanya mempunyai satu kata untuk menggambarkan kesedihan.
Ada:
حُزْن — ḥuzn, kesedihan dan dukacita.
Ada:
غَمّ — ghamm, kesedihan yang menghimpit.
Ada:
كَرْب — karb, kesusahan yang sangat berat.
Ada:
ضِيق — ḍīq, ketika dada terasa sempit.
Ada:
حَسْرَة — ḥasrah, kesedihan bercampur penyesalan.
Ada:
بَثّ — bathth, penderitaan batin yang begitu berat sehingga ingin dicurahkan.
Ada:
أَسَف — asaf, dukacita yang mendalam.
Dan ada:
يَأْس — ya’s serta قُنُوط — qunūṭ, ketika penderitaan mulai berubah menjadi keputusasaan.
Seolah-olah Al-Qur’an sedang mengatakan kepada kita:
“Allah mengetahui bahwa luka manusia tidak semuanya sama.”
Ada orang yang kehilangan orang yang dicintainya.
Ada yang terluka karena perkataan manusia.
Ada yang kecewa karena dikhianati.
Ada yang sedang sakit.
Ada yang mempunyai masalah keluarga.
Ada yang anaknya sedang menghadapi kesulitan.
Ada yang telah berdoa bertahun-tahun tetapi merasa doanya belum terjawab.
Ada pula yang tidak dapat menjelaskan mengapa dirinya sedih.
Manusia mungkin tidak memahami kesedihan kita.
Tetapi Allah memahami bahkan nama-nama dari kesedihan itu.
—
Rasulullah ﷺ Pun Mengenal Kesedihan
Kalau kesedihan adalah tanda lemahnya iman, tentu Rasulullah ﷺ tidak akan pernah bersedih.
Tetapi beliau bersedih.
Beliau kehilangan ibundanya, Aminah, ketika masih kecil.
Beliau kemudian kehilangan kakeknya, Abdul Muththalib.
Beliau kehilangan orang yang selama bertahun-tahun menjadi tempat beliau mendapatkan kasih sayang dan perlindungan.
Kemudian ketika beliau telah menjadi Rasul, beliau kehilangan Khadijah رضي الله عنها.
Bayangkan.
Khadijah bukan sekadar istri.
Ketika dunia meragukan Muhammad ﷺ, Khadijah mempercayainya.
Ketika Rasulullah ﷺ pulang dari Gua Hira dalam keadaan menggigil dan berkata:
زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي
“Selimuti aku, selimuti aku,”
Khadijah tidak mengatakan:
“Mungkin engkau hanya kelelahan.”
Tidak.
Khadijah mengatakan:
كَلَّا وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا
“Tidak! Demi Allah, Allah tidak akan pernah menghinakanmu.”
Lalu Khadijah menyebut kebaikan-kebaikan Muhammad ﷺ.
Ketika dunia membuat Rasulullah ﷺ bertanya-tanya tentang apa yang terjadi, ada seseorang di rumah yang mengingatkan beliau siapa dirinya.
Kemudian perempuan itu wafat.
—
Tahun Kesedihan
Tidak lama setelah itu, Abu Thalib juga wafat.
Ia memang tidak mengikuti risalah Islam hingga akhir hayatnya menurut riwayat yang sahih.
Tetapi selama bertahun-tahun ia menjadi perlindungan sosial bagi Rasulullah ﷺ.
Maka dalam waktu yang berdekatan, Rasulullah kehilangan:
tempat bersandar secara emosional di dalam rumah,
dan
perlindungan sosial di luar rumah.
Tradisi sirah mengenal masa itu sebagai:
عَامُ الْحُزْنِ
Tahun Kesedihan.
Perhatikan baik-baik.
Kita sedang berbicara tentang manusia yang paling dicintai Allah.
Tetapi Allah tidak menjadikan hidupnya tanpa air mata.
Maka jangan pernah berpikir:
“Kalau Allah mencintaiku, mengapa aku mengalami kesedihan?”
Karena dicintai Allah tidak berarti kehidupan tidak pernah melukai kita.
Rasulullah ﷺ adalah kekasih Allah.
Namun beliau tetap mengenal kehilangan.
—
Lalu Datanglah Thaif
Setelah kehilangan Khadijah dan Abu Thalib, Rasulullah ﷺ pergi ke Thaif.
Mungkin ada harapan di sana.
Mungkin ada orang yang mau mendengarkan.
Mungkin ada tempat baru untuk dakwah.
Tetapi yang terjadi justru sebaliknya.
Beliau ditolak.
Dicemooh.
Dan dalam riwayat sirah disebutkan beliau mengalami perlakuan yang sangat menyakitkan.
Dalam hadis sahih, Rasulullah ﷺ sendiri mengenang peristiwa ‘Aqabah di Thaif sebagai salah satu hari yang sangat berat dalam kehidupannya.
Kemudian datang Jibril bersama Malaikat Penjaga Gunung.
Ditawarkan kepada Rasulullah ﷺ kemungkinan membinasakan mereka.
Bayangkan.
Orang yang baru saja terluka sekarang mempunyai kesempatan untuk membalas.
Tetapi Rasulullah ﷺ tidak memilih pembalasan.
Beliau masih berharap:
semoga dari keturunan mereka lahir orang-orang yang menyembah Allah.
Subhanallah.
—
Di Sini Kita Menemukan Rahasia Akhlak Rasulullah ﷺ
Orang biasa ketika terluka berkata:
“Aku ingin engkau merasakan apa yang kurasakan.”
Tetapi Rasulullah ﷺ mengajarkan:
“Aku terluka, tetapi aku tidak akan menjadikan lukaku alasan untuk melukai.”
Inilah salah satu pelajaran terbesar Maulid.
Jangan biarkan kesedihan mengubah kita menjadi orang yang buruk.
Kita boleh kecewa.
Kita boleh menangis.
Kita boleh terluka.
Tetapi jangan karena seseorang pernah menyakiti kita, kemudian kita merasa mempunyai hak untuk menyakiti orang lain.
Luka bukan izin untuk berbuat zalim.
Rasulullah ﷺ mengalami luka.
Tetapi dari luka beliau justru lahir rahmah.
—
لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا
Kemudian dalam perjalanan hijrah, datang lagi sebuah keadaan genting.
Rasulullah ﷺ bersama Abu Bakar رضي الله عنه berada di Gua Tsur.
Orang-orang Quraisy mengejar mereka.
Dalam keadaan seperti itu Rasulullah ﷺ berkata:
«لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا»
“Jangan bersedih. Sesungguhnya Allah bersama kita.”
(QS. at-Taubah: 40)
Perhatikan kalimatnya.
Rasulullah tidak mengatakan:
لَا تَحْزَنْ إِنَّ الْمُشْكِلَةَ انْتَهَتْ
“Jangan sedih, masalahnya sudah selesai.”
Tidak.
Masalah belum selesai.
Musuh masih mencari mereka.
Jalan menuju Madinah masih panjang.
Masa depan secara manusiawi masih penuh ketidakpastian.
Tetapi Rasulullah ﷺ memberikan satu alasan untuk tidak tenggelam dalam kesedihan:
إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا
“Allah bersama kita.”
Inilah iman.
Iman bukan keyakinan bahwa hidup kita akan selalu mudah.
Iman adalah keyakinan:
“Sekalipun hidup sedang tidak mudah, aku tidak berjalan sendirian.”
—
Sedih Tidak Sama dengan Putus Asa
Di sinilah Al-Qur’an membuat perbedaan yang sangat penting.
الحُزْن ليس اليأس
Kesedihan bukan keputusasaan.
Nabi Ya’qub عليه السلام menangis karena Yusuf.
Al-Qur’an mengatakan:
«وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ»
Matanya menjadi putih karena kesedihan.
Tetapi apa yang beliau katakan?
«إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ»
“Sesungguhnya aku hanya mengadukan penderitaan dan kesedihanku kepada Allah.”
(QS. Yusuf: 86)
Dan setelah menangis sedemikian lama, justru Ya’qub berkata kepada anak-anaknya:
«وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ»
“Janganlah kalian berputus asa dari pertolongan Allah.”
(QS. Yusuf: 87)
Subhanallah.
Matanya menangis, tetapi harapannya tidak mati.
Itulah iman.
Bukan manusia yang tidak pernah menangis.
Tetapi manusia yang di tengah air matanya masih mengenal jalan menuju Allah.
—
Mengapa Kita Bersedih?
Hadirin yang berbahagia,
Sekarang kita sampai pada pertanyaan yang lebih dalam.
Mengapa manusia bersedih?
Karena manusia mencintai.
Kita tidak bersedih kehilangan sesuatu yang sama sekali tidak berarti bagi kita.
Kita menangisi seseorang karena ia mempunyai tempat di hati kita.
Kita kecewa karena pernah berharap.
Kita terluka karena pernah percaya.
Kita merindukan karena pernah bersama.
Maka terkadang:
«Kesedihan adalah jejak yang ditinggalkan cinta.»
Dan karena itu, tujuan agama bukan menjadikan manusia kehilangan perasaan.
Rasulullah ﷺ bukan manusia tanpa emosi.
Beliau mencintai.
Beliau menangis.
Beliau merindukan.
Beliau kehilangan.
Tetapi semua emosi itu mempunyai arah menuju Allah.
—
Jangan Malu Menangis
Ketika Ibrahim, putra Rasulullah ﷺ, meninggal, Rasulullah ﷺ menangis.
Beliau mengatakan bahwa mata meneteskan air mata dan hati bersedih.
Ini sangat penting.
Laki-laki boleh menangis.
Perempuan boleh menangis.
Orang alim boleh menangis.
Seorang pemimpin boleh menangis.
Orang beriman boleh menangis.
Air mata bukan lawan dari iman.
Yang harus kita jaga adalah jangan sampai kesedihan membawa kita kepada buruk sangka kepada Allah dan keputusasaan terhadap rahmat-Nya.
—
Dari Huzn Menuju Rahmah
Kalau kita ingin merangkum perjalanan Rasulullah ﷺ, kita menemukan pola yang indah:
حُزْن → صَبْر → تَوَكُّل → رَجَاء → رَحْمَة
Kesedihan → kesabaran → tawakkal → harapan → kasih sayang.
Rasulullah tidak berhenti pada kesedihan.
Kesedihan beliau ditransformasikan menjadi rahmat.
Dan bukankah Allah sendiri memperkenalkan beliau kepada kita sebagai:
«وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ»
“Tidaklah Kami mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. al-Anbiya’: 107)
Mungkin inilah ukuran kedewasaan spiritual kita:
bukan seberapa sedikit kita terluka, tetapi menjadi apa diri kita setelah terluka.
Apakah kita menjadi lebih kasar?
Atau lebih lembut?
Lebih mudah menghakimi?
Atau lebih memahami?
Lebih suka membalas?
Atau lebih mampu memaafkan?
—
Maulid dan Hati-Hati yang Sedang Terluka
Maka pada peringatan Maulid ini, mungkin di antara kita ada yang datang membawa kesedihan yang tidak diketahui orang lain.
Ada yang sedang kehilangan.
Ada yang mempunyai persoalan dengan anaknya.
Ada yang sedang menghadapi penyakit.
Ada yang rumah tangganya sedang diuji.
Ada yang kecewa kepada seseorang.
Ada yang menunggu sesuatu yang belum juga Allah berikan.
Ada pula yang kelihatannya tersenyum, tetapi sebenarnya sedang berjuang keras di dalam dirinya.
Untuk semua hati itu, seakan sirah Rasulullah ﷺ berkata:
Engkau boleh bersedih.
Tetapi jangan berhenti berjalan.
Engkau boleh menangis.
Tetapi jangan kehilangan harapan.
Engkau boleh terluka.
Tetapi jangan berubah menjadi orang yang suka melukai.
Dan ketika tidak seorang pun benar-benar memahami apa yang ada dalam hatimu, katakan seperti Ya’qub:
«إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ»
“Aku mengadukan penderitaan dan kesedihanku hanya kepada Allah.”
—
Penutup: Apa yang Diajarkan Rasulullah ﷺ kepada Kita tentang Kesedihan?
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Maulid bukan hanya mengenang hari ketika Rasulullah ﷺ lahir.
Maulid adalah kesempatan bertanya:
Apakah cara kita menjalani kehidupan semakin menyerupai cara Rasulullah ﷺ menjalaninya?
Ketika dicintai, beliau bersyukur.
Ketika kehilangan, beliau bersabar.
Ketika ditolak, beliau tidak membenci.
Ketika disakiti, beliau tidak menjadikan luka sebagai alasan untuk zalim.
Ketika masa depan tampak menakutkan, beliau berkata:
لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا
Dan ketika mempunyai kekuatan untuk membalas, beliau memilih harapan dan rahmat.
Maka cinta kepada Rasulullah ﷺ bukan hanya banyaknya shalawat yang keluar dari lisan kita.
Shalawat itu harus perlahan-lahan membentuk cara hati kita menghadapi kehidupan.
Semoga setelah Maulid ini, kita bukan menjadi manusia yang tidak pernah bersedih.
Tetapi menjadi manusia yang lebih tahu apa yang harus dilakukan ketika kesedihan datang.
Menangis tanpa berputus asa.
Terluka tanpa menjadi zalim.
Kehilangan tanpa kehilangan Allah.
Dan mencintai Rasulullah ﷺ bukan hanya ketika kehidupan terasa indah, tetapi juga menjadikan beliau teladan ketika hati kita sedang paling rapuh.
اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.
اللهم اجعل في قلوبنا نورًا، وفي أحزاننا أجرًا، وفي مصائبنا صبرًا، وفي ضعفنا قوةً، وفي خوفنا أمنًا، ولا تجعل مصيبتنا في ديننا، ولا تجعل الدنيا أكبر همنا.
اللهم ارزقنا حبك، وحب نبيك محمد ﷺ، واجمعنا به في الفردوس الأعلى.
آمين يا رب العالمين.
#mahadaly #zawiyahjakarta
