Artikel

Guru Asmat

Nama sebenarnya adalah Ahmad. Namun, ia dipanggil dengan nama Asmat oleh kawan-kawan sepengajiannya. Nama Asmat kemudian lebih populer dan dikenal orang daripada Ahmad. Ia lahir di Kampung Baru, Cakung, Jakarta Utara pada tahun 1904 dari pasangan Kuncung bin Ringgit dan Fatimah binti H. Rusin bin H. Jirin bin Gendot. Tidak diketahui secara persis tanggal dan bulan kelahirannya. Orang tuanya hanya punya dua anak, ia sendiri dan adiknya H. Junaidi.

Guru Asmat wafat pada hari Ahad menjelang subuh akhir bulan Sya`ban bertepatan dengan tahun 1987 pada usia 83 tahun. Ia ditinggal wafat oleh kedua orang tuanya pada usia yang masih kanak-kanak (usia 4 tahun) dan adiknya baru berusia 2 tahun, secara berturut-turut di tahun yang sama (1908). Pertama yang wafat adalah ibunya, Fatimah, dan disusul kemudian bapaknya, Kuncung.

Seperti kisah Nabi Muhammad SAW, ia kemudian diasuh oleh pamannya (adik dari ibu), yaitu H. Anwar bin H. Rusin atau yang biasa dipanggil dengan H. Noar. Dalam masa pengasuhan ini, pamannya didatangi oleh seorang kyai agar H.Noar dan Solihin (abang H. Noar) betul-betul merawat Asmat kecil karena kelak ia akan menjadi orang besar. Kasih sayang H. Noar kepada Asmat kecil sangat besar, bahkan melebihi kepada anak-anaknya. Contohnya, jika H. Noar membeli kain sarung, dia akan memberikan yang terbagus untuk Asmat kecil, sedangkan kepada anak-anaknya diberikan yang biasa-biasa saja. Sehingga muncul istilah dari anak-anak H. Noar, ”Apa-apa untuk Ahmad (Asmat).” Bahkan, Asmat pun mendapatkan bagian dari warisannya (pemberian sebagai wasiat) berupa sebidang tanah dan lainnya ketika ia wafat.

Pertama kali Asmat kecil mengaji kepada Guru Amat, Sukapura, orang tua dari KH. Dzinnun selama 3 (tiga) tahun. Kemudian pada usia 8 tahun, ia mengaji ke Mu`allim Thabrani, Paseban selama 2 (dua) tahun. Di tempat Mu`allim Thabrani lah ia dikenal dengan nama Asmat, nama yang melekat sampai ia wafat. Nama Asmat ini diberikan oleh teman-temannya sesama murid Mu`allim Thabrani. Ia dikenal berotak encer dan kritis. Sering sekali ia bertanya kepada Guru Thabrani hal-hal yang musykil sehingga Guru Thabrani merasa kewalahan dan akhirnya mengantarkan Asmat kecil ke Guru Mahmud untuk mendapatkan pelajaran agama berikutnya.

Selain itu, ia juga mengaji ke Guru Aim, Kuningan. Ia tipe pembelajar yang sangat haus akan ilmu. Semakin terus mengaji, semakin merasa kurang ilmu. Ini terbukti dari banyaknya guru yang didatanginya untuk mengaji. Selain yang disebutkan tadi, ia juga mengaji kepada Guru Marzuqi, Cipinang Muara (bersama atau satu angkatan dengan KH. Noer Alie), kepada Guru Mughni, Kuningan; kepada Guru Abdul Madjid, Pekojan, kepada Guru Abdussalam/Guru Salam, Rawa Bangke (Rawa Bunga); kepada Guru Marwan, Tanjung Priok. Bahkan kepada Mu`allim KH. M. Syafi`i Hadzami yang juga sekaligus muridnya, ia tidak segan-segan untuk mengaji walau usianya sudah lanjut.
Selain kepada ulama, ia juga mengaji kepada habaib Betawi, yaitu kepada Habib Ali Kwitang, Habib Ali Bugur, dan Habib Umar Condet.

Setelah ia merasa memiliki ilmu yang cukup, ia mulai mengajar dan membuka pengajian di rumahnya. Banyak murid-muridnya yang kemudian menjadi ulama Betawi terkemuka, seperti Syaikh KH. Muhadjirin Amsar Ad-Darry (pendiri perguruan An-Nida Al-Islami, Bekasi), Mu`allim Rasyid (KH. Abdullah Rasyid, pendiri perguruan Ar-Rasyidiyyah, Kampung Mangga, Tugu Utara, Jakarta Utara), KH. Abdullah Azhari, KH. Zaini Maliki (yang dijadikan mantu), KH. Badruddin (anak kandungnya, bapak dari KH. Hifdzillah), dan KH. Murtaqi (juga dijadikan mantu).

Kitab-kitab yang diajarkan adalah: Tashrifatul Af`al (ilmu shorof), Al-Ajurumiyyah (ilmu nahwu), Mukhtashar Jiddan (ilmu nahwu), An-Nahwu Wa Syarhuhu Lisyaikh Kholid (ilmu nahwu), Hasyiyatun `Alaa Al-`Asymawi (ilmu nahwu), Syarhu Al-Makuudi `Ala Al-Ajurumiyyah (ilmu nahwu), Tashil Nail Al-Amani Fi Al-`Awamil An-Nahwiyyah (ilmu nahwu), Ath-Tharo`if Min Syudzur Adz-Dzahabi (ilmu nahwu), Matan Safinatun Najah (ilmu fiqih), Matan At-Taqrib Wa Syarhuhu Fathul Qarib Al-Mujib(ilmu fiqih), Fathul Mu`in Wa Hasyiyah I`anah Ath-Tholibiin (ilmu fiqih), Risalat Fi Al-Isti`arah Lisyaid Dahlan (ilmu bayan), Jauharul Maqnun (Balaghah), Idhohul Mubham (ilmu mantiq), Kifayah Al-`Awwam (ilmu kalam), Waraqat Imam Al-Haramain (ushul fiqih), Lataiful Isyarah (ushul fiqih), Alluma (ushul fiqih), Bidayah Al-Hidayah Lil Ghazali (tasawuf), Risalah Al-Mu`awanah (tasawuf).

Pada tahun 1948, ia pergi haji untuk pertama kalinya ditemani dua mantunya, KH. Murtaqi dan H. Harun (adik dari KH. Murtaqi yang juga menjadi mantunya). Ketika kapal laut yang ditumpanginya mulai merapat di pelabuhan Jeddah, dan ia masih di dalam kapal, muridnya yang telah dulu tiba di Makkah untuk meneruskan ngajinya, Syaikh KH. Muhadjirin Amsar Ad-Darry, menyambutnya dengan suka cita dan mendatanginya di atas kapal dengan suasana haru. Ia dan kedua mantunya betul-betul difasilitasi oleh muridnya itu, dari sejak makan sampai penginapan, di Jeddah maupun di Makkah.

Selama di Makkah, ia diajak muridnya ini untuk ikut mengaji dengan guru-gurunya. Karena Guru Asmat sangat cinta ilmu, ia pun sangat antusias mengikuti pengajian di Makkah. Bahkan sampai makan pun ia korbankan untuk ditunda demi mendapatkan tetesan-tetesan ilmu dari ulama Makkah terkemuka saat itu.
Dikisahkan oleh KH. Murtaqi, Guru Asmat sempat mendapat ijazah dari salah satu guru Syaikh KH. Muhadjirin Amsar Ad-Darry, yaitu Syaikh Yassin Al-Faddani.

Sepulangnya ke tanah air, ia semakin getol mengajar. Ia tidak menarik bayaran dari murid-murid yang mengaji kepadanya. Untuk membalas ilmu yang diberikannya, para murid hanya diminta untuk nimba bandring (nimba air dengan menggunakan dua buah kaleng sekaligus) untuk mengairi kebunnya dan menggantikan air empang gurame yang ia miliki.

Selain mengajar, ia juga melakoni pekerjaan sebagai pekebun, petani, dan peternak. Ia memiliki ternak sapi dan kambing susu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya. Selain itu, ia juga memiliki empang gurame, sawah, dan kebun pisang.

Pada tahun 1973, ia kembali menunaikan ibadah haji untuk kedua kalinya bersama istrinya Fatmah. Untuk haji keduanya ini, ia tidak keluar biaya. Seluruh biaya ditanggung oleh muridnya, H. Syafi`i. Ada kisah menarik pada haji keduanya ini, yang menunjukkan kekaromahan dan muru`ahnya Guru Asmat.Di Masjidil Haram, Uangnya dan uang istrinya sempat dicuri orang. Ia kemudian berdo`a kepada Allah SWT. Tidak lama kemudian, uangnya kembali dihadapannya. Tapi, ia tidak mau mengambilnya. Ia tinggalkan dan biarkan uang itu tergeletak di lantai.

Selain memiliki karomah, Guru Asmat terkenal kharismanya. Pernah suatu hari, ia mau pergi mengajar. Ada seorang pejudi sabung ayam yang melihat ia lewat. Karena malu dengan Guru Asmat, pejudi ini mengekap ayam aduannya di antara kedua pahanya agar tidak terlihat oleh Guru Asmat. Setelah Guru Asmat berlalu dari pandangannya, ia lihat ayam aduan, ayam kesayangannya, telah mati lemas kehabisan nafas.

Kisah lain adalah tentang sorban. Ada seorang jagoan di wilayah Sukapura, yang memiliki sawah. Ia melakukan tindakan semena-mena dengan memonopoli pengairan sawah. Dia buka aliran sawah hanya untuk mengairi sawahnya, sedangkan sawah orang lain, termasuk sawah milik Guru Asmat, tidak mendapatkan air. Ia tidak segan-segan untuk membacok siapapun yang mau menutup pintu air yang dibukanya. Pada suatu malam, Guru Asmat yang tidak mengetahui sebab sawahnya tidak mendapatkan air, mendatangi pintu air yang dimonopoli Si Jagoan. Guru Asmat kemudian menutup pintu air agar mengalir ke sawah-sawah milik orang lain dan juga miliknya. Guru Asmat kemudian pulang ke rumahnya. Tetapi, sorbannya sempat tertinggal di pintu air. Tak lama setelah Guru Asmat pulang, datanglah Si Jagoan. Ketika melihat sorban Guru Asmat, ia tidak berani untuk membuka pintu air. Si Jagoan kembali ke rumah. Tak lama kemudian, ia kembali ke pintu air. Ia lihat masih ada sorban Guru Asmat, ia pun tidak jadi membuka pintu air. Kejadian ini terus berulang sampai pagi.

Kharisma yang besar yang ia miliki, tidak membuatnya sombong dan ujub. Ia sangat tawadhu, low profil, dan menghormati siapapun. Jika ia berjalan dan berjumpa dengan seseorang, maka ia akan mendahulukan mengucapkan salam sambil mengangkat tangan kanan dan meletakannya di samping sebelah kanan kepalanya sebagai tanda hormat. Ia melakukannya kepada setiap orang yang ditemuinya, tanpa peduli apakah orang yang diberikan salamnya itu membalas atau tidak. Kebiasaannya ini sempat membuat malu dan mendapatkan gugatan dari anak-anaknya yang sering menyertainya. Guru Asmat hanya berkata,”Mereka tidak tahu sunnah nabi tentang keutamaan mendahulukan salam.” Penghormatan yang luar biasa juga ia berikan kepada guru-gurunya. Misalnya, ia tidak canggung untuk mencium tangan gurunya, Mu`allim KH. M. Syafi`i Hadzami yang umurnya jauh lebih muda darinya bahkan pantas untuk menjadi muridnya. Walau mu`allim sendiri tidak mau dicium tangannya, namun sering kali kecolongan karena ketika salaman, Guru Asmat buru-buru mencium tangan Mu`allim KH. M. Syafi`i Hadzami dan secepatnya dibalas oleh mu`allim dengan mencium tangan Guru Asmat. Bentuk penghormatan lain kepada gurunya, setiap bulan puasa ia selalu rutin mengirim beras, tape uli, dan panganan lain kepada dua gurunya, yaitu Guru Mahmud dan Guru `Aim. Hal ini Guru Asmat lakukan sampai ia tidak mampu berjalan lagi karena faktor usia.

Tanggal 19 April 1987. Kabar wafatnya Guru Asmat mulai menyebar. Radio Ath-Thahiriiyyah turut menyiarkan berita duka ini. Ribuan orang datang melayat. Banyak ulama dan habaib Betawi, Jakarta, yang datang melayat. KH. Noer Alie, KH. Thohir Rohili, KH. Muhadjirin adalah di antaranya. Mu`allim KH. M. Syafi`i Hadzami, meminta agar wajah almarhum tidak ditutup sebelum ia datang. Setibanya Mu`allim KH. M. Syafi`i Hadzami datang, dipandangnya wajah almarhum. Sejenak kemudian ia mengecap telunjuk kanannya, dan menulis di dahi almarhum, ”hadzza min auliyaillaah…” Hari itu, seorang waliyullah pergi meninggalkan kesan mendalam, meninggalkan beberapa karya tulis di antaranya berupa tulisan do`a, dan ilmu yang terus mengalir dan dialiri murid-muridnya dan generasi penerusnya sampai kemudian Allah SWT sendiri yang mengakhirinya.

Dikutip dari buku Geneologi Ulama Betawi oleh Rakhmad Kiki Jaelani

Comment here