Oleh: Hayat Abdul Latief

 

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَقُولُوا۟ قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَٰلَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

 

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (Al-Ahzab: 70-71)

 

Allah memerintahkan kaum Mu’minin untuk bertakwa kepadaNya dalam seluruh kondisi mereka, lahir dan batin. Dari takwa itu Allah mengkhususkan dan menyunnahkan untuk berkata benar, yaitu perkataan yang sejalan dengan yang benar atau mendekati kebenaran di saat sesuatu yang meyakinkan itu udzur (sulit dipastikan), berupa bacaan, dzikir, amar ma’ruf, nahi mungkar, mempelajari ilmu dan mengajarkannya, berupaya maksimal untuk memperoleh yang tepat dalam masalah-masalah ilmiah, dan setiap sarana yang membantu untuknya.

 

Dan termasuk perkataan yang benar adalah berkata lembut dan santun dalam berbicara kepada orang lain dan perkataan yang mengandung nasihat dan bimbingan kepada apa yang lebih maslahat. Kemudian Allah menjelaskan pengaruh yang ditimbulkan oleh takwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar, seraya berfirman, “Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu,” maksudnya, hal itu dapat menjadi sebab bagi keshalihan (kebaikan) amal dan jalan untuk diterima. Karena dengan menggunakan takwa, maka amal kebajikan bisa diterima, sebagaimana Allah berfirman,

 

وَٱتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ٱبْنَىْ ءَادَمَ بِٱلْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ ٱلْءَاخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ ۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلْمُتَّقِينَ

 

“Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27)

 

Dan dengannya pula seseorang akan diberi taufik untuk beramal shalih, dan Allah akan memperbaiki amal-amalnya dengan cara memeliharanya dari hal-hal yang dapat merusaknya, menjaga pahalanya dan melipatgandakannya. Demikian pula, mengabaikan takwa dan ucapan yang benar merupakan sebab bagi rusaknya amal kebajikan, ia tidak diterima dan tidak mempunyai bekas (pengaruh). “Dan mengampuni bagimu” juga “dosa-dosamu” yang merupakan sebab kebinasaan kalian.

 

Jadi, dengan takwa, berbagai perkara dapat menjadi lurus, dan dengannya pula segala yang terlarang menjadi terhindarkan. Maka dari itu Allah berfirman,

 

وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

 

“Dan barangsiapa menaati Allah dan rasulNya, maka sesuungguhnya dia telah mendapat kemenangan yang besar (Tafsir As-Sa’di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, pakar tafsir abad 14 H 70).

 

Berkenaan dengan berkata baik, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

 

مَن كانَ يُؤْمِنُ باللَّهِ واليَومِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أوْ لِيَصْمُتْ

 

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah berkata baik atau diam.” (HR. Muslim – Shahih Muslim dari Abu Hurairah raḍiyallahu’anhu)

 

Dalam hadis tersebut, Rasulullah memberikan arahan kepada umatnya agar menghiasi diri dengan adab dan akhlak islami yang menambahkan cinta dan kedekatan di antara kaum muslimin. Lalu Beliau memberitakan bahwasanya orang yang beriman kepada Allah yang telah menciptakannya dengan keimanan yang sempurna dan beriman kepada hari akhir yang merupakan tempat kembalinya maka hendaklah berkata baik atau diam, yakni apabila tidak mampu berkata baik, hendaklah diam.

 

Dengan demikian, pada mulanya manusia selalu disuruh untuk berkata baik. Namun Rasulullah mengingatkan bahwasannya lisan banyak tergelincir. Oleh karena itu apabila ingin berbicara, hendaklah manusia berpikir sebelum ucapan terlontar dari mulutnya. Oleh karena itu apabila dia mengetahui bahwa ucapannya tidak menimbulkan kerusakan, tidak membawa kepada yang diharamkan atau yang dibenci, dipersilahkan bicara. Namun kalau sebaliknya, untuk keselamatan lebih baik diam. Wallahu a’lam.

 

Diambil dan diolah dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah!

 

*(Khadim Korp Da’i An Nashihah dan Pelajar Ma’had Aly Zawiyah Jakarta)*

 

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *