30 HARI BERSAMA RASULULLAH ﷺ: Hari 06 — Rasulullah Pun Pernah Jauh dari Rumah

🌿 *30 HARI BERSAMA RASULULLAH ﷺ*
*Hari 06 — Rasulullah Pun Pernah Jauh dari Rumah*
Ada anak-anak yang malam ini mungkin sedang menahan rindu di asrama. Rindu rumah, rindu masakan ibu, rindu suara ayah, rindu kamar sendiri. Kadang dalam hati terlintas, “Aku ingin pulang saja.”
Nak, tahukah kalian? Rasulullah ﷺ yang sangat kita cintai pun sejak kecil telah belajar tentang perpisahan, kemandirian, dan kehidupan jauh dari kenyamanan rumah.
Ketika masih bayi, Muhammad ﷺ dibawa oleh Halimah al-Sa‘diyah untuk tinggal bersama keluarga Bani Sa‘d di pedalaman. Beliau tidak setiap hari berada dalam pelukan ibundanya, Aminah. Di sana beliau tumbuh dalam lingkungan yang berbeda dari Makkah, menghirup udara padang pasir, hidup bersama keluarga lain, dan mengenal kehidupan yang membentuk kekuatan dirinya.
Tentu Bani Sa‘d bukan pesantren sebagaimana yang kita kenal hari ini. Tetapi kita boleh mengambil sebuah renungan: seakan-akan itulah salah satu “sekolah kehidupan” pertama Rasulullah ﷺ.
Beliau belajar bahwa kasih sayang seorang ibu tidak selalu berarti anak harus terus berada di sampingnya. Ada kalanya seorang ibu merelakan jarak karena menginginkan sesuatu yang baik bagi anaknya.
Kemudian kehidupan kecil Muhammad ﷺ kembali mengajarkan arti kehilangan dan kemandirian.
Ayah beliau, Abdullah, telah wafat sebelum beliau lahir. Ketika berusia sekitar enam tahun, ibunda beliau Aminah wafat. Muhammad kecil kemudian berada dalam pengasuhan kakeknya, ‘Abdul Muththalib. Tidak lama kemudian sang kakek pun wafat, dan beliau diasuh oleh pamannya, Abu Thalib.
Rumah berganti. Pengasuh berganti. Keadaan berubah.
Namun semua itu tidak membuat Muhammad kecil tumbuh menjadi manusia yang keras hatinya.
Justru dari perjalanan itulah kelak dunia mengenal seorang Rasul yang begitu memahami kesedihan orang lain, begitu menyayangi anak yatim, begitu lembut kepada anak-anak, dan begitu peka terhadap mereka yang kehilangan tempat bersandar.
Allah berfirman:
«أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ
“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?”
(QS. Ad-Dhuha: 6)»
Maka untuk anak-anak yang sedang tinggal di asrama, jangan buru-buru menganggap jarak dari rumah sebagai kesedihan semata.
Mungkin ada pelajaran yang sedang Allah tumbuhkan melalui jarak itu.
Di rumah, ketika baju berantakan mungkin ada ibu yang merapikan. Di asrama, kita belajar merapikannya sendiri.
Di rumah, ketika lapar mungkin tinggal memanggil ibu. Di asrama, kita belajar mengikuti waktu dan aturan.
Di rumah, kita hidup bersama orang-orang yang sudah memahami sifat kita. Di asrama, kita belajar menghadapi teman yang berbeda karakter, berbagi, mengalah, meminta maaf, menjaga barang, mengendalikan emosi, dan menghormati guru serta musyrifah.
Bukankah semua itu juga pendidikan?
Pesantren bukan hanya tempat kita menghafal pelajaran.
Pesantren adalah tempat kita belajar menjadi manusia.
Karena itu, kalau malam-malam rindu kepada ibu, rindulah. Tidak perlu malu.
Kalau ingin menangis, menangislah.
Rindu bukan tanda kelemahan. Rindu adalah tanda bahwa kita mencintai.
Tetapi setelah itu, bangkitlah.
Ambil wudhu. Berdoalah untuk Ayah dan Ibu. Lalu bisikkan kepada diri sendiri:
«“Aku boleh rindu, tetapi aku tidak akan kalah oleh rindu.”»
Sebab mungkin di rumah sana, seorang ibu juga sedang merindukan anaknya.
Mungkin ia melihat kamar yang biasanya ramai menjadi sepi. Mungkin ia ingin memeluk anaknya. Tetapi ia menahan rindunya karena mempunyai sebuah harapan:
“Anakku sedang belajar menjadi besar.”
Maka jangan buru-buru meminta pulang hanya karena kehidupan asrama tidak selalu nyaman.
Suatu hari kalian memang akan pulang.
Tetapi pulanglah sebagai anak yang berbeda.
Lebih mandiri.
Lebih sabar.
Lebih bertanggung jawab.
Lebih pandai menjaga diri.
Lebih mencintai ilmu.
Dan lebih indah akhlaknya.
Sehingga ketika Ayah dan Ibu memeluk kalian kembali, mereka dapat melihat bahwa jarak itu tidak sia-sia.
Maulid mengajarkan kita:
Mencintai Rasulullah ﷺ bukan hanya bershalawat atas kelahirannya.
Mencintai beliau juga berarti belajar dari perjalanan hidupnya.
Muhammad kecil pernah jauh dari ibunya.
Pernah menjadi yatim.
Pernah berpindah pengasuhan.
Pernah menjalani kehidupan yang tidak selalu mudah.
Tetapi Allah tidak meninggalkannya.
أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ
Dan mungkin itulah pesan yang perlu kita simpan di hati:
Tidak setiap jarak berarti ditinggalkan.
Tidak setiap ketidaknyamanan berarti penderitaan.
Dan tidak setiap perpisahan berarti kehilangan kasih sayang.
Kadang-kadang, melalui jarak itulah Allah sedang mengajari seorang anak untuk tumbuh.
Selamat bertumbuh, anak-anak hebat.
Ayah dan Ibu tidak sedang meninggalkan kalian.
Mereka sedang memberikan ruang agar sayap kalian menjadi kuat.
#JejakJiwa #MaulidNabi #BelajarDariRasulullah #zawiyahjakarta #mahadaly
