RUMAH YANG DIRINDUKAN: Akhlak Rasulullah ﷺ dalam Menjaga Hati Anak

RUMAH YANG DIRINDUKAN: Akhlak Rasulullah ﷺ dalam Menjaga Hati Anak

*RUMAH YANG DIRINDUKAN*

*Akhlak Rasulullah ﷺ dalam Menjaga Hati Anak*

الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Ada satu tempat yang seharusnya menjadi tempat paling nyaman bagi manusia.

Bukan hotel.

Bukan tempat wisata.

Bukan rumah yang besar.

Tetapi rumah tempat ia pulang.

Di luar rumah seseorang mungkin menghadapi banyak hal. Ada pekerjaan, persaingan, tuntutan kehidupan, perkataan manusia, dan berbagai tekanan.

Karena itu ketika ia pulang, seharusnya ada satu tempat di dunia di mana ia merasa:

“Di sini aku diterima.”

“Di sini aku dicintai.”

“Di sini aku boleh menjadi diriku sendiri.”

Itulah rumah.

Tetapi pertanyaannya:

Apakah rumah kita sudah menjadi tempat yang dirindukan oleh anak-anak kita?

Atau jangan-jangan anak kita justru merasa paling harus berhati-hati ketika berada di rumah?

—

*1. Islam Mengajarkan Anak Berbakti kepada Orang Tua*

Islam sangat jelas mengenai kedudukan orang tua.

Allah berfirman:

«وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua.”

(QS. al-Isra’: 23)»

Bahkan seorang anak tidak diperkenankan mengatakan:

«أُفٍّ»

kepada orang tuanya.

Maka tidak ada keraguan:

birrul-wālidayn adalah kewajiban besar.

Tetapi ada satu sisi yang kadang kurang banyak dibicarakan.

Kalau anak mempunyai kewajiban terhadap orang tua, orang tua juga mempunyai amanah di hadapan Allah terhadap anaknya.

Anak bukan hanya seseorang yang wajib menaati kita.

Anak adalah amanah Allah.

—

*2. Anak Juga Mempunyai Hati*

Kadang orang dewasa lupa bahwa anak mempunyai hati.

Ketika masih kecil, mungkin ia tidak mampu menjawab.

Ketika dimarahi, ia diam.

Ketika dibentak, ia diam.

Ketika dibanding-bandingkan, ia diam.

Ketika mendengar perkataan yang menyakitkan, ia juga diam.

Kita mengira:

“Sudah, nanti juga lupa.”

Tetapi belum tentu.

Ada kalimat yang diucapkan orang tua hanya dalam sepuluh detik, tetapi diingat anak selama puluhan tahun.

Karena itu Allah mengajarkan prinsip yang sangat luas:

«وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

“Ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.”

(QS. al-Baqarah: 83)»

Kalau kepada manusia secara umum kita diperintahkan berkata baik, terlebih kepada manusia yang Allah titipkan di rumah kita.

—

*3. Jangan Sampai Lisan Orang Tua Menjadi Luka Anak*

Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.”

Muttafaq ‘alaih.»

Hadis ini tidak berhenti berlaku ketika kita masuk rumah.

Kadang kita sangat menjaga lisan kepada orang lain.

Kepada atasan kita sopan.

Kepada tetangga kita tersenyum.

Kepada tamu kita memilih kata-kata.

Tetapi kepada keluarga sendiri kita berkata:

“Ah, dia kan anak saya.”

Justru karena dia anak kita, lisannya harus lebih dijaga.

Sebab perkataan orang asing mungkin segera dilupakan.

Tetapi perkataan ayah dan ibu mempunyai tempat yang sangat dalam dalam jiwa seorang anak.

—

*4. Rasulullah ﷺ Melarang Mendoakan Keburukan kepada Anak*

Ini bagian yang sangat penting.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«لَا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَوْلَادِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ…»

“Janganlah kalian mendoakan keburukan terhadap diri kalian, jangan pula terhadap anak-anak kalian, dan jangan pula terhadap harta kalian….”

HR. Muslim.

Perhatikan:

Rasulullah ﷺ secara khusus menyebut:

«وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَوْلَادِكُمْ»

“Jangan mendoakan keburukan kepada anak-anak kalian.”

Maka ketika marah kepada anak, jangan mudah berkata:

“Biar kamu nanti begini….”

“Semoga kamu merasakan….”

“Nanti lihat saja….”

atau kalimat-kalimat buruk lainnya.

Lisan orang tua seharusnya menjadi sumber doa, bukan sumber ketakutan.

Kalau sedang sangat marah dan takut mengatakan sesuatu yang buruk:

diam dahulu.

Berwudhu.

Istighfar.

Jauhkan diri sebentar.

Setelah emosi mereda, baru bicara.

—

*5. Lihat Bagaimana Rasulullah ﷺ Memperlakukan Anak*

Anas bin Malik رضي الله عنه melayani Rasulullah ﷺ selama sepuluh tahun.

Bayangkan.

Sepuluh tahun bersama seseorang tentu ada kesalahan.

Ada pekerjaan yang tidak sempurna.

Ada sesuatu yang terlupa.

Tetapi Anas bersaksi:

«خَدَمْتُ النَّبِيَّ ﷺ عَشْرَ سِنِينَ، فَمَا قَالَ لِي أُفٍّ قَطُّ»

“Aku melayani Nabi ﷺ selama sepuluh tahun. Beliau tidak pernah mengatakan ‘uff’ kepadaku.”

Muttafaq ‘alaih.

Bahkan dalam riwayat disebutkan beliau tidak berkata:

“Mengapa kamu melakukan ini?”

atau:

“Mengapa kamu tidak melakukan itu?”

Bayangkan kalau prinsip ini dibawa ke rumah kita.

Bukan berarti anak tidak boleh ditegur.

Bukan berarti anak tidak perlu disiplin.

Tetapi ada perbedaan besar antara:

mendidik anak

dan

melampiaskan emosi kepada anak.

—

*6. Rasulullah ﷺ Mencium Anak-anak*

Suatu ketika Rasulullah ﷺ mencium Hasan bin ‘Ali رضي الله عنهما.

Al-Aqra‘ bin Habis melihatnya lalu mengatakan bahwa ia mempunyai sepuluh anak tetapi tidak pernah mencium seorang pun dari mereka.

Apa jawaban Rasulullah ﷺ?

«مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ

“Barang siapa tidak menyayangi, tidak akan disayangi.”

Muttafaq ‘alaih.»

Luar biasa.

Rasulullah ﷺ sedang mengubah budaya.

Kasih sayang tidak membuat orang tua kehilangan wibawa.

Kelembutan bukan kelemahan.

—

*7. Rasulullah ﷺ Bahkan Memendekkan Shalat karena Tangisan Bayi*

Rasulullah ﷺ pernah menjelaskan bahwa beliau memasuki shalat dengan keinginan memanjangkannya.

Tetapi kemudian beliau mendengar tangisan seorang bayi.

Maka beliau memendekkan shalat karena mengetahui betapa berat kegelisahan ibunya ketika mendengar anaknya menangis.

Bayangkan kehalusan perasaan Rasulullah ﷺ.

Tangisan bayi saja beliau perhatikan.

Kegelisahan seorang ibu saja beliau pertimbangkan.

Maka bagaimana mungkin kita mengaku mengikuti Rasulullah ﷺ tetapi tidak peduli ketika hati orang-orang di rumah kita menangis?

—

*8. Rasulullah ﷺ dan Fatimah: Anak yang Sudah Dewasa Tetap Anak*

Ada satu teladan yang indah dalam hubungan Rasulullah ﷺ dengan Fatimah رضي الله عنها.

‘Aisyah رضي الله عنها menceritakan bahwa ketika Fatimah datang menemui Rasulullah ﷺ, beliau menyambutnya dengan hangat, mempersilahkannya duduk dekat beliau, dan menunjukkan penghormatan kepadanya.

Perhatikan:

Fatimah sudah dewasa.

Sudah menikah.

Sudah mempunyai keluarga.

Tetapi kasih sayang ayahnya tidak berhenti karena anaknya sudah besar.

Ini penting.

Kadang kita sangat lembut ketika anak berusia lima tahun.

Tetapi ketika anak berusia 25, 35 atau 45 tahun kita berpikir:

“Dia sudah besar.”

Benar, tubuhnya sudah besar.

Tetapi di hadapan ayah dan ibunya, ada bagian dari dirinya yang tetap menjadi anak.

Dan perkataan orang tua tetap mempunyai pengaruh yang sangat dalam.

—

*9. Jangan Membandingkan Anak*

Setiap anak mempunyai perjalanan yang berbeda.

Ada yang cepat menikah.

Ada yang lambat.

Ada yang cepat berhasil dalam pekerjaan.

Ada yang masih mencari jalan.

Ada yang rezekinya datang melalui pendidikan.

Ada melalui perdagangan.

Ada melalui keluarga.

Ada yang jalannya lurus.

Ada yang berliku-liku dahulu.

Jangan menjadikan kehidupan anak orang lain sebagai alat untuk menyakiti anak kita.

“Lihat anak si fulan….”

“Saudaramu saja bisa….”

“Kenapa kamu tidak seperti dia?”

Allah tidak menciptakan semua manusia dengan perjalanan yang sama.

Tugas orang tua bukan membuat anak menjadi salinan anak orang lain.

Tugas kita membantu anak menemukan jalan terbaik yang Allah bukakan baginya.

—

*10. Nasihat Luqman: Bahkan Teguran Disampaikan dengan “Yā Bunayya”*

Al-Qur’an mengabadikan nasihat Luqman kepada anaknya.

Menarik sekali, ketika memberikan nasihat yang sangat serius tentang tauhid, ibadah, akhlak dan kehidupan, Al-Qur’an mengabadikan panggilannya:

«يَا بُنَيَّ

“Wahai anakku tersayang….”»

Bukan sekadar:

يا ابني

tetapi bentuk taṣghīr penuh kelembutan:

يَا بُنَيَّ

Nasihatnya berat.

Tetapi bahasanya lembut.

Ini pelajaran pendidikan yang luar biasa:

«Kebenaran tidak harus disampaikan dengan kekasaran agar menjadi tegas.»

Kita bisa tegas tanpa menghina.

Kita bisa mendisiplinkan tanpa merendahkan.

Kita bisa tidak setuju tanpa mencaci.

Kita bisa marah tanpa mendoakan keburukan.

—

*11. Jangan Menganggap Semua Kesalahan Anak sebagai Pembangkangan*

Kadang anak sudah berusaha.

Tetapi hasilnya belum seperti yang kita harapkan.

Bedakan:

anak yang sengaja melawan

dengan

anak yang sudah berusaha tetapi belum berhasil.

Kalau setiap kegagalan dianggap sebagai pembangkangan, anak akhirnya hidup dalam ketakutan:

“Kalau aku tidak berhasil, berarti aku tidak layak dicintai.”

Padahal rumah seharusnya mengajarkan:

«“Kamu tetap anak kami. Kalau gagal, kita perbaiki bersama.”»

Bukankah kita sendiri hidup karena Allah berkali-kali memberi kesempatan kepada kita setelah kesalahan?

—

*12. Kelembutan Tidak Menghilangkan Wibawa*

Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ

“Kelembutan tidaklah terdapat pada sesuatu kecuali akan menghiasinya, dan tidak dicabut dari sesuatu kecuali akan membuatnya buruk.”

HR. Muslim.»

Ada orang tua yang khawatir:

“Kalau terlalu lembut nanti anak kurang ajar.”

Tidak.

Rifq bukan berarti tidak mempunyai batas.

Rifq adalah cara menyampaikan batas dengan tetap menjaga martabat manusia.

Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling lembut.

Apakah beliau kehilangan wibawa?

Justru tidak.

Para sahabat sangat mencintai sekaligus menghormati beliau.

—

*13. Jangan Wariskan Luka yang Dahulu Kita Terima*

Ada satu hal yang perlu kita renungkan.

Mungkin dahulu kita juga dibesarkan dengan keras.

Mungkin ayah kita dahulu keras.

Mungkin ibu kita dahulu sering membentak.

Lalu tanpa sadar kita mengatakan:

“Saya dulu juga begitu, toh saya baik-baik saja.”

Tetapi pertanyaannya bukan hanya:

“Apakah saya bertahan?”

Pertanyaannya:

“Apakah pola yang kurang baik harus saya wariskan?”

Kalau dahulu kita pernah terluka, kita mempunyai dua pilihan.

Mewariskan luka itu.

Atau:

menghentikannya pada diri kita.

Katakan:

«“Cukup sampai saya. Anak saya tidak harus merasakan luka yang sama.”»

Itu juga bentuk jihad melawan diri sendiri.

—

*14. Orang Tua Juga Boleh Meminta Maaf*

Ini mungkin bagian yang paling sulit.

Ada orang tua yang merasa:

“Masa orang tua minta maaf kepada anak?”

Mengapa tidak?

Meminta maaf tidak menurunkan kedudukan orang tua.

Justru anak belajar sesuatu yang sangat besar:

bahwa manusia mulia bukan manusia yang tidak pernah salah, tetapi manusia yang berani memperbaiki kesalahannya.

Kalau suatu hari kita sadar bahwa perkataan kita terlalu keras, datangi anak.

Tidak perlu pidato panjang.

Katakan:

«“Nak, tadi Ibu/Bapak terlalu keras. Maafkan.”»

Bayangkan apa yang dipelajari anak.

Kelak ketika ia menjadi orang tua, ia akan tahu bagaimana memperbaiki hubungan.

—

*15. Ganti Kata-Kata Buruk dengan Doa*

Kalau anak belum seperti yang kita harapkan, jangan mengatakan:

“Dasar kamu….”

Tetapi:

«“Ya Allah, bimbing anakku.”»

Kalau anak sedang kesulitan:

«“Ya Allah, mudahkan jalannya.”»

Kalau anak melakukan kesalahan:

«“Ya Allah, perbaiki akhlaknya dan perbaiki juga caraku mendidiknya.”»

Perhatikan doa terakhir.

Bukan hanya:

“Ya Allah, perbaiki anakku.”

Tetapi:

“Ya Allah, perbaiki aku dalam mendidik anakku.”

Sebab mungkin bukan hanya anak yang perlu berubah.

Kita pun mungkin perlu berubah.

—

*16. Jangan Menunggu Anak Pergi untuk Mengatakan Kita Mencintainya*

Berapa banyak orang tua yang ketika anaknya sakit menangis.

Ketika anaknya pergi jauh, rindu.

Ketika anaknya meninggal, baru mengatakan:

“Dia sebenarnya anak yang baik.”

Mengapa menunggu?

Kalau anak kita baik, katakan sekarang.

Kalau kita bangga kepadanya, katakan sekarang.

Kalau kita mencintainya, katakan sekarang.

Kalau kita ingin mendoakannya, doakan sekarang.

Karena kita tidak tahu siapa yang akan dipanggil Allah terlebih dahulu.

—

*17. Kepada Anak: Jangan Membalas Luka dengan Kedurhakaan*

Dan pembahasan ini harus adil.

Kepada anak-anak yang mungkin pernah terluka oleh perkataan orang tua:

jangan jadikan kesalahan orang tua sebagai alasan untuk durhaka.

Allah tetap berfirman:

«وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

“Pergaulilah keduanya di dunia dengan cara yang baik.”

(QS. Luqman: 15)»

Ayat ini sangat luar biasa karena konteksnya bahkan mengenai orang tua yang mengajak kepada sesuatu yang tidak boleh ditaati.

Artinya:

tidak taat dalam kemaksiatan tidak berarti kehilangan akhlak.

Kita boleh menjaga batas.

Kita boleh menghindari pertengkaran.

Kita boleh meminta bantuan orang yang bijaksana.

Tetapi sebisa mungkin jangan membalas perkataan kasar dengan perkataan kasar.

Jangan membalas sumpah serapah dengan sumpah serapah.

Kita berusaha menghentikan mata rantai luka.

—

*18. Rumah Bukan Tempat Mencari Siapa yang Menang*

Dalam keluarga, kadang kita terlalu sibuk menentukan:

siapa yang benar?

Padahal pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Bagaimana supaya hati kita kembali dekat?”

Kalau orang tua menang dalam pertengkaran tetapi kehilangan hati anaknya, apakah itu kemenangan?

Kalau anak berhasil membuktikan orang tuanya salah tetapi membuat hubungan semakin hancur, apakah itu kemenangan?

Keluarga bukan pengadilan.

Keluarga adalah tempat kita belajar:

rahmah, sabar, memaafkan dan memperbaiki diri.

—

*19. Muhasabah untuk Para Orang Tua*

Malam ini jangan pulang dengan memikirkan:

“Wah, ini cocok untuk si fulan.”

Jangan.

Mari kita tanyakan kepada diri sendiri.

Apakah anak-anak merasa aman berbicara kepada saya?

Ketika mereka gagal, apakah mereka berani pulang kepada saya?

Apakah saya lebih sering mendoakan atau mengutuk?

Apakah saya lebih sering menyebut kekurangan atau kebaikannya?

Kapan terakhir kali saya memuji anak saya?

Kapan terakhir kali saya memeluknya?

Dan satu pertanyaan yang paling dalam:

Kalau suatu hari saya sudah tidak ada, kalimat apa dari saya yang paling banyak diingat anak saya?

Apakah:

“Kamu selalu mengecewakan!”

atau:

«“Nak, apa pun yang terjadi, Ibu/Bapak selalu mendoakan kebaikanmu.”»

—

*20. Jangan Sampai Anak Mencari Rumah di Tempat Lain*

Rumah yang baik bukan rumah tanpa masalah.

Rumah yang baik adalah rumah tempat orang boleh melakukan kesalahan lalu memperbaikinya.

Rumah tempat nasihat tetap ada.

Disiplin tetap ada.

Aturan tetap ada.

Tetapi:

penghinaan tidak ada.

caci maki tidak ada.

sumpah serapah tidak ada.

doa buruk kepada anak tidak ada.

Yang ada adalah:

«مَوَدَّةٌ وَرَحْمَةٌ»

cinta dan kasih sayang.

Jangan sampai anak mempunyai rumah secara fisik, tetapi secara emosional ia terus mencari “rumah” di tempat lain.

—

*PENUTUP: Jadilah Rumah yang Dirindukan Anak*

Hadirin yang dirahmati Allah,

Anak-anak kita mungkin tidak akan selalu mengingat berapa mahal pakaian yang kita belikan.

Mereka mungkin lupa berapa banyak makanan yang kita sediakan.

Mereka mungkin lupa berapa besar rumah tempat mereka dibesarkan.

Tetapi mereka akan lama mengingat:

bagaimana perasaan mereka ketika berada bersama kita.

Maka mulai hari ini, mari mengubah sesuatu yang sederhana.

Kurangi bentakan.

Kurangi membandingkan.

Kurangi kata-kata yang merendahkan.

Jangan mendoakan keburukan.

Perbanyak doa.

Perbanyak penghargaan.

Perbanyak sentuhan kasih sayang.

Dan kalau kita pernah salah:

jangan gengsi memperbaikinya.

Sebab pada akhirnya anak bukan milik kita.

Mereka adalah amanah Allah yang untuk sementara ditempatkan di rumah kita.

Suatu hari Allah akan bertanya bagaimana kita menjaganya.

Semoga rumah kita menjadi rumah yang ketika anak-anak sudah dewasa, mereka masih ingin kembali.

Bukan karena rumahnya besar.

Bukan karena makanannya enak.

Tetapi karena mereka tahu:

“Di sana ada orang yang mencintaiku.”

اللهم أصلح لنا ذرياتنا.

اللهم بارك لنا في أولادنا.

اللهم اجعل بيوتنا بيوت السكينة والمودة والرحمة.

اللهم طهّر ألسنتنا من كل كلمة تؤذي قلوب أهلنا وأولادنا.

Ya Allah, jika pernah ada perkataan kami yang melukai hati anak-anak kami, ampunilah kami.

Jika hati mereka pernah terluka karena kami, sembuhkanlah.

Ajarkan kami mendidik tanpa merendahkan.

Menegur tanpa menyakiti.

Tegas tanpa berlaku kasar.

Dan mencintai mereka sebagaimana Engkau ridai.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

آمين يا رب العالمين.

وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم.

 

والله أعلم بالصواب.

#Mahadaly #zawiyahjakarta

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *