TIGA BENTUK UJIAN HARTA DALAM KELUARGA

TIGA BENTUK UJIAN HARTA DALAM KELUARGA

*TIGA BENTUK UJIAN HARTA DALAM KELUARGA*

*Harta bukan sekadar tentang berapa banyak yang kita miliki, tetapi bagaimana kita mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah.*

Dalam kehidupan keluarga, harta sering menjadi sumber kebahagiaan. Namun, tidak sedikit keluarga yang justru kehilangan ketenangan, persaudaraan, bahkan kasih sayang karena persoalan harta.

Islam mengajarkan bahwa harta adalah amanah sekaligus ujian.

Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu).” (QS. At-Taghābun [64]: 15)

Ada tiga bentuk ujian harta yang sering hadir dalam kehidupan keluarga.

1. Ketika Mencari Harta: Ujian Kejujuran

Tidak semua rezeki yang banyak membawa keberkahan.

Ada orang bekerja keras tetapi tetap menjaga kehalalan. Ada pula yang menghalalkan segala cara demi memenuhi keinginan keluarga.

Padahal, nafkah yang halal bukan hanya mengenyangkan perut anak-anak, tetapi juga menjadi bagian dari pendidikan akhlak mereka.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا

“Sesungguhnya Allah itu Mahabaik dan tidak menerima kecuali yang baik.” (HR. Muslim)

Jangan sampai kita menghadiahkan kemewahan kepada keluarga, tetapi melupakan keberkahan.

2. Ketika Memiliki Harta: Ujian Syukur

Setelah Allah memberikan kecukupan, datang ujian berikutnya.

Apakah kita semakin bersyukur atau semakin sulit merasa cukup?

Apakah harta digunakan untuk menolong sesama, menunaikan zakat, dan membahagiakan keluarga? Ataukah justru melahirkan kesombongan dan persaingan?

Allah berfirman:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrāhīm [14]: 7)

Rumah yang berkah bukan selalu rumah yang paling mewah, melainkan rumah yang penghuninya pandai bersyukur.

3. Ketika Membagikan Harta: Ujian Keadilan

Inilah ujian yang terkadang paling berat.

Ketika harta harus dibagikan, terutama dalam urusan warisan, manusia diuji antara keinginan pribadi dan ketaatan kepada ketentuan Allah.

Ada saudara yang dahulu begitu dekat, kemudian saling menjauh karena merasa bagian hartanya kurang.

Padahal Allah telah mengingatkan setelah menjelaskan ketentuan waris:

تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ

“Itulah batas-batas (ketentuan) Allah.” (QS. An-Nisā’ [4]: 13)

Hak orang lain tidak boleh dikurangi hanya karena kita merasa lebih membutuhkan atau lebih berjasa.

Jangan sampai harta peninggalan orang tua justru menjadi sebab terputusnya silaturahmi anak-anaknya.

Renungan Jejak Jiwa

Pada akhirnya, harta menguji kita dalam tiga keadaan:

– Saat mencarinya: apakah kita jujur?
– Saat memilikinya: apakah kita bersyukur?
– Saat membagikannya: apakah kita berlaku adil?

Jangan hanya mewariskan rumah, tanah, dan tabungan kepada anak-anak kita.

Wariskan pula kejujuran, rasa cukup, keadilan, dan kasih sayang.

Sebab harta bisa habis dibagi, tetapi keberkahan dan persaudaraan seharusnya tetap terjaga.

Ya Allah, berkahilah rezeki keluarga kami. Jadikan harta sebagai jalan ketaatan, bukan penyebab permusuhan. Āmīn.

—

🌿 JEJAK JIWA
Merawat Hati, Menebar Hikmah

Ma’had Aly Zawiyah Jakarta
Menghidupkan Tradisi Keilmuan Islam, Menebarkan Dakwah yang Mencerahkan.

========

Ma’had Aly Zawiyah Jakarta kembali membuka Penerimaan Mahasantri Baru untuk Program Non-Formal:
S1 Ilmu Fiqih – Durasi 4 Tahun
S2 Ilmu Fiqih & Ushul Fiqih – Durasi 2 Tahun
Kuliah setiap Sabtu & Ahad
Pukul 07.15 – 15.30 WIB
Jakarta Timur (offline & full interaksi)
—
Lokasi: Gedung Yayasan Terpadu Shibghatullah
Jl. Budi Harapan No. 40, Cipinang Melayu, Jakarta Timur
Kontak: Ci Mia – +62 812-1037-5150

#JejakJiwa #ZawiyahJakarta #DakwahKeluarga #HartaDanAmanah #FiqihWaris #KeluargaBerkah

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *